Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah

Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah
MERINDUKAN


__ADS_3

Danu yang sedari tadi tertidur masih menggunakan setelah kemejanya merasa kepalanya penat. kini terbangun dan melihat jam ditangannya. waktu menunjukkan pukul 19.15 WIB, tapi Aisyah istrinya belum juga terlihat. dilihatnya keluar jendela hujan tampak turun begitu deras mengguyur bumi.


Dengan badan sempoyongan Danu mencoba mencari Aisyah dilantai bawah. namun lagi-lagi yang dicarinya tidak ada. Danu melihat dapur cuma ada bik Siti yang sedang menyiapkan makan malam.


"Bibik masak sendiri?" tanya Danu


"Iya Den Danu. bibik sendiri. non Aisyah kan ada di rumah mertua Den Danu" ucap bik Siti


"Oow jadi Aisyah belum pulang" Danu tambah gelisah melihat hujan diluar sangat deras


"Danu, ada apa kenapa gelisah seperti itu, ayo sini kita makan malam duluan saja." ucap bu Retno


"Tapi kan belum lengkap orangnya ma?"


"Belum lengkap? maksud kamu, belum ada Aisyah?" bu Retno senyum melirik pak Herman


"Ya kan biasanya kita makan malam kalau semua sudah disini" jawab Danu berusaha menutupi kegelisahannya


"Mama lupa memberi tau kamu, tadi Aisyah telpon mama, suruh menyampaikan ke kamu, katanya malam ini dia tidak pulang." ucap bu Retno


"Aisyah tidak pulang?" Danu merasa kecewa


"Iya, dia bilang karena hujan dia tidak bisa pulang jadi malam ini Aisyah tidur dirumah Abahnya"


"Oow" kata yang keluar dari mulut Danu meskipun hatinya kecewa


Danu yang sedang tidak enek badan, tidak berselera makan. terlebih Danu terbiasa menyantap makanan yang dibuat Aisyah.


"Kenapa makannya sedikit sekali?" tanya bu Retno melihat Danu menyisakan banyak makanan di piringnya


"Tidak apa-apa ma, Danu kembali kekamar dulu" ucap Danu meninggalkan meja makan.


"Danu sepertinya sudah mulai menyukai Aisyah pa, lihat saja Aisyah tidak dirumah dia kayak gak ada semangat gitu" ucap Bu Retno


"Syukurlah kalau seperti itu ma, berarti perjodohan yang kita lakukan berhasil. semoga Aisyah bisa membimbing anak kita kembali kejalan yang benar" Ucap pak Herman


Danu sebenarnya bukan laki-laki yang nakal, hanya saja terkadang suka lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang muslim. seperti meninggalkan sholat dan lebih suka nongkrong dengan teman-teman dibandingkan menghabiskan waktu dengan keluarga.


Malam ini Danu tak bisa memejamkan matanya, bayangan Aisyah selalu muncul. badannya menggigil, kepadanya terasa sakit dan sesekali batuk.


Malam ini Danu merasakan kerinduan yang sangat mendalam pada Aisyah. sepertinya sekarang Danu menyadari kalau dirinya mulai menyukai Aisyah. wanita yang jauh berbeda dengan wanita-wanita yang selama ini pernah singgah dihatinya.

__ADS_1


***


Dirumah Abah


"Aisyah apa kamu sudah ijin pada suamimu kalau malam ini kamu menginap disini" tanya Umi Zaroh yang duduk disampingnya


"Sudah umi, tadi Aisyah sudah mengabari kalau Aisyah menginap disini" ucap Aisyah


"Ya sudah kalau seperti itu"


"Abah belum pulang ya mi?" tanya Aisyah melihat sekitar mencari keberadaan Abah


"Iya malam ini Abah mengisi kajian didesa sebelah mungkin pulang nya agak malam" ucap umi Zaroh


"Huft... " Ais menghembuskan nafas


"Ada apa? apa ada yang mau dibicarakan sama Abah?"


"Iya Umi, Ais mau bicara soal kak Ulya"


"Kak Ulya? ada apa dengan kak Ulya?" umi menatap Aisyah


"Kak Ulya, kemarin cerita sama Aisyah tentang rumah tangganya. seperti dugaan Ais sebelumnya, Kak Ulya tidak bahagia berbagi suami umi" ucap Ais menatap umi Zaroh


"Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Alloh tidak akan menyia-nyiakan orang yang berbuat baik." (QS.yusuf : 90)


"Tidaklah seorang muslim terkena penyakit atau penyakit menahun, kecemasan, kesedihan disakiti, kesusahan sampai sebuah duri yang menancap pun Alloh Akan mengampuni sebagian dosa-dosanya." (HR.Bukhori 5642 dan muslim 2573)


"Lalu bagaimana jika suaminya tidak bisa adil dan membuat istrinya menangis Umi?"


"maka termasuk kedalam laki-laki zalim"


"Apa hukum suami yang mendzalimi istrinya mi?" tanya Aisyah


"Haram hukumnya seorang suami yang membuat seorang istri menangis tanpa hak,


hal ini disebutkan dalam Al-quran Surah Al-ahzab:84. ketika suami berbuat zalim terhadap istrinya, dia telah berdosa besar dan tubuhnya tidak lagi diharamkan dari neraka."


Aisyah mengangguk tanda mengerti


"Apapun keputusan kakakmu, umi akan mendukung. umi hanya bisa berdo'a yang terbaik buat kalian." mata umi berkaca-kaca

__ADS_1


"Umi" Aisyah memeluk uminya


"Lalu bagaimana dengan rumah tanggamu sendiri Ais? apa kamu masih belum bisa melupakan laki-laki itu?" tanya umi Zaroh


"Rumah tangga Ais baik-baik saja umi, Aisyah sedang dalam proses untuk bisa mencintai suami Ais umi. dan Ais juga sedang dalam proses melupakan Ilham mi, Ais tau akan berdoa bagi seorang istri yang menyimpan perasaan untuk laki-laki lain."


"Umi tau, Ais akan menjadi istri sholihah" umi Zaroh menatap Ais dan tersenyum


"InsyaAlloh umi. Ais akan menerima jodoh dari Alloh. husnuzon Bilah InsyaAlloh mas Danu memang jodoh yang terbaik buat Ais"


"Umi lega mendengarnya, ya sudah sekarang Ais istirahat saja dulu. jangan menunggu Abah, mungkin tengah malam Abah baru sampai"


"Baik umi, Ais kekamar dulu" ucap Ais berlalu kekamar


Sementara umi Zaroh berdoa untuk kebahagiaan putri-putrinya. sebagai seorang ibu pastinya hatinya ikut sedih mendengar putrinya sedang tidak bahagia tapi umi Zaroh menyadari ini semua ujian untuk Ulya karena Alloh menyayangi Ulya. tidaklah Alloh memberi ujian kepada hambanya kecuali iya menyayangi hambanya dan ingin mengangkat derajatnya.


Selepas subuh, Ais berbincang-bincang dengan Abahnya menceritakan apa yang dialami oleh kakaknya


Istighfar itu lah yang diucapkan Abah berkali-kali mengetahui putrinya sedang tidak bahagia.


Ada guratan kesedihan diwajah Abah. merasa bersalah karena telah menjodohkan Ulya dengan zidan.


"Abah jangan menyalahkan diri sendiri! Ais tau, Abah hanya menginginkan yang terbaik untuk kami. kalau ternyata didalam perjalanan kami mendapatkan ujian itu bukan kesalahan Abah. melainkan Alloh sedang menguji kesabaran kami karena Alloh menyayangi kami."


Abah tersenyum mendengar perkataan putrinya. menyadari putrinya kini sudah jauh lebih bijaksana.


Setelah berbincang-bincang dengan Abah Ais berpamitan pulang.


**


Sampai dikediaman pak Herman, Ais merasa heran melihat suaminya masih tidur dengan menggunakan kemeja yang kemarin.


"Apa semalam mas Danu pulang malam dan tidak sempat ganti baju" batin Aisyah


Ais mendekati suaminya untuk membangunkannya


"Mas, mas Danu. apa mas Danu sudah sholat subuh?" ucap Ais yang mengetahui kebiasaan Danu yang sering meninggalkan sholat kalau tidak diingatkan


Danu tak kunjung menjawab, hingga dengan ragu Aisyah menyentuh tangan Danu dengan jarinya untuk membangunkan Danu.


Aisyah merasa ada yang aneh dan segeralah Aisyah memegang kening Danu

__ADS_1


"Astaghfirullah, kamu demam mas" Aisyah membulatkan matanya


__ADS_2