
Aisyah yang tampak panik mengetahuinya suaminya demam, segera turun ke lantai bawah untuk mencari kotak obat.
"Bik kotak obat dimana ya? apa ada obat penurun panas bik dirumah? tanya Aisyah panik
"Ada Non, itu ada dilaci depan" jawab bik Siti
"Siapa yang sakit Is? kenapa nyari penurun panas? apa kamu sakit?" tanya bu Retno
"Bukan Ais ma, tapi mas Danu badannya panas" ucap Aisyah
"Danu sakit? sejak kapan? semalam sepertinya baik-baik saja" bu Retno kaget
"Tadi saat Aisyah mau bangunin mas Danu buat sholat subuh ternyata badannya panas ma"
Setelah mengambil obat penurun panas, Aisyah dan bu Retno segera kembali ke kamar Danu.
"Mas.. mas Danu, bangun minum obat dulu" dengan ragu-ragu Aisyah membantu Danu bangun. dan ini pertama kalinya Ais menyentuh laki-laki selain Abahnya
"Minum obat dulu ya! tanpa membantah Danu menurut
"Kenapa kamu diam saja Danu, kenapa tidak bilang sama mama kalau kamu sakit" ucap bu Retno
"Ukuk-uhuk.. tidak apa-apa ma, hanya flu saja kok"
"Benar tidak apa-apa? mama panggilkan dokter ya!"
"Tidak usah ma, biar Danu istrahat saja hari ini" ucap Danu kembali tidur dan dengan telaten Aisyah mengkompres kening Danu.
Melihat Aisyah sudah merawat Danu dengan baik, bu Retno tersenyum dan meninggalkan mereka sendiri.
"Kenapa tidak memberitahuku" ucap Danu saat Aisyah hendak berdiri
Aisyah terdiam dan melihat suaminya tidak mengerti
"Memberitahu apa mas?"
"Kenapa malah menghubungi mama bukan aku kalau tidak bisa pulang" ucap Danu lagi
Dan kini Aisyah tersenyum mengerti.
Danu melihat istrinya yang bukan menjawab justru tersenyum
"Bagaimana mungkin Ais menghubungi mas Danu? nomor mas Danu saja Ais tidak punya" jawab Aisyah
"Sini ponsel kamu"
"Kenapa mas" Aisyah mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menatap Danu tak mengerti lagi
Danu segera meraih ponsel Ais dan memencet beberapa tombol kemudian memberikan pada Aisyah
"Sudah aku save no aku, jika ada apa-apa langsung hubungi aku" Danu mengembalikan ponsel Aisyah
Dan Aisyah terkejut membulatkan matanya saat melihat nama Danu disave dengan nama "Suamiku" diponselnya
Danu tidak menanggapi dan kembali menarik selimut menutupi tubuhnya
Dret.. dret... baru hendak tidur kembali Danu dibangunkan dengan panggilan masuk diponselnya.
__ADS_1
"Hallo ada apa?"
"Pak, hari ini ada interview dengan disainer baru. apa bapak mau mewawancarai dan memilih disainer yang baru sendiri pak?" ucap Bu Luna HRD di perusahaan Danu
"Sepertinya saya tidak bisa datang kekantor hari ini, saya sedang tidak enak badan. untuk masalah disainer yang baru saya percayakan saja sama kamu. saya yakin kamu faham disainer seperti apa yang dibutuhkan perusahaan kita" ucap Danu menutup telpon
"Assalamu'alaikum mas" ucap Aisyah melihat Danu
"WalaikumKamu, Kamu mau kemana?" Danu bingung
"Kalau menjawab telpon biasakan Assalamu'alaikum" ucapy Aisyah
"Oow kirain mau pergi"
Aisyah senyum menatap Danu dan pegi melangkah namun baru tiga langsung Danu sudah memanggilnya kembali
"Aisyah"
"Iya mas" Aisyah melihat suaminya
"Jangan kemana-mana, temani aku disini" ucap Danu
"Iya mas, tapi aisyah mau membuatkan mas Danu bubur untuk sarapan" ucap Aisyah senyum
"Ya sudah, tapi jangan lama-lama"
"Iya mas" Aisyah senyum tapi hatinya merasa ada yang aneh dengan suaminya. tidak seperti biasanya Danu meminta Aisyah untuk menemaninya.
"Non, apa tidak capek baru pulang sudah mau masak?" tanya bik Siti
"Tidak bik, Saya mau membuatkan bubur untuk Mas Danu" jawab Aisyah
Selesai memasak Aisyah segera membawakan bubur untuk suaminya
"Mas Danu, Dimakan dulu buburnya"
mendengar suara Aisyah Danu segera duduk
"Dimakan dulu mas buburnya" Aisyah memberikan Danu bubur
"Aku lemes banget rasanya" ucap Danu
"Aisyah suapin mau?"
"Kalau kamu tidak keberatan"
Tanpa menjawab Aisyah duduk disamping Danu dan mulai menyuapi Danu.
Diam-diam Danu mencuri pendang dan memperhatikan Aisyah"
"Ternyata kamu cantik" kata yang keluar dari mulut Danu membuat Aisyah menunduk dan wajahnya seketika memerah
"Kenapa wajah kamu merah?"
"Tidak apa-apa, kalau sudah Ais mau bersih-bersih ke bawah" Aisyah salah tingkah
"Kamu tidak kuliah?"
__ADS_1
"Tidak mas, Ais udah ijin" ucap Ais meninggalkan Danu
Danu yang melihat Ais salah tingkat tersenyum. dan menggaruk-garuk kepalanya tidak menyangka mulutnya akan berkata seperti itu pada Aisyah. Danu sekarang tidak bisa memungkiri perasaan mulai tergerak dengan Aisyah. bahkan merasa kangen kalau jauh dari Aisyah.
"Kenapa perasaanku jadi seperti ini ya, tapi dia benar-benar cantik dan senyumnya bisa manis gitu ya" gumam Danu senyum-senyum sendiri
"Ehem.. " bu Retno berdehem
"Anak mama kenapa senyum-senyum sendiri, kayak orang jatuh cinta saja" goda bu Retno mendekati Danu
"Mama, bikin kaget saja, sejak kapan mama disitu?"
"Sejak kamu bilang , kalau senyum aisyah manis"
"Mama.." Danu malu dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal lagi
"Kalau suka bilang suka, dia kan istri kamu jangan sampai nyesel"
"Apaan sih ma"
"Bagaimana keadaan kamu" Bu Retno menyentuh kening Danu
"Udah mendingan ma" Jawab Danu
"Syukurlah. oya mama sama papa malam ini sepertinya tidak pulang ya. kamu baik-baik dirumah sama Aisyah." ucap bu Retno
"Mama mau kemana?" tanya Danu
"Anak teman mama ada yang menikah, karena tempatnya jauh kemungkinan malam ini mama dan papa menginap di sana"
Danu mengangukan kepalanya tanda mengerti.
Bu Retno dan pak Herman menitipkan Danu pada Aisyah.
Malam ini Danu dan Aisyah hanya berdua saja dirumah .
Aisyah tampak sibuk belajar.
"Ais" panggil Danu
"Iya mas" Ais menatap Danu
"Boleh aku tanya?"
"Boleh, mas Danu mau tanya apa?" Ais menutup bukunya
"Em.. em.. apa kamu masih mencintai laki-laki yang di Madinah itu?" tanya Danu ragu-ragu
"Tidak mas, Aisyah sedang dalam proses menata hati Ais. akan berdosa bagi seorang istri jika menyimpan perasaan untuk laki-laki lain." jawab Aisyah
"Apa menurut kamu pernikahan tanpa cinta seperti kita ini akan berhasil?" tanya Danu
"InsyaAlloh mas, karena pernikahan itu tidak harus didasari cinta tapi harus diniatkan untuk ibadah menyempurnakan separuh agama. pernikahan itu tidak menjamin kepuasan tapi pernikahan itu menjamin keberkahan bagi yang faham jika menikah itu ibadah."
"Apa menurut kamu cinta itu tidak penting dalam suatu pernikahan?" tanya Danu
"Bukannya cinta tidak penting, cinta itu juga penting. tapi lebih penting cinta kita kepada Alloh. jika kita mencintai pasangan kita karena Alloh InsyaAlloh kita akan mendapatkan keberkahan dalam cinta kita terhadap makhluk."
__ADS_1
Danu terdiam dan menatap Aisyah.
"Tidak cinta bukan berarti lampu merah, tidak cinta bukan berarti kita harus menyerah dalam pernikahan kita. tapi kita harus kembali mengingat. untuk apa dan untuk siapa kita menikah? jika semua diniatkan untuk Alloh tidak akan sulit bagi Alloh menumbuhkan cinta diantara kita. karena sesungguhnya Alloh lah Dzat pembalap balik hati."ucap Aisyah lagi