
"Heh.. anak kecil, kamu tau apa? kamu tidak lihat tanganku sakit?" ucap Vallen yang menganggap Aisyah masih kecil karena memang Aisyah masih terlihat imut sesuai dengan usianya yang baru menginjak 20 tahun. sedangkan Vallen seumuran dengan Danu
"Tante, tante masih punya kaki kan? yang sakit tangan tante, bukan kaki tante. kenapa harus merepotkan suami saya!" ucap Aisyah lembut
"Dasar Kamu" Vallen hendak menampar Aisyah tapi beruntung Danu segera menyadarinya dan menipis tangan Vallen
"Kamu apa-apaan Vallen?" Danu menatap tajam Vallen
"Dan, kamu tidak sadar? dia ini sudah menghina aku?" teriak Vallen
"Menghina? siapa yang menghina tante? saya hanya berbicara fakta. bukankah justru tante yang menghina diri tante sendiri dengan menjadi pelakor" ucap Aisyah
"Jaga ya bicara kamu! siapa yang menjadi pelakor?" Vallen emosi
"Lalu apa kalau bukan pelakor namanya? sudah tau mas Danu ini laki-laki beristri. kenapa masih menggangunya? apa itu bukan pelakor namanya?"
"Kamu, berani sekali kamu bicara seperti itu. justru disini kamulah yang merusak hubunganku dengan Danu. jika kamu menolak perjodohan itu, Sampai saat ini pasti Danu masih denganku" ucap Vallen
"Apa yang membuat tante seyakin itu, kalau tidak ada aku sampai sekarang mas Danu masih sana tante? jangan salahkan perjodohan kami, tapi salahkan diri tante sendiri. bukan mas Danu yang meninggalkan tante, tapi tante sendiri yang menghianati mas Danu dengan laki-laki lain"
"Ba-bagaimana dia bisa tau semua itu?" Vallen menunjuk Aisyah dan melihat Danu
"Aku menceritakan semuanya" jawab Danu
"Dan, Ka-kamu melakukan itu?" Vallen menggelengkan kepala
"Diantara suami istri tidak akan pernah ada rahasia. jadi tante tidak perlu merasa terkejut mendengarnya" sahut Aisyah
"Berhenti memanggilku tante, aku bukan tante kamu" teriak Vallen kesal
"Baiklah mbak Vallen, sebagai seorang wanita aku hanya ingin memberikan saran, jangan terlalu gampang memberikan diri kita kepada seorang laki-laki yang bukan mahram. wanita itu sangat tinggi derajatnya dimata Alloh, jadi sebaiknya jaga kehormatan seorang wanita."
"Tau apa kamu? aku melakukan itu bukan karena sengaja ingin melakukannya. tapi karena Danu yang sudah membuatku kecewa hingga aku mabuk malam itu. semua itu aku lakukan untuk melupakan sakit hatiku pada Danu. Danu yang seharusnya bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi pada diriku malam itu." teriak Vallen
"Apa mbak Vallen tidak malu? aku pikir mbak Vallen ini wanita terhormat dan berpendidikan tinggi. tapi kenapa hal seperti ini saja tidak bisa berpikir? bagaimana bisa mbak Vallen meminta pertanggung jawaban dari seorang laki-laki yang tidak melakukan apa-apa pada mbak Vallen?
__ADS_1
Tadi mbak Vallen bilang apa? melakukannya karena mabuk? apa mbak Vallen tidak tau haram hukumnya meminum Alkohol. apapun alasannya, jangan mencari kambing hitam untuk menutupi kesalahan yang sudah mbak Vallen lakukan. mbak Vallen muslim kan? harusnya tau, meminum alkohol itu dilarang dalam ajaran agama kita. dan sebagai seorang muslim, harusnya Mbak Vallen malu dengan pakaian yang mbak Vallen kenakan"
"Aku tidak butuh ceramah dari kamu"
"Aku tidak bermaksud menggurui. aku hanya melakukan tugasku sebagai sesama muslim untuk saling mengingatkan" jawab Aisyah
"Mas sebaiknya kita segera pulang" ajak Aisyah menarik tangan Danu
Danu hanya diam mengekori Aisyah hingga membuat Ray, Niko dan Vallen terheran-heran dibuatnya
"Itu benar-benar Danu kan? kita gak salah lihat kan?" celetuk Ray
"Sepertinya begitu, tapi bagaimana bisa Danu senurut itu sama gadis kecil itu" timpal Niko
Vallen terlihat sangat kesal dan meneguk beberapa minuman keras yang ada dihadapannya.
Sementara diparkiran Aisyah yang belum menyadari sedari tadi menggandeng tangan Danu segera melepaskan kala Danu menggodanya
"Udah berani megang tanganku ya sekarang?" Danu tersenyum menyunggingkan sebelah bibirnya
"Pak deluan saja, biar Aisyah pulang sama saya" ucap Danu pada sopir
"Baik Den"
"Masuk ke mobilku" ucap Danu membukakan pintu mobilnya
Didalam mobil suasana jadi hening, Aisyah yang menyadari apa yang sudah dilakukan barusan, merasa malu dan memilih diam, sedangkan Danu senyum-senyum sendiri sambil sesekali melirik kearah Aisyah.
"Ternyata kamu punya sisi lain yang aku tidak ketahui ya" ucap Danu memecah keheningan
"Maksud mas Danu?" Aisyah melihat kearah Danu
"Aku baru tau, ternyata kamu punya sisi tegas dan bisa membuat orang tak berkutik. aku tidak menyangka kamu akan mengatakan semua itu pada Vallen" Danu kembali senyum melihat Aisyah
"Ais, Ais kan hanya mempertahankan punya Ais" jawab Aisyah malu
__ADS_1
"Punya Ais? memang Ais sudah menerima aku sebagai suami Ais?"
"Dari awal Aisyah selalu menerima mas Danu"
"Iya, iya. Tapi benaran aku tidak menyangka kamu akan mencariku sampai kesini"
"Apa mas Danu tidak marah, aku mencari mas Danu kesana?" Ais memberanikan diri bertanya
"Tidak, aku tidak marah. hanya saja aku masih tidak menyangka saja"
"Maafkan Ais ya mas, kalau Ais membuat mas Danu malu" Aisyah menunduk
"Kenapa kamu selalu minta maaf? tidak perlu merasa bersalah seperti itu. kan aku yang seharusnya minta maaf sudah membuat kamu kepikiran dan keluar dimalam hari seperti ini. sebenarnya aku juga sudah ingin pulang dari tadi, aku juga tidak nyaman kok, berada di tempat seperti itu. hanya saja karena hari ini Ray sahabat ku ulang tahun, terpaksa aku kesana."
"Sebenarnya Ais juga awalnya tidak berencana mencari mas Danu"
"Maksudnya?" Danu melihat ke arah Aisyah lagi
"Aisyah pikir, mas Danu cuma berdua sama mbak Vallen. Aisyah hanya takut mas Danu akan berbuat dosa makanya terpaksa Aisyah mencari mas Danu. karena sesungguh ditusuk kepala mas Danu dengan besi jauh lebih dari pada bersentuhan dengan wanita yang bukan mahram"
Danu membelalakan matanya mendengar perkataan Aisyah
"Apa maksud kamu?"
"Karena ada Hadits yang mengatakan"Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya" (HR.Troboni dalam mu'jam Allah kabir 20:211"
"MasyaAlloh terimakasih Aisyah sudah menyelamatkan aku. aku bersyukur banget Alloh memberikan aku istri seperti kamu, jujur sebenarnya aku malu dan merasa tidak pantas mendptkan istri seperti kamu. aku juga menyesal kenapa dulu aku tidak mempelajari ajaran agama dengan baik. masa mudaku terlalu aku gunakan untuk bersenang-senang dengan teman-teman."
"Tidak ada kata terlambat untuk berhijrah mas, mari kita belajar sama-sama" Aisyah tersenyum
"Apa kamu mau mengajari aku?"
"Kita belajar bersama mas, kan Aisyah sudah sering mengatakan itu."
"Bener Aisyah aku yang sebenarnya terlalu malu dengan diriku sendiri"
__ADS_1
^ Happy Reading ^