Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah

Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah
CH 118


__ADS_3

"Tentu saja kamu suamiku sayang, tapi bagaimana lagi, saat ini aku masih menjabat CEO diperusahaan Papi. aku harus menyelesaikan tugasku dulu sebelum aku menjadi istri yang baik buat kamu. Tidak mungkin kan aku meninggalkan perusahaan begitu saja? aku harus bertanggungjawab dengan perusahaan" jelas Bela


Bu Santi dan pak Yudha yang juga seorang pengusaha tentu saja dapat memaklumi perkataan Bela.


"Apa yang Bela katakan memang benar Ray, dia tidak bisa begitu saja meninggalkan perusahaan." sahut bu Santi


"Lalu untuk apa Mami dan Papi menikahkan kami, kalau ternyata Mami setujui Bela buat kembali ke Singapura? pernikahan seperti apa yang Mami dan Papi harapan?" tanya Ray


"Tentu saja Mami dan Papi kamu bahagia dengan pernikahan kalian, tapi seperti yang barusan kamu dengar Bela hanya akan menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu sebelum Bela benar-benar menjalankan tugasnya sebagai istri. Kamu tenang saja istrimu aman di Singapura. Mami dan Papi akan menjaganya dengan baik" ucap bu Santi


Ray mendengus kesal denu keputusan yang mereka ambil dan lagi-lagi tanpa memperdulikan perasaan Ray, yang susah payah membuka hati untuk menerima Bela sebagai istrinya.


Dikamar terjadi perdebatan antara Bela dan Ray masih dengan hal yang sama kepergian Bela ke Singapura.


"Apa kamu benar-benar tidak bisa menghargai aku sedikit saja sebagai seorang suami. Sekarang ini kamu tangungjawabku Bel. " teriak Ray


"Ray, please jangan seperti ini. Aku tau kamu orang baik, kamu pasti bisa memahami aku. Beri aku waktu, biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku dulu" pintanya


"Lalu kenapa kamu menyetujui pernikahan kita?" Ray mulai kesal dengan Bela yang masih saja ngotot pergi


"Kamu tau kan, dari awal kita sama-sama tau pernikahan kita ini untuk apa, jadi tolong jangan bahas lagi masalah ini. Okey kamu suamiku dan aku istri kamu, jadi kamu tidak perlu ceramah lagi, aku tau apa yang akan kamu katakan. Tapi perusahaan benar-benar membutuhkan aku saat ini, tolong mengerti itu" jelas Bela


Ray hanya diam dan menyambar kunci mobilnya, hatinya kesal


Brak..


Ray membanting pintu


"Ray, kamu mau kemana?" tanya Bu Santi tapi tak dihiraukan Ray yang sedang dikuasai amarah.


"Lihat putramu Pi, seenak sendiri pergu gitu aja tidak menjawab pertanyaan Mami" gerutu Bu Santi


"Huft.. sebenarnya Papi mengerti dengan kemarahan Ray Mi, suami mana yang tidak marah baru sehari nikah, sudah mau ditinggal pergi" Pak Yudha sebagai laki-laki memahami putranya dan membuang nafas kasar


"Ya gak bisa gitu dong Pi, Ray kan tau istrinya bukan wanita biasa. istrinya itu seorang pimpinan perusahaan. Tentu saja banyak hal yang harus diurusnya" Bu Santi mengerti posisi menantunya. Karena dari awal bu Santi sendiri yang memilih Bela untuk menjadi istri dari anaknya. Agar bisa membuat perusahaan semakin maju dengan menggabungkan dua perusahaan, tanpa bu Santi tau saat ini perusahaan keluarga Bela sedang diambang kebangkrutan dan justru saat ini sedang ingin menjadikan perusahaannya sebagai tumpuan agar bisa bertahan.


Yang ada dipikiran kedua orang tua Ray hanyalah bisnis dan bisnis, seolah perasaan anaknya tidak begitu berarti.


Sementara itu Ray yang sedang kalut mencoba untuk berpikir jernih dan berkali-kali istighfar didalam hatinya. Saat ini dirinya hanya menyusuri jalan mengikuti kata hatinya yang tanpa tujuan.


Hingga tanpa disadari mobilnya berhenti tepat didepan pondok pesantren yang dulu pernah di tinggalinya dan memberikan banyak ilmu yang belum pernah dia ketahui sebelumnya.


Ray masih terdiam didalam mobilnya sambil melihat dari jauh suasana pesantren yang ramai dan suara-suara orang melantunkan ayat Al-Quran yang terdengar begitu menenangkan hati, dan seketika mampu membuat hatinya kembali tenang dan terasa damai.


Tok.. tok..


Abah mengetuk jendela mobil Ray


Ray segera membuka pintu dan turun dari mobil

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Abah" ucap Ray


"Walaikumsalam, Kenapa diam disini ? ayo masuk!" ucap Abah lebih dulu melangkah masuk dalam pesantren


"Abah dari mana?" tanya Ray yang mengekori Abah dibelakang


"Dari kampung sebelah, mengisi kajian rutin dimasjid sana" jawab Abah


"Nak Ray sendiri kenapa ada disini jangan segini?" tanya Abah yang sebenarnya merasa kalau ada sesuatu yang terjadi. Apalagi Abah tau kalau Ray kemarin baru saja menikah dengan wanita pilihan orang tuanya


"Hati Ray sepertinya yang menuntun Ray kesini bah" jawab Ray


Abah melihat Ray dan menaikan alisnya


"Apa Ray mau bercerita dengan Abah? siapa tau bisa mengurangi beban pikiran Ray. Ray tau kan, Abah sudah menganggap kamu, Danu dan Niko anak Abah sendiri"


Tidak bisa Ray pungkiri setiap berbincang dengan Abah menang hatinya selalu merasa nyaman seperti anak yang merindukan ayahnya. Perasaan yang tidak pernah Ray dapatkan dari ayah kandungnya sendiri.


Abah mengajaknya ketaman belakang rumah Abah sambil memberi makan ikan


"Jadi sebenarnya ada apa? bukann seharusnya saat ini kamu sedang berbahagia sebagai pengantin baru?" tanya Abah seraya melempar makanan untuk ikam nila Abah.


"Ray tidak tau pernikahan macam apa yang orang tua Ray rencanakan untuk Ray bah, Baru sehari menikah istri Ray sudah mau kembali ke Singapura untuk mengurus bisnisnya sedangkan orang tua Ray menyetujui begitu saja, tidak ada yang mau mengerti hati Ray seperti apa, karena bagi mereka pernikahan ini hanya bisnis untuk menyatukan kedua perusahaan" jelas Ray dengan mata menerawang


"Astaghfirullah, Ray menjadi kepala rumah tangga itu pertanggungjawaban sampai akhirat. Sebagai suami kamu berhak menegur istri kamu jika istri kamu salah.


Cara mendidik istri juga sudah dicontohkan oleh Aquran dan Nabi Muhammad SAW lewat hadits sahih. “Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya” (QS. An Nisa': 34). Salah satu cara yang dianjurkan mendidik istri agar taat kepada suami dan agama adalah dengan menasihatinya.


Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisaa’: 19)


Jadi saran Abah bersabar Ray, InsyaAlloh ini akan menjadi ladang pahala untukmu.


"Apa menurut Abah, Ray bisa menjadi imam yang bisa membimbing istri Ray dijalan Alloh bah?" tanya Ray


"Berdoalah, memohon pertolongan dan petunjuk dari Alloh, InsyaAlloh Abah yakin Ray bisa melewati ujian ini. Alloh tidak mungkin memberikan ujian melainkan karena menyayangi umatNya. Dan setiap ujian yang Alloh berikan pasti akan ada maksud dan tujuan. Dan semua takdir yang Alloh berikan pasti baik, jadi jangan pernah berpikir buruk tentang takdir yang saat ini kamu jalani, karena semua takdir Alloh pasti itu baik. Hanya saja terkadang manusia yang tidak sabar. Karena itu pesan Abah bersabarlah!"


Abah memberikan wejangan untuk Ray, karena Abah tau Ray orang baik terlepas dari masa lalunya seperti apa. Tapi sekarang Ray sudah bertransformasi menjadi hamba yang taat akan perintah Alloh.


Ray menghela nafas dan mencoba meresapi apa yang Abah katakan.


"Bah, jika hari ini Ray menenangkan diri dulu disini, apakah boleh? tanya Ray


"Kapanpun kamu mau disini silahkan, Abah akan menerima dengan senang hati. Hanya saja seran Abah jangan lama-lama, segerlah pulang ke istri kamu dan cobalah berbicara dengan baik" ucap Abah


"Iya bah, Ray janji hanya malam ini. Besok Ray akan pulang ada berbicara lagi dengan Bela. Karena kalau saat ini Ray pulang dan berbicara dengan Bela, Yang ada kami pasti ribut bah. Karena saat ini kami masih sama-sama emosi, mungkin besok saat kami berdua sudah kembali tenang. Ray akan mencoba berbicara kembali dengan Bela"


"Mungkin ini tidak mudah, karena untuk merubah kebiasaan seseorang itu memang bukan hal yang mudah. Tapi saat nanti kamu bisa mengajak istri kamu kembali ke jalan yang benar, itu semua akan menjadi pahala bagimu. Percayalah takdir Alloh pasti yang terbaik"


"Terimakasih Bah, Ray merasa seperti diperhatikan orang tua Ray sendiri. Sejak kecil hal seperti ini tidak pernah Ray dapatkan dari orang tua Ray. Pernah suatu ketika Ray kecelakaan dan harus dirawat dirumah sakit, Ray pikir saat Ray membuka mata Ray akan melihat Mami dan Papi, tapi ternyata itu hanya mimpi. Karena saat Ray membuka mata ternyata hanya ada asisten rumah tangga kami yang menjaga Ray saat itu. Mami hanya meninggalkan sejumlah uang dalam jumlah besar untuk biaya perawatan rumah sakit. Sejak saat itu Ray benar-benar merasa hidup Ray tidak ada gunanya. Hari-hari Ray habiskan di tempat maksiat, tanpa takut dosa karena memang sejak kecil tidak ada yang membimbing Ray untuk mengenal Alloh." Ray menghela nafas

__ADS_1


Abah merasa kasian dengan apa yang dialami Ray, karena orang tuanya terlalu di silaukan urusan dunia hingga melupakan kewajibannya sebagai orang tua. Menjadi orang tua itu bukan hanya sekedar memberikan makan dan membelikan semua kebutuhannya, tapi juga mendidik dan membekalinya dengan ilmu agama. Karena kelak orang tua akan dimintai pertanggungjawab di akhirat.


Alquran surah At-Tahrim ayat 6 dijelaskan “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Orang tua dalam Islam dituntut untuk bersungguh-sungguh membina, memelihara dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Tujuannya agar anak-anak tersebut selamat dunia akhirat.


"Ujian kamu memang tidak mudah Ray, tapi Abah yakin jika kamu iklas menjalani ujian ini, InsyaAlloh suatu saat akan berubah manis. Dan kamu harus bersyukur, karena Alloh memberi kamu hidayah, sebab Alloh memberikan Hidayah hanya pada orang yang dikehendaki. Abah do'akan semoga Ray selalu istiqomah" ujar Abah dan Ray mengaminkan


***


Dikamar kecil yang dulu ditempatunya dengan Niko, Malam ini Ray sendirian untuk merenungi apa yang telah Abah sampaikan tadi siang.


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam" Jawab Ray mendengar ada suara yang tidak asing mengucap salam, pandangan matanya menuju arah suara, benar saja ternyata Niko dan Danu. Dua sahabat yang selalu ada untuk Niko


"Ada apa ini Ray?" Tanya Danu menepuk pundak Ray dan duduk disamping Ray


"Kok kalian bisa tau aku ada disini? apa Abah yang memberitahu kalian?" tanya Niko


"Bukan, tapi Ulya yang memberitahu kami. Kebetulan tadi sore saat Ulya selesai mengajar, Ulya melihat kamu disini. aku sudah curiga pasti ada yang tidak beres, jika sampai pengantin baru justru mencari tempat untuk menenangkan diri. Benar tidak?" tanya Niko


"Ray, kita ini bersahabat sudah lama. Bukan hanya sekedar sahabat tapi kita ini sudah seperti saudara. Dan yang namanya saudara, bukankah harus saling menguatkan?" sahut Danu


"Terimakasih Dan, Nik. Kalian memang saudaraku. Aku bersyukur di tengah-tengah masalah yang aku hadapi selalu ada kalian yang menguatkanku." ujar Ray


"Jadi sbenarnya apa yang terjadi?" tanya Danu


Dan Ray menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Bela


"Aku kira, saat Bela mau menikah mengenakan pakaian sesuai dengan syari'at islam, itu karena Bela benar-benar ingin berubah dan belajar menjadi istri yang semestinya. ternyata itu hanya bagian dari rencananya agar kami segera menikah dan mereka bisa kembali berbisnis, tentu saja dengan menyatukan perusahaan mereka seperti yang mereka rencanakan dari awal."


"Keterlaluan Bela, jadi dia tidak menjalankan tugasnya sebagai istri? berarti tadi malam dia juga tidak memberikan hak kamu sebagai suami?" tanya Niko


"Aku tidak buru-buru untuk itu, Bela mau belajar menjadi istri yang semestinya dengan tetap berada disini saja, aku sudah Alhamdulillah. Tapi dia tetap kekeh akan kembali memimpin perusahaannya di Singapura." jelas Ray


"Begini Ray, karena dari awal memang posisinya Bela itu seorang CEO, bagaimana kalau kamu coba mengalah. Kamu saja yang kesana" ujar Niko


"Papi dan Mami tidak akan setuju kalau aku meninggalkan perusahaan yang disini. Lagi pula aku ini kan kepala rumah tangga, seharusnya aku kan yang bekerja mencari nafkah? bukan aku ikut istriku dan istriku yang bekerja" jawab Ray


"Benar juga" ucap Niko


"Singapura, Indonesia kan masih bisa ditempuh dengan pesawat, kamu setiap weekend pulang saja ke Singapura untuk bertemu dengan Bela" ucap Danu


"Masalahnya kami ini pengantin baru yang menikah belum tumbuh rasa cinta, bagaimana perasaan cinta diantara kami bisa tumbuh jika kami berjauh" ujar Niko


"Pelan-pelan, mungkin Bela masih butuh waktu. Kamu harus sabar" ucap Danu menguatkan


"Bagaimana kalau malam ini kita bakar ikan dibelakang saja, pasti seru tu" ucap Danu agar Ray bisa melupakan kesedihannya


Danu tau, apa yang Ray hadapi saat ini memang bukan hal yang mudah. Jika dulu saat mereka masih jauh dari Alloh dan belum mengenal apa itu dosa, disetiap ada masalah mereka larinya ke klab malam, dan ditemani dengan alkohol dan wanita-wanita malam, tapi sekarang saat mereka ada masalah. Mereka lebih memilih untuk menenangkan pikiran dengan mencari tempat yang bisa memberi kedamaian dengan bacaan Al-Quran. Dan malam ini mereka memutuskan untuk menghibur Ray dengan makan malam bersama, dan masak ikan bakar bersama. Sekedar untuk melupakan kesedihan yang Ray alami.

__ADS_1


^ Happy Reading ^


Jangan lupa Like, coment Vote dan Poinnya ya. Thor ingatkan juga jangan lupa ikut "Qurrotaayun" karena itu salah satu syarat mendapatkan giveaway dari Thor ya! terimakasih🙏


__ADS_2