Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah

Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah
CH 69


__ADS_3

Hari ini untuk pertamanya kalinya Niko dan Ray tinggal dipesantren. Niko dan Ray yang terbiasa bangun siang hari ini untuk pertama kali dalam hidupnya harus bangun dini hari untuk melakukan ibadah sholat subuh berjamaah di pesantren.


Hendra salah satu santri yang ada disana berkali-kali mengetuk pintu kamar Niko dan Ray untuk mencoba membangunkan keduanya namun keduanya tak kunjung juga membukakan pintu.


"Assalamu'alaikum" sapa Abah


"Walaikumsalam bah" jawab Hendra


"Ada apa ini hen? apa mereka belum bangun?"


"Iya bah, sepertinya kak. Niko dan Kak Ray masih tidur" jawab Hendra


"Astaghfirullah, ya sudah coba dipanggil lagi" ucap Abah


Beberapa kali dipanggil tapi nampaknya Niko dan Ray tetep tidak memberi sahutan.


"Bagaimana ini bah?" tanya Hendra


"Ya sudah kita tinggal saja dulu" ucap Abah meninggalkan kamar Niko dan Ray


***


"Hoam.. " Niko menggeliat kakinya menindih badan Ray dan mengusik tidurnya


"Apaan sih" Ray yang masih ngantuk dengan mata terpejam melempar kaki Niko yang menindihnya


Merasa aneh karena mendengar suara Ray, Niko membuka matanya


"Woe bangun woe, ini jam berapa?" tanya Niko kaget membangun Ray


"Em.. apa sih Nik, aku masih ngantuk. ini tu masih pagi" ucap Ray dengan mata terpejam dan seketika membuka matanya saat menyadari sekarang ini dirinya tidak lagi dirumah tapi berada dipesantren.


"Mampus kita, jam berapa sekarang? matahari udah jelas banget lagi" ucap Niko


Ray mengaruk-garuk kepalanya


"Ya sudah ayo sekarang mandi kita segera ke masjid" ucap Niko turun dari tempat tidur yang tidak terlalu besar tapi dipesantren ini dirinya harus berbagai tempat tidur dengan Ray.

__ADS_1


Selesai mandi Niko dan Ray yang menggunakan sarung dan juga pecinya bergegas ke masjid.


Di masjid tampak beberapa santri yang sedang melakukan sholat dhuha, Niko dan Ray tersenyum senang karena mengira mereka belum terlambat untuk sholat subuh berjamaah.


Niko dan Ray yang belum bisa berwudhu mencoba menirukan gerakan wudhu dari salah satu santri yang kebetulan akan melakukan sholat dhuha.


Sesampainya dimasjid Niko dan Ray saling pandang melihat santri-santri itu sholat tanpa menunggu imam.


"Ray, kok mereka sholatnya sendiri-sendiri? kenapa tidak menunggu imam? perasaan dari tadi aku juga belum mendengar suara adzan" tanya Niko melihat Ray


"Iya juga ya? setauku bukankah kalau sholat itu harus menunggu adzan terus nanti ada imamnya gitu ya?" ucap Ray menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam Abah, Om, tante" ucap Niko dan Ray menjawab Salam


"Ini kenapa kalian seperti orang bingung gini?" tanya bu Retno


"Ini tante, kita kan mau sholat subuh. nunggu adzan dulu tapi mereka kok tidak menunggu adzan dulu ya?" jawab Niko melihat santri yang sedang sholat dhuha


"Humbb" Bu Retno dan pak Herman menahan tawa, membuat Niko dan Ray bingung dan saling pandang


"Hahaha.. Kalian ini apa benar-benar tidak tau waktu sholat subuh?" tanya pak Herman tidak kuat menahan tawa


"Saya pernah dengar katanya sholat subuh itu kalau pagi gitu Om" ucap Niko


"Dan sepertinya saya juga pernah dengar adzan itu masih agak gelap gitu langitnya. tadi saya juga sempat mikir apa kalau disini subuhnya saat matahari sudah terlihat" timpal Ray


"Huft.. mulai nanti malam kalau tidur kamarnya jangan dikunci. jadi saat nanti ada santri yang membangunkan buat sholat kalian bisa bangun. karena tadi Abah dan Hendra sudah berkali-kali mengetuk pintu kamar kalian tapi tidak ada jawaban. sepertinya kalian terlalu nyaman tidurnya sampai tidak mendengar suara adzan" ucap Abah menghela nafas dalam


"Maaf Abah, ka-kami tidak dengar" ucap Niko dan Ray salah tingkah


"Iya tidak apa-apa, pelan-pelan saja, InsyaAlloh asal niat dan tekad kalian kuat, pasti kalian akan cepat memahami cara sholat dan cara membaca Al-Quran" ucap Abah tersenyum. melihat kedua pemuda ini Abah senang, karena ada kemauan untuk menjadi lebih baik dan mengenal Alloh.


"Tapi jujur Om dan tante tidak menyangka lho, kalau kalian akan benar-benar belajar dipesantren ini" ucap pak Herman


"Kami juga ingin masuk surga Om, kami takut kalau kami mati nanti, kami masuk neraka. Danu bilang dineraka itu panas. kami takut Om." Jawab Ray

__ADS_1


"MasyaAlloh kami ikut senang melihat perubahan kalian" ucap bu Retno


***


Dirumah pak Burhan


"Kenapa akhir-akhir ini pulangnya selalu malam terus ma?" tanya pak Burhan


"Mama kan baru saja dapat promosi jabatan pah, jadi mama harus menunjukkan kinerja mama pah" Jawab Devi


"Iya papa ngerti mama, kalau mama itu baru saja mendapatkan promosi jabatan. tapi mama juga jangan mengabaikan keluarga dong ma! kapan kita akan punya anak kalau maam sibuk terus?"


"Kenapa bahas itu lagi sih pah? memang kenapa kalau kita tidak punya anak? mama belum siap punya anak. pasti akan sangat merepotkan. papa kan tau kalau mama ini selalu sibuk. siapa yang akan menjaga anak kita kalau kita punya anak? papa mau menjaga anak?" ucap bu Devi seraya membersihkan wajahnya di depan cermin


"Ya mama dong yang ngurusin, mama kan ibunya. lagian papa kan harus membantu Danu mengurus perusahaan" kilah pak Burhan


"Tu kan, belum apa-apa saja sudah ribut. apalagi kalau beneran punya anak, pasti setiap hari akan ribut terus. merepotkan sekali" gumam Bu Devi


"Iya gak gitu juga dong ma? apa iya selamanya kita tidak akan punya anak?"


"Emang salah tidak punya anak? ini itu jaman apa sih pah? yang mengharuskan setiap pasangan punya anak? lihat saja kehidupan diluar negeri! banyak yang memutuskan untuk tidak punya anak, tapi mereka enjoy aja tu pa?"


"Kita ini di Indonesia ma, bukan luar negeri" pak Burhan kesal


"Ya masalahnya dimana? sudahlah pah, jangan dibuat ribut. mama capek mau tidur" ucap Bu Devi berjalan menuju ranjang dan menidurkan tubunya yang terasa penat


"Ma.. Malam ini boleh tidak kalau papa_" ucap pak Burhan terpotong


"Sudahlah pah, jangan bicara terus! mama ini capek. besok ada meeting pagi sama klien." timpal Bu Devi


"I-iya ma, ta-tapi_"


"Selamat malam" ucap bu Devi menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dan mematikan lampu tidur.


Pak Burhan memandang tubuh istrinya yang tertutup rapat dengan selimut dan menghela nafas kasar. dengan perasaan kecewa pak Burhan membaringkan tubuhnya disamping istrinya yang tidur membelakanginya.


Sekilas pak Burhan mengingat perkataan Danu tentang memilih istri yang mau merawat suami tapi segera pak Burhan menghilangkan pemikiran itu.

__ADS_1


^Happy Reading^


Jangan lupa like, coment dan Vote ya🙏🥰😍😘


__ADS_2