Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah

Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah
JUJUR


__ADS_3

"Kenapa kamu terus menutupi keindahan itu? Kamu cantik" ucap Danu


Aisyah tersipu malu, dalam sekejap wajahnya sudah seperti kepiting rebus memerah.


"Kenapa wajahmu merah" tanya Danu tersenyum


"Tidak kok, ini karena... karena Ais lagi flu saja mas" elak Aisyah


Dret... Dret...


panggilan masuk diponsel Aisyah


"Assalamu'alaikum umi"


"Walaikumsalam, bagaimana kabar kamu dan nak Danu Ais?"


"Alhamdulillah kabar Ais dan mas Danu baik umi"


"Alhamdulillah, Ais kalau bisa besok kamu pulang ya! besok Abah mau memanggil Ulya dan Zidan kerumah untuk membicarakan kelanjutan rumah tangga mereka. kalau bisa kamu dan Danu pulang ya!"


"InsyaAlloh nanti Ais bicarakan sama mas Danu ya mi"


"Iya, baiklah sampaikan salam umi untuk suami kamu. assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam" Aisyah mengakhiri panggilan


"Dari umi ya?" tanya Danu


"Iya mas, umi baru saja bilang kalau ada waktu besok kita berdua diminta pulang karena Abah mau membicarakan masalah kelanjutan rumah tangga kak Ulya"


"Tapi kakak kamu wanita yang kuat ya? bisa menyembunyikan keadaan yang sebenarnya selama itu"


"Iya mas, mungkin kalau masih kuat kak Ulya akan terus menyimpannya sendiri. karena mamang seharusnya seorang istri itu tidak boleh membuka aib suami. tapi kali ini kak zidan memang sudah keterlaluan karena tidak bisa bersikap adil dan malah mendzolimi istri tuanya"


Aisyah merasa sedih


"Tadi aku dari kampus mencari kamu, tapi teman kamu bilang kamu sudah pulang"


"Mas Danu dari kampus?" Aisyah tercengang


"Iya, karena menunggu kamu tidak keluar-keluar, aku masuk kekampus"

__ADS_1


"Teman-teman Ais tau, mas Danu suami Ais?" Ais membulatkan matanya


"Yang tau sepertinya cuma teman dekat kamu, siapa namanya Fi.. "


"Fitri?"


Danu mengangguk


"Huftt... "Aisyah membuang nafas lega


"Kenapa dia merasa lega tidak ada yang tau kalau aku suaminya? apa dia malu punya suami sepertiku? diluar sana banyak cewek-cewek antri ingin jadi pacarku. lha Ais malah merasa malu gitu?" batin Danu


"Keadaan kamu gimana?" Danu mencoba menyembunyikan kekesalannya karena tidak diakui Aisyah sebagai suaminya.


"Alhamdulillah sudah baikan mas"


Danu memegang kening Aisyah dan Aisyah terlihat risi ingin menghindar.


"Aku suami kamu kan? aku punya hak atas diri kamu kan?" ucap Danu dengan wajah datar


"I.. iya" Aisyah mengangguk dan menundukkan kepalanya


***


Keesokan harinya Aisyah dan Danu pergi bersama kerumah Abah. sesampainya disana Ulya, Zidan dan istri muda Zidan sudah berada disana.


Istri muda Zidan tampak menggandeng tangan Zidan terus tanpa memikirkan perasaan Ulya.


"Duduk nak" ucap Abah menyuruh Aisyah dan Danu duduk


Semua terdiam untuk beberapa saat


"Abah mengumpulkan kalian semua kesini untuk membicarakan masalah rumah tangga Ulya dan Zidan" ucap Abah menarik nafas terasa berat


"Maaf Abah, tapi kenapa harus membahas masalah rumah tangga kami. Zidan dan Ulya baik-baik saja Abah" ucap Zidan


"Begini nak Zidan, kita dengarkan saja apa yang diinginkan Ulya"


"Nduk, katakan saja apa yang menjadi keinginanmu. InsyaAlloh Abah akan mendukung apapun keinginanmu" ucap Abah


tanya Zidan

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa ini Ulya?


"Maafkan Ulya mas Zidan, jika selama menjadi istri mas Zidan Ulya banyak kekurangan dan belum bisa menjadi istri yang baik buat mas Zidan. tapi Ulya sudah tidak sanggup menanggung semua ini lagi mas. Ulya mau kita berpisah" Ucap Ulya terisak


Aisyah langsung memeluk kakaknya dan mengusap lembut punggung Ulya


"Astaghfirullah, sadar Ulya. apa yang kamu katakan barusan? kamu orang yang faham agama bagaimana mungkin berkata seperti itu? kamu tau kan diharamkan bau surga pada seorang wanita yang meminta cerai" ucap Zidan


"Lalu apa hukumnya bagi seorang suami yang dzalim pada istrinya?" sahut Aisyah


"Apa maksud perkataan dek aisyah?" Zidan menatap Ulya


"Apa yang Ulya katakan pada kalian?" tanya Zidan


"Selama ini Kak Ulya selalu menutupi Aib kak Zidan, tidak pernah sekali pun, kak Ulya mengadukan masalah rumah tangganya pada kami. bahkan saat dimana kak Ulya harus kehilangan calon bayinya. saat kal Ulya harus dirawat dirumah sakit sendiri tanpa ada kak Zidan disana. tidak pernah sekali pun kakak menceritakan itu pada kami. sampai akhirnya sekarang, mungkin wanita yang kak Zidan anggap tidak punya hati ini merasa tidak kuat lagi, dan ingin melepaskan beban pikiran yang selama ini dipikul sendiri." Aisyah berusaha membela Ulya


Abah terlihat menarik nafas berat, melihat putrinya diperlakukan seperti itu. tapi Abah berusaha menahan amarah nya.


Sedangkan Zidan tampak pucat, dan kebingungan mencari pembelaan


"Kakak akui masalah itu kakak salah, saat itu kakak tidak bisa menemani Ulya kerumah sakit karena kakak sedang berdakwah diluar kota. dan kakak saat itu sudah memberitahu pada Ulya untuk menghubungi kalian biar bisa menemani Ulya disana. siapa yang tau kalau ternyata Ulya tidak menghubungi kalian dan memilih dirumah sakit sendiri"


"Astaghfirullah, jadi itu pemikiran kamu mas? saat itu aku tidak mau menghubungi keluargaku bukan karena aku ingin sendiri. tapi karena aku malu kalau sampai keluargaku tau bagaimana kamu memperlakukanku" ucap Ulya terisak


"Aku memperlakukanmu? apa maksudmu berkata seperti itu? seolah-olah aku memperlakukanmu dengan tidak baik? apa aku pernah menyakitimu? apa pernah terjadi KDRT selama pernikahan kita?" Zidan menatap Ulya


"Mas Zidan memang tidak pernah menyakitiku secara fisik, tapi bagaimana dengan sakit hatiku? apa selama ini mas Zidan memikirkan bagaimana perasaanku harus berbagi suami?"


"Dari awal aku mau menikah lagi itu juga atas persetujuan kamu, kamu memberiku ijin untuk menikah. lalu kenapa sekarang kamu mempermasalahkan semua ini?"


"Aku memang memberikan ijin untuk menikah lagi, karena mas Zidan berjanji akan memperlakukan kami secara adil. tapi kenyataan yang aku terima tidak seperti itu. mas Zidan tidak pernah berbuat adil. selama satu tahun mas Zidan berpoligami berapa kali mas zidan mengunjungi Ulya ke apartemen? berapa kali Mas zidan meluangkan waktu untuk Ulya?"


"Mbak Ulya jangan egois seperti itu, Mas zidan ini kan sibuk, harus berceramah keluar kota. sebagai istri pertama harusnya mbak Ulya mengerti itu" sahut Sela istri kedua Zidan


"Lalu kenapa mbak Sela bisa selalu bersama mas zidan?" tanya Aisyah


"Karena aku harus menemani mas Zidan berdakwah" jawab Sela


"Kenapa harus selalu mbak Sela yang menemani? kenapa tidak bergantian dengan kak Ulya" tanya Aisyah lagi


"Karena Aku masih harus banyak belajar tentang ilmu agama, aku harus sering-sering mendengarkan mas zidan berdakwah. sedangkan mbak Ulya kan sudah sangat faham tentang agama. mbak Ulya harusnya tau, ilmu agamaku masih sangat kurang dan masih butuh banyak bimbingan dari mas zidan"ucap Sela

__ADS_1


__ADS_2