
Setelah tiga kali sholat istiqarroh sepertinya Ulya sudah mulai mengetahui jawaban apa yang akan diambilnya, Ulya saat ini duduk di rumah keluarga bersama dengan Abah dan uminya.
Dengan mengucap bismillah Ulya menjawab pertanyaan Abah tentang jawaban Ulya untuk Firdaus
Dan dengan hati yang mantab dan bahasa santun Ulya mengatakan kalau Ulya tidak bisa menerima ajakan Firdaus untuk ta'aruf dengan dirinya.
"Hufft.. " Abah menghela nafas dan berusaha legowo menerima keputusan Ulya, karena seperti yang Abah sudah katakan sebelumnya, kalau Abah tidak akan memaksa kehendak Abah dan akan menghormati segala keputusan yang Ulya ambil. Begitu juga dengan Umi. Umi yang sebenarnya sangat berharap dengan hubungan Ulya dan Firdaus kini harus di kuburnya. karena yang menjalani tidak berkenan untuk menikah dengan Firdaus, laki-laki yang begitu didambakan Umi dan Abah
"Maafkan Ulya Abah, Umi. Ulya mengecewakan Abah dan Umi. Tapi setelah Ulya tiga kali melakukan sholat istiqarroh seperti yang Abah dan Umi sarankan, hati Ulya semakin tidak yakin dengan mas Firdaus. Ulya akui mas Firdaus memang laki-laki yang sangat baik, tapi Ulya tidak ada keyakinan dengan mas Firdaus, entah kenapa hati Ulya ragu Umi" jelas Ulya
"Baiklah nduk, Abah tidak memaksa kamu untuk menerima Firdaus. karena kamu sudah mendapatkan jawaban. Abah akan mengatakan pada nak Fir tentang jawaban kamu." ucap Abah berusaha legowo
"Kalau memang itu jawaban kamu Umi juga mendukung kamu Ulya, meski Umi akui Umi memang menyukai nak Fir dan berharap kamu sama nak Fir, tapi kalau kamu sudah mendapatkan jawaban. Baiklah Umi do'akan semoga ini jawaban yang benar, dan semoga anak Umi segera mendapatkan jodoh yang terbaik dari Alloh, yang bisa menjadi imam buat Ulya sampai diakhirat kelak" Umi tersenyum karena tidak ingin Ulya tau kalau Umi sebenarnya agak merasa sedih lantaran Ulya tidak berjodoh dengan Firdaus.
"Em.. Abah, Mi. Sebenarnya, sebenarnya _" ucap Ulya terputus ragu. Takut apa yang akan dikatakan akan membuat orang tuanya semakin kecewa dengan pilihan Ulya. Tapi Ulya juga tidak mungkin menggantung Niko tanpa kepastian
"Ada apa nduk, sepertinya masih ada yang ingin kamu sampaikan? katakanlah Umi dan Abah akan mendengarkan" ucap Umi yang bisa menerka kalau anaknya ingin menyampaikan sesuatu tapi sepertinya takut untuk menyampaikan
"Katakan saja Ulya, kalau memang masih ada yang ingin kamu sampaikan" sahut Abah menyakinkan putrinya
"Be-begini bah, Umi. Se-sebenarnya ada seseorang yang ingin megkhitbah Ulya dalam waktu dekat, dan setelah Ulya istiqarroh hati Ulya merasa mantab dan yakin dengan laki-laki ini" ucap Ulya sedikit menahan ketakutan. Bagaimana Ulya tidak takut, setelah menolak Firdaus yang jelas-jelas baik dalam segi apapun tiba-tiba harus mengumumkan kalau Ulya ingin menerima pinangan dari laki-laki yang jauh dari dibawah Firdaus dalam segi apapun dipandangan orang-orang.
"Mengkhitbah? siapa? kamu tidak salah? Tiba-tiba bilang ada yang mau langsung mengkhitbah? apa kamu sudah mengetahui orangnya seperti apa? kenapa bisa langsung yakin?" cerca Abah yang syok dengan pernyataan Ulya tiba-tiba
"I-iya bah, Ulya sudah sholat istiqarroh dan Ulya yakin kalau dia jodoh yang Alloh kirim untuk Ulya" jawab Ulya dengan tangan gemetar dan jantung seakan ingin keluar dari tempatnya lantaran berdetak dengan kencang.
"Kalau begitu siapa orang itu?" tanya Umi menatap Ulya penasaran
"Di-dia, dia mas Niko mi" ucap Ulya sambil berdoa didalam hati, semoga Umi dan Abah bisa menerima keputusan Ulya untuk memilih Niko sebagai suaminya.
__ADS_1
"Niko?" Abah tercengang dan membulatkan matanya karena syok
Tapi tak lama kemudian Abah terdengar gelak tawa yang membuat Ulya dan Umi kebingungan dengan sikap Abah, dari ekspresi marah tiba-tiba berubah jadi tertawa
"Kenapa Abah tertawa seperti itu? apa saking marahnya Abah sampai melampiaskannya dengan tertawa seperti itu?" batin Ulya menerka-nerka karena tidak mengerti dengan sikap Abah yang tiba-tiba tertawa ditengah obrolan serius
"Abah ini kenapa?" tanya Umi yang juga heran. Tidak seperti biasanya laki-laki yang sudah paruh baya ini terlihat begitu seneng. tapi Umi juga ragu kalau Abah senang dengan keputusan Ulya untuk menerima pinangan dari Niko. Yang jauh dari kriteria Abah.
"Kenapa Umi bertanya Abah kenapa? tentu saja Abah senang. sebentar lagi anak perempuan Abah akan di khitbah orang, jadi tugas Abah sebagai seorang ayah akan selesai karena sudah ada yang akan bertanggungjawab terhadap Ulya" jawab Abah tersenyum
Dan ini diluar dugaan Ulya, kalau Abahnya akan dengan mudah mengatakan itu, Ulya bahkan nyaris tak percaya Abah yang biasanya kaku bisa menerima laki-laki seperti Niko untuk menjadi pendamping hidupnya.
"Abah serius? Abah bilang senang? Abah tidak marah?" tanya Ulya memberanikan diri dengan tangan gemetar
Abah memegang tangan Ulya dan memperlihatkan senyum yang tulus untuk Ulya.
"Abah" gumam Ulya memeluk Abah dan tanpa disadari cair bening bakal kristal sudah menetes disudut matanya.
"Maafkan Abah ya nduk, sikap Abah yang selama ini selalu keras membuatmu takut untuk bercerita dengan Abah. Padahal sebagai seorang Ayah, seharusnya Abah ini menjadi tempat ternyaman untuk putrinya berkeluh kesah" ucap Abah mengusap kepala Ulya yang tertutup dengan jilbab.
"Abah, Abah jangan minta maaf. Abah adalah orang tua terbaik. Abah dan Umi adalah orang tua terbaik didunia ini. Ulya sangat bersyukur terlahir dikeluarga ini." ucap Ulya dengan air mata kebahagiaan yang membasahi pipinya.
Tanpa terasa air mata Umi pun jatuh membasahi pipi, Umi begitu bahagia dengan kedekatan Ulya dan Abah saat ini.
"Tapi kenapa Abah langsung senang saat tau mas Niko akan mengkhitbah Ulya? padahal Abah tau masa lalu mas Niko seperti apa?" tanya Ulya penasaran Abahnya bisa dengan mudah menerima Niko
*Flashback*
"Assalamu'alaikum Abah" ucap Niko bertemu Abah dimasjid setelah sholat dhuhur, Niko yang saat itu sengaja menunggu Abah keluar dari masjid setelah selesai sholat dhuhur, karena Abah yang biasanya melakukan sholat sunah empat rokaat sesudah sholat dhuhur.
__ADS_1
Membuat Niko lumayan lama menunggu Abah
"Walaikumsalam nak Niko, ini nak Niko sengaja menunggu Abah disini?" tanya Abah karena kebanyakan para jamaah langsung pulang setelah sholat, hanya ada beberapa yang masih melakukan sholat sunah empat rokaat sebelum dan sesudah dhuhur. padahal pahalanya sangat luas bisa jika mampu beristiqomah melakukan sholat sunah tersebut.
"Barangsiapa yang mengerjakan dengan rutin empat rakaat sebelum dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, maka Allah mengharamkan api neraka baginya," (HR. At Tirmidzi dan Ahmad).
"Iya bah, Niko disini sebenarnya sengaja menunggu Abah karena ada yang ingin Niko bicarain dengan Abah" ucap Niko
"Ada apa nak Niko?" tanya Abah
"Abah, sebelumnya tolong maafkan Niko atas kelancaran Niko. Tapi Niko tidak mau menyesal. Apapun jawaban dan tanggapan dari Abah InsyaAlloh Niko siap dan bisa menerima. karena itu Niko memberanikan diri untuk mengatakan niatan Niko yang ingin mengkhitbah Ulya Abah, jujur Niko ingin menjadikan Ulya sebagai istri Niko. Niko tau, Abah pasti menganggap Niko ini laki-laki yang tidak tau diri, mengharapkan wanita sholihah seperti Ulya untuk menjadi istri Niko. Niko tau, Niko laki-laki yang jauh dari kata pantas untuk Ulya. Niko mungkin belum pandai membaca Al-Quran, Niko juga belum memahami sepenuhnya tentang ajaran agama yang benar. Tapi Niko berjanji. Niko akan belajar agar Niko pantas menjadi imam untuk Ulya. Niko janji akan memantaskan diri untuk Ulya." Niko dengan tekadnya untuk bisa menjadi lebih baik dan berharap bisa mendapatkan pendamping wanita sholihah yang bisa mengingtkan Niko disaat Niko kehilangan arah.
"Begini nak Niko, jujur Abah memang sedikit terkejut dengan maksud dan tujuan nak Niko kesini. Tapi jujur Abah katakan, kalau saat ini Abah tidak bisa memberikan jawaban apa-apa, saat ini ada laki-laki yang sudah mengutarakan niatnya untuk mengajak Ulya ta'aruf. Dan Abah pun saat ini sedang menunggu jawaban yang akan diberikan Ulya saat Ulya sholat istiqarroh.
"Niko faham Abah, sebenarnya Ulya juga sudah menyampaikan hal itu pada Niko. hanya saja Niko kesini ingin meminta restu dari Abah. Apapun nanti jawaban dari Abah dan Ulya. Niko akan menerimanya. Niko tau, kemungkinan Niko untuk diterima sangatlah kecil, mungkin bisa dibilang Niko ini tidak tau diri mengingat lawan Niko jauh lebih baik dari segi apapun ketimbang Niko. Tapi Niko tidak ingin menyesalinya suatu saat nanti karena Niko tidak berusaha. apapun jawaban yang Niko terima setidaknya Niko sudah berusaha dan berjuang" kali ini Niko sudah memberanikan diri untuk mengatakan secara langsung apa yang menjadi keinginannya didepan orang tua wanita yang disukainya
"Nak Niko, Abah tau saat ini kamu sedang berproses untuk berhijrah. Dan jujur Abah akui, Abah senang melihat tekad nak Niko untuk belajar berhijrah membenahi diri, dan sejauh yang Abah lihat sudah banyak kemajuan pada diri nak Niko. Abah juga selalu berdoa semoga nak Niko bisa selalu beristiqomah. Termasuk nanti saat Ulya sudah memberi keputusan. Apapun keputusan yang Ulya nanti sampaikan, Abah berharap tidak pernah mempengaruhi niat nak Niko untuk terus belajar dan berjuang dijalan Alloh." Abah menyampaikan pesan untuk Niko "
"Pada dasarnya dengan siapapun nanti Ulya berjodoh, Abah tidak akan menghalangi. entah itu dengan Firdaus atau dengan nak Niko pun Abah akan merestui, selama laki-laki itu mau berusaha menjadi imam yang bisa membawa Ulya berjalan dijalan Alloh dan bisa membimbing Ulya menuju surga Alloh" ucap Abah lagi
"InsyaAlloh apapun keputusan Ulya nantinya. Niko akan hargai itu Abah dan InsyaAlloh apapun yang menjadi keputusan Ulya tidak akan menyurutkan niat Niko untuk berhijrah. Niko hijrah hanya demi Alloh Karena Niko sadar Niko ini bukan siapa-siapa tanpa Alloh, Niko ingin selalu melibatkan Alloh disetiap apa yang Niko lakukan. begitu juga kenapa Niko ingin mengkhitbah Ulya, karena Niko ingin menyempurnakan sebagian agama dengan menikah, dan kenapa Ulya? karena Niko yakin Ulya adalah wanita sholihah yang bisa menjadi madrasah untuk anak-anak Niko kelak. karena seorang ibu adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya. meskipun Niko tau, Niko bukan laki-laki yang pantas untuk Ulya. Tapi Niko berjanji Niko akan belajar menjadi laki-laki yang pantas untuk menjadi imam bagi Ulya jika memang Alloh mentakdirkan kita bersama." Niko berusaha menyakinkan Abah
perkataan Niko sebenarnya mampu membuat Abah terpukau tapi Abah memutuskan semua pada Ulya, siapapun yang akan dipilih Ulya asalkan laki-laki itu mau berusaha menjadi imam dan mau berusaha belajar tentang akidah islam yang benar. Abah pasti akan merestuinya.
Bukanlah Alloh lebih menyukai pendosa yang bertaubat dari pada orang yang mengaku beriman tapi selalu merasa dirinya paling benar?
^ Happy Reading ^
Jangan lupa, like, coment, vote dan kasih poin ya. kesempatan. sekali lagi thor umumkan kalau thor akan mengadakan giveaway dan kalian berkesempatan mendapatkan pulsa+parfum dari thor, jangan lupa juga follow ya, karena itu salah satu syarat pemenang. terimakasih🙏
__ADS_1