
"Maaf bah, apa Ulya juga sudah menikah? apa suami Ulya juga tinggal disini?" tanya Firdaus
Abah menghela nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan Firdaus
"Ada apa bah?" tanya Firdaus melihat Abah
"Ulya saat ini sudah bercerai dengan suaminya, dan sekarang Ulya kembali tinggal bersama Abah dan Umi" jawab Abah dengan raut wajah yang terlihat sedih
"Maaf bah, Firdaus tidak tau" ucap Firdaus merasa tidak enak
"Iya tidak apa-apa Fir, semua ini sudah menjadi suratan takdir Ulya" ucap Abah
"Abah, makan malam sudah siap. lho mas Fir, masih disini?" tanya Ulya
"Abah meminta nak Fir untuk ikut makan malam bersama kita" sahut Abah
"Kalau begitu mari kita keruang makan" ucap Ulya
Abah segera berdiri dari kursi tempatnya duduk dan pindah ke ruang makan diikuti dengan Ulya dan Firdaus.
Di meja makan, suasana terasa hening selain dentuman suara sendok dan piring.
"Nak Fir apa sudah mulai mengajar?" tanya Abah memecah keheningan
"Apa di sana masih ada lowongan dosen?" tanya Abah
"Sepertinya masih ada bah, kenapa bah?" Firdaus balik bertanya
"Ulya apa kamu tidak ingin mencoba melamar pekerjaan sebagai dosen disana? siapa tau rejeki kamu nak?"
"Ulya ini juga lulusan S2 dari Universitas Islam nak Fir, dulu pernah mengajar juga. tapi semenjak menikah Ulya mengundurkan diri karena mantan suaminya menghendaki Ulya dirumah untuk menjadi ibu rumah tangga" terang Abah
"Kalau begitu kenapa tidak dicoba saja Ul?" tanya Firdaus
"Iya mas, nanti akan saya pikiran lagi" jawab Ulya dan kembali memasukkan makanan kedalam mulutnya
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" ucap semua melihat kearah sumber suara
"Umi pulang? Ulya pikir malam ini Umi akan tidur dirumah Aisyah" tanya Ulya mendekati Umi dan mencium tangan Umi sedangkan Umi berjalan mendekati Abah dan mencium tangan Abah
"Ini_?" umi mencoba berpikir
"Ini nak Firdaus mi, anaknya pak Hamsyah yang baru pulang dari Kairo" sahut Abah
"Oow.. nak Fir ini anaknya pak Hamsyah. dulu umi pernah melihat kamu saat kamu masih kecil. ternyata sekarang sudah sebesar ini" timpal umi
__ADS_1
"Iya Umi"
"Ayo dilanjutkan lagi makan malamnya, gimana makanannya enak tidak?" tanya Umi
"Enak Umi, enak banget malah. ternyata Ulya pandai masak" puji Firdaus
"Iya, Ulya ini memang pandai masak. Umi saja kalah kalau bersaing masak sama Ulya" ucap Umi
"Umi bisa saja" timpal Ulya
"Tapi benaran Ulya, masakan kamu memang enak" sahut Firdaus
"Terimakasih pujiannya" ucap Ulya tersenyum
Mereka pun sekarang menjadi lebih santai dan tidak kaku lagi. sesekali obrolan mereka diselingi canda dan tawa.
"Abah, Umi. Fir pamit pulang dulu, terimakasih untuk makan malamnya." ucap Firdaus pamit dan mencium tangan Abah
"Umi, Ulya" Fir menundukan kepala dan tersenyum
Setelah Firdaus pergi, Abah memuji Firdaus yang terlihat begitu sopan dan sholih.
"Firdaus itu sepertinya anak yang baik dan sholih ya Mi, pengetahuan agamanya juga baik." ucap Abah tersenyum
"Iya bah" jawab Umi
"Abah, Umi. Ulya masuk kekamar dulu" ucap Ulya
"Iya bah?" Ulya kembali menoleh
"Bagaimana menurut kamu tentang lamaran pekerjaan sebagai dosen?" tanya Abah
"Belum Ulya pikiran bah, tapi akan Ulya pikiran" jawab Ulya
"Menurut Abah, tidak ada salahnya dicoba nak, Abah ingin kamu lebih membuka diri dan kembali bekerja. buat kamu tidak merasa bosan dirumah. Abah tau sebenarnya kamu pasti jenuh setiap hari hanya dirumah"
"Iya Abah, nanti Ulya akan buat surat lamaran pekerjaan" jawab Ulya tersenyum dan kembali masuk kedalam kamarnya.
***
Dirumah Danu
"Sayang ini aku bawakan susu buat kamu. diminum ya!" pinta Danu
"Gak suka susu mas" ucap Aisyah menutup mulutnya dengan tangan kanannya
"Dikit aja ya, coba diminum. ini rasa coklat enak kok" bujuk Danu
__ADS_1
"Em.. " Aisyah menggelengkan kepala
"Ibu hamil itu sangat membutuhkan ini lho sayang, coba diminum dikit aja!" Danu memeberikan gelas susu dan membantu Aisyah untuk meminumnya
"Bissmillah" Aisyah pun akhirnya patuh dan meminum susunya hingga habis
Danu tersenyum senang melihat Aisyah yang tidak muntah saat meminum susu
"Ternyata tidak amis seperti bayangan Ais mas, ini enak susunya" ucap Aisyah
"Alhamdulillah kalau kamu suka, mulai sekarang setiap pagi dan malam. aku akan membuatkan kamu susu" ucap Danu semangat
Danu mendekatkan wajahnya pada perut Aisyah dan mengajak calon bayinya ngobrol
"Memang bayi dalam kandungan bisa mendengar apa yang kita omongin mas?"
"Bisa sayang, aku sudah membaca artikel tentang kehamilan. dan disana dijelaskan, kalau kita harus sering-sering berbicara dengan calon anak kita, meskipun masih didalam kandungan.
Ada beberapa studi yang menunjukkan bahwa rutin mengajak bayi berbicara saat masih dalam kandungan, dapat membangun sebuah ikatan emosional antara ibu dan janin. Setelah lahir nanti, bayi yang sudah terbiasa mendengar suara ibunya akan merasa lebih tenang dan tidak mudah rewel setiap kali ibu mengajaknya berbicara" jelas Danu
Danu memahami sepenuhnya Aisyah yang masih cukup muda untuk hamil pasti belum memahami tantang kehamilan. sehingga dirinya pun mulai mempelajari seputar kehamilan agar bisa membantu Aisyah menjaga calon buah hati mereka.
"Benarkah?" tanya Aisyah dan Danu mengangguk sebagai jawaban
"Sayang apa kamu mendengar mama nak?" tanya Aisyah mengelus perutnya dan wajahnya menunduk kearah perut
Danu sangat senang dah bahagia melihat Aisyah yang sepertinya juga sangat antusias dengan kehamilannya.
"Aisyah maafkan aku ya" ucap Danu menggenggam tangan Aisyah
"Mas Danu salah apa?" Aisyah menatap suaminya
"Aku sudah merenggut masa muda kamu. disaat para gadis seusia kamu masih menikmati masa mudanya. kamu sudah harus terikat pernikahan dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu?" ucap Danu yang kadang merasa bersalah
"Aku pernah muda, aku tau rata-rata anak muda keinginannya seperti apa. mereka pasti ingin bebas, pergi bersama dengan teman-temannya. tapi aku terlalu egois untuk menjadikan kamu istri dan ibu dari anakku disaat usia kamu masih sangat muda" ucap Danu
Aisyah tersenyum memandang suaminya
"Aisyah justru bersyukur, karena dengan menikah diusia muda, Aisyah terhindar dari fitnah dunia"
"Apa sekalipun kamu tidak pernah menyesal menikah diusia muda?" kembali Danu bertanya
"Untuk apa menyesal? Aisyah bahagia, dipertemukan dengan laki-laki yang bisa menjadi imam bagi Ais, laki-laki yang sangat menghargai wanita. Allah akan memberikan jaminan surga bagi istri yang taat dan berbakti kepada suaminya. Dari Ummu Salamah Radiyallahu'anha bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: "Wanita mana saja yang telah meninggal dunia dan lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk ke dalam surganya Allah SWT." (HR. Thirmidzi dan Ibnu Majah).
Karena itu tidak ada alasan bagi Ais untuk menyesal, ketika Alloh sudah menjanjikan Surga" terang Aisyah
"MasyAlloh, beruntung sekali aku bertemu dengan wanita sholihah seperti kami Aisyah. kamu bidadari surga yang Alloh kirim untukku, dan InsyaAlloh aku akan selalu menjaga hati dan diri ini hanya untuk kamu pasangan halalku dan ibu dari anakku" ucap Danu mencium kening Aisyah lembut
__ADS_1
^Happy Reading^
Jangan lupa beri dukungan sebanyak-banyaknya ya, dan jangan lupa follow. biar hadiahnya tidak hangus jika kamu yang menjadi pemenangnya 😍🙏