
“Syukurlah kau baik-baik saja Tyaga,” ucap Adellia setelah mengijinkanku masuk ke dalam kamp perkemahan.
“Tunggu, gerbangnya jangan ditutup dulu,” ujarku mencegah seorang kesatria yang ingin menutup gerbang.
“Kakek Hork masih ada di luar,” lanjutku memberi tahu Adellia.
Adellia langsung menyuruh beberapa pasukan untuk menyusul Kakek Hork dan juga pasukan lain yang tengah bersembunyi di dalam hutan.
Agar tidak terjadi suatu masalah yang tidak diinginkan, Adellia menyiapkan dua tim yang masing-masing terdiri lima kesatria, enam penyihir, dan dua penyembuh.
Berjaga-jaga jika ada yang terluka. Jumlah itu hampir setengah dari pasukan bala bantuan yang tersisa sekarang.
“Kakak...” ucap Saigiri menghampiriku, dia memelukku dari belakang.
Terdengar pelan tangisan, tampak dia sedang menyembunyikan air matanya dari orang lain.
Dia pasti malu jika dilihat pasukan lainnya, tapi dia tetaplah adikku yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya sedikitpun.
Aku membalikkan badan. Mata birunya nan mengilap, tak kuasa menahan genangan air mata yang perlahan membasahai pipinya yang merah menyala.
Dia sesekali mengelapnya, tapi tetap air matanya tak kunjung berhenti mengalir.
Aku merendahkan tubuh dan bersimpuh di hadapannya. Aku meraih tangan mungilnya yang sedang bersusah payah menghapus air matanya.
Aku pancarkan sinar kebahagiaan dari pandanganku agar kesedihan itu segera berlalu. Sebelum, aku katakan maksudku yang sebenarnya.
“Aku pulang,” Aku menyiratan sebuah senyuman.
“Selamat datang, Kak...” ucapnya lirih.
“Syukurlah kau tidak apa-apa, aku sangat mengkhawatirkanmu...” imbuhnya memelas dan langsung memelukku tanpa mempedulikan sedang diawasi oleh banyak orang.
“Cup... cup... cup... kau lihat kan aku baik-baik saja sekarang,” balasku mendekap erat tubuhnya seraya mengelus lembut kepala Saigiri.
“Hmmm, si kakak siscon mulai beraksi tidak peduli dilihatin oleh banyak orang,” ucap Son melirikku yang tengah memeluk Saigiri.
“Kau pasti iri karena tidak bisa melakukannya, ya kan?” Aku menampiknya dan sedikit menghina.
Tapi tetap aku tidak bisa mengela dari perkataanya yang menyebutku seorang siscon.
“Sudah... sudah... kau jangan menganggunya, Son. Aku juga sudah menduga kalau akan jadi seperti ini,” sela Hans yang muncul dari kerumunan pasukan yang tengah memadati area dekat gerbang.
Dia menyaksikan langsung bagaimana pertemuanku kembali dengan Saigiri.
Berbeda dengan dua temanku itu, terlihat dari kejauhan Aalisha tetap saja acuh tak acuh dengan semua kejadian ini.
Dia tampak fokus mengasah kedua belatihnya, dia lebih mementingkan peperangan yang tak lama lagi akan kita hadapi dari pada mengurusiku.
Satu tim telah datang dengan menggotong Kakek Hork menggunakan tandu kayu, seperti seorang pahlawan yang gugur di medan pertempuran.
Aku pun langsung menghampirinya, begitu pula dengan Hans, Son, dan Adellia. Sementara aku menyuruh Saigiri untuk mengambilkan segelas air minum.
__ADS_1
“Bagaimana keadaannya?” tanya Adellia kepada salah satu «Heler».
“Tidak buruk, Tuan Hork hanya kehabisan «Magen»,” jawabnya.
“Tenang saja, Nona Adellia tidak perlu panik. Aku juga telah menyisikan sedikit energi sihirku padanya,” imbuh penyihir lainnya.
«Magen» sendiri adalah singkatan dari «Magische Energie», yang merupakan energi sihir milik para penyihir.
Ketika seorang penyihir kehabisan energi sihirnya maka tubuh mereka akan menjadi lemas dan bahkan tidak jarang dapat menggerogoti jiwa penyihir tersebut.
Kondisinya pasti tak jauh beda dengan keadaan Kakek Hork sekarang.
Adellia merasa lega setelah mendengar ucapan dari penyihir itu. Tapi sekarang Kakek Hork masih membutuh istirahat yang lebih, sebab tadi dia hampir menghabiskan seluruh energi sihirnya untuk mengaktifkan sihir penghalau tiga lapis, «Drievoudig Schild».
Seluruh pasukan sempat terkejut ketika aku mengatakan kalau Kakek Hork benar-benar menggunakan sihir itu untuk menghalau kelima «Great Fire Ball».
“Sudah kuduga, tak mungkin ada penghalau yang bisa menghalau «Great Fire Ball» hanya dengan sihir penghalau satu lapis," ucap salah satu penyihir.
"Bahkan untuk menghalau tiga serangan sihir itu harus membutuhkan setidaknya «» tingkat atas,” imbuh penyihir lainnya.
“Tapi tak mungkin bagi seorang penyihir bisa mengaktifkan sihir itu sendirian, terlebih seorang diri. Tuan Hork setidaknya harus memiliki tiga item sihir untuk merapalkan mantranya,” balas seorang kesatria seraya melepas pelindung kepalanya.
“Iya aku setuju dengan pendapatnya. Memang benar Tuan Hork adalah salah satu penyihir kehormatan dan penyihir terhebat dari kerajaan."
"Tapi selama ini belum ada sama sekali penyihir yang bisa menggunakan tiga item sihir sekaligus,” sela penyihir lainnya yang mencoba ikut dalam perbincangan. Dia tampak begitu antusias dengan pembahasan ini.
“Apa kalian ingin terus malas-malasan seperti ini?!” ucap Adellia sembari memasang mimik wajah garang.
“Maafkan kami Nona Adellia,” balas mereka serentak.
Mereka langsung membuyarkan diri dan tak ada satu pun pasukan yang berani menolak perintah dari Adellia.
Kerumunan yang tadi dipadati oleh banyak pasukan, entah itu para penyihir, penyembuh, kesatria, atau mungkin seorang rakshasa, kini mereka kembali ke posisi masing-masing.
Bersiap akan datangnya gelombang ketiga dari serangan para monster.
“Tolong perintahan kami juga,” ucap Son.
“Aku merasa tidak enak jika terus berdiam diri,” lanjut Hans.
“Maaf bukannya aku tidak mempercayai kalian, tapi ada tugas lebih penting yang harus kita selesaikan,” balas Adellia.
Sejenak dia mengalihkan perhatiannya untuk mengecek apakah pasukannya sudah benar-benar kembali ke posisi masing-masing.
“Kalaupun ada yang bisa kami bantu, kami akan bantu dengan segenap jiwa.” Baru kali ini Son mengatakan hal yang benar, anehnya aku malah merasa keheranan.
“Oh tentu,” jawab Adellia singkat.
Selanjutnya dia mengajak kami bertiga untuk berkumpul di dalam salah satu tenda. Tapi Adellia meminta tolong Son agar memanggil Aalisha dan Saigiri.
Setidaknya dia ingin mengumpulkan kami berlima. Sementara Hans terlebih dulu ijin untuk mengambil beberapa barang yang masih tertinggal di dalam kereta kuda.
__ADS_1
“Kau pasti ingin membahas masalah itu kan?” tanyaku.
Adellia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku.
Dia menganggukkan kepalanya, lalu kembali berjalanan menyelusuri tenda-tenda yang tak berpenghuni.
“Tapi kenapa kau ingin membahasnya dengan kami? Bukannya dengan para komando pasukanmu sudah cukup?” tanyaku sekali lagi.
“Apa kau tidak bisa diam, Tyaga? Aku mengumpulkan kalian berlima agar aku lebih mengawasi kalian." Sejenak dia terdiam untuk mengatur napas yang kian memburu.
"Lebih lagi ini sudah menjadi tanggung jawabku atas permintaan dari Raja Achille,” balasnya seraya mempercepat langkahnya menuju sebuah tenda berwarna kuning yang letaknya di pojok kamp perkemahan.
“Kalau begitu kenapa kau tidak menyembunyikan kami saja?” tuntasku, kali ini dia benar-benar menghentikan langkahnya.
“Dasar bodoh! Aku membutuhkan kalian, sebab kalian lebih tahu medan daripada kami!” geram Adellia sembari menarik paksa kerah bajuku.
Dia sedikit menjinjit karena tinggi badannya jauh di bawahku.
“Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal, Nona Adellia?” ucapku seraya melepaskan tangannya lalu menggegamnya dengan erat.
“Aku takut jika kalian menolaknya, terlebih aku tak ingin membahayakan nyawa kalian lagi,” balasnya lirih.
“Apa kau tidak dengar ucapannya Son tadi. Kalau kau butuh bantuan, coba utarakan lebih baik. Kami akan membantumu segenap hati,” ucapku memberikannya sebuah keyakinan.
“Aku sedikit tahu apa yang tengah kau rasakan, kau sudah cukup baik menjadi seorang pemimpin. Jadi jangan terlalu memaksakan diri,” imbuhku, lalu melepaskan tangannya.
“Kau sudah berjuang sebaik mungkin, mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama,” tuntasku seraya menepuk pundaknya dan melangkahkan kaki pergi meninggalkannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
__ADS_1
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id