
“Untuk acara selanjutnya adalah pemberian senjata roh untuk masing-masing murid.” Ucap Guru Senjati menempati podium.
“Senjata roh?” Gumam lirih Son di sampingku.
“Iya, apa kau tahu itu senjata macam apa?” Tanyaku balik.
“Saigiri, apa kau mengetahuinya? Kaukan yang paling dekat dengan para guru di antara kami.” Kataku mengundang Saigiri dalam pembicaraanku dengan Son.
“Iya mungkin kau tahu.” Tambah Son.
“Aku juga tidak mengetahuinya Kak. Tapi kelihatannya nama senjata itu tidak asing di telingaku. Sebentar aku akan mencoba mengingatnya kembali.” Jawab Saigiri sambil mengerutkan dahi.
“Son, coba kau tanyakan ke Hans dan Aalisha. Mungkin di antara mereka berdua ada yang mengetahuinya.” Ujarku.
“Okelah.” Jawab Son singkat.
“Tapi... tapi kenapa kau sendiri tidak bertanya langsung kepada mereka?” Tanyanya bingung.
“Kau bodoh ya? Mana mungkin aku dapat bertanya sekarang. Kalau aku yang bertanya, otomatis harus berpindah posisi dan itu akan menarik perhatian Guru Senjati.” Ucapku rada kesal.
“Oh ya ya, dia pasti akan memarahi kita lagi.” Son mengangguk-angguk.
“Sudah jangan banyak bicara lagi, kita malah buat kegaduhan yang tidak perlu. Coba saja kau tanyakan ke mereka.” Ucapku lirih menarik-tarik bajunya.
__ADS_1
Son sedikit bergeser ke kanan serta mencubit kecil paha Hans.
“Ouch! Apa yang kau lakukan Son?!” Ucap Hans lirih sambil melepaskan cubitan Son.
“Eh... maaf. Hans apa kau tahu tentang senjata roh?” Bisik Son bertanya. Walaupun suara mereka pelan, namun aku dapat sedikit mendengarnya.
“Jadi itu yang kau tanyakan. Senjata roh adalah sebuah senjata yang kuat dan terbentuk dari suatu roh makhluk hidup.” Kata Hans.
“Benarkan seperti itu?” Ucap Aalisha ikut dalam perbincangan pelan kami. Mungkin dia juga penasaran dengan senjata roh.
“Lantas apa bedanya dengan senjata pada umumnya?” Tanya Son.
“Sangat berbeda. Senjata pada umumnya biasanya dibuat oleh manusia sendiri, entah itu oleh pandai besi atau pengrajin senjata. Tetapi senjata roh hanya bisa terbentuk melalui roh makhluk hidup.” Jelas Hans.
“Selain itu ya...” Hans berpikir sejenak.
“Jadi pada dasarnya senjata biasa dibuat oleh manusia biasa. Sedangkan senjata roh baru dapat diciptakan melalui roh makhluk hidup. Lalu bagaimana cara penciptaan senjatanya?” Gumam Son.
“Untuk penciptaan senjata roh sendiri ada berbagai macam metodenya. Sama halnya dengan senjata biasa, pembuatan pedang dengan cara menempa besi, pembuatan kapak dan tombak pula yang harus ada tongkat pemegangnya.” Jawab Hans.
“Salah satu penciptaan senjata roh yang baru-baru ini kuketahui adalah dengan membunuh seekor binatang dan mengambil inti rohnya, «Qua».” Imbuh Hans.
(Apa?! Mereka membicarakan tentang «Qua»?! Mungkin Hans jauh lebih tahu mengenai hal itu. Kemarin aku tidak sempat bertanya lebih banyak mengenai «Qua» dari Kakek Hork dan Adellia. Mereka hanya menjelaskan secuil tingkatan pertarung dan penyihir yang dapat menguasai dan membangkitkan «Qua», setelah ini aku harus menemui Hans secepatnya. Banyak hal yang ingin kuketahui!)
__ADS_1
“Setelah mengambil inti roh dari binatang tersebut, roh tersebut akan dimasukkan ke dalam suatu wadah. Buku yang aku baca menjelaskan kalau bentuk wadahnya berbentuk bola terang kebiruan dengan sedikit nuansa kabut hijau di dalamnya. Nama wadahnya adalah «Parels van Spirit Bal»”
“Untuk bentuk senjatanya sendiri gimana?” Lanjut Son.
“Bentuknya sendiri aku kurang tahu pasti, tapi dari buku-buku kuno digambarkan dengan senjata-senjata dengan bentuk aneh. Sebagai contoh, ada yang tampak seperti pedang tapi pedang tersebut yang mempunyai mata atau bilah pedang dua, ada yang ujungnya berbentuk bulat bergerigi, dan masih banyak lagi bentuk-bentuk anehnya. Selain itu katanya senjata roh juga dapat bercahaya menyesuaikan dengan inti roh makhluk hidupnya.” Tuntas Hans.
Sedikit demi sedikit jarak mereka mulai berdekatan tanpa celah sedikitpun, sehingga membuat jarak yang lumayan lebar. Percakapan mereka tampak semakin serius dan tak dapat mengendalikan volume suara lagi, sehingga sedikit membuat gaduh.
“Hey kalian sedang membicarakan apa?! Apa kalian tidak sadar sekarang masih waktunya upacara!” Bentak Guru Senjati, dia menyadari perbincangan di antara kami.
“Maaf guru.” Ucap Son dan Hans serentak.
Sementara Aalisha, dia ternyata dari tadi sudah memalingkan wajah berharap tidak terkena imbasnya. Aku hanya tertawa kecil melihat mereka di marahi oleh Guru Senjati.
“Sialan kau, Tyaga.” Bisik Son.
“Siapa suruh kalian berbicara sekeras itu.” Ucapku menahan tawa.
“Tadi kau menyuruhku untuk menanyakan tentang senjata roh?” Balasnya.
“Akukan cuman ingin tahu apakah Hans dan Aalisha mengetahui tentang Senjata roh apa tidak. Bukan untuk meminta penjelasannya. Hahahaha...” Tawaku kecil.
Tidak seperti Son yang kesal denganku, Hans sekarang terdiam dan menatap serius, mengikuti tiap gerik Guru Senjati. Dia paling takut ketika dimarahi oleh seorang guru, tapi dialah orang yang paling bijaksana di antara kami berempat. Sebab itu pintaku kepada raja untuk menjadikannya sebagai ketua tim kami.
__ADS_1
Melihat kami dimarahi oleh Guru Senjati, Raja Achillepun tersenyum seraya melihatku. Dari tatapan matanya dia seakan teringat oleh suatu hal yang begitu penting baginya. Aku tahu raja. Kau mungkin merindukan anakmu sepertiku merindukan ibu.