Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 59 – Menyiapkan Barang


__ADS_3

Tunggu, apa yang diucapkan olehnya. Kenapa aku tidak merasakan apa-apa, saat proses peleburan juga aku hanya merasa penyatuan yang biasa, malah aku merasa sangat nyaman dan sejuk. Bagaikan mencampurkan air pegunungan dan air sungai, yang karakter airnya tak jauh berbeda, bahkan hampir sama.


Untuk sementara ini aku masih belum bisa berkomunikasi dengan inti roh yang tinggal di dalam ranah rohku. Tapi dari apa yang aku alami sebelumnya, setidaknya aku berpikir bahwa panda kecil lah yang berhasil aku ambil ketika ritual pengambilan inti roh. Sebab ketika memasuki hutan dari inti mutiara roh, hewan yang aku temui hanya panda kecil dan tidak mendapati hewan yang lain. Aku ingat, selain bertemu dengan panda kecil, aku dengan panda kecil juga sempat terkena kabut beracun. Namun aku tidak begitu yakin.


Ah, mungkin itu akan menjadi rahasiaku semata, sudah cukup aku merepoti Saigiri waktu di aula akademi. Semua hal yang aku lalui memanglah berbeda, namun aku tetap optimis dan percaya kalau semua ini pasti akan ada akhir yang bahagia. Walaupun berapa lama pun pasti akan aku hadapi dan tetap berusaha semaksimal mungkin.


“Kak, bagaimana kalau kita bertarung dan mencoba peningkatan kekuatan serta sekaligus berlatih pengendalian roh sebelum kita lanjut ke proses pembentukan Senjata Roh.” Tantang Saigiri dengan penuh semangat.


“Hmm... kau pasti mengambil kesempatan untuk menantangku karena energi rohku lebih lemah darimu.” Balasku sinis.


“Hahahaha, bukannya kakak tadi tidak mempermasalahkan energi roh seseorang, melainkan kemampuannya dalam mengendalikan energi roh tersebut. Jadi tidak ada alasan bagimu untuk menolak tantanganku. Ya kan?” Tandasnya.


“Kenapa kita tidak langsung memulainya saja? Kita buktikan apakah kemampuanku dapat menandingi kekuatan barumu.” Ucapku seraya memasang kuda-kuda bertarung.


“Hey tunggu dulu, Kak.” Balas Saigiri menghentikanku.


“Apa yang ingin kau lakukan lagi?” Tanyaku.


“Bukan begitu, tapi apakah kita akan bertarung di sini? Yakin? Bagaimana kalau kita bertanding di dekat hutan ataupun di Ruang Olahraga Akademi.” Saran yang bagus.


Kalau pun kita bertarung di sini otomatis tak lama rumah ini akan rata degan tanah. Walaupun kita hanya bertarung dengan tangan kosong, namun dengan peningkatan kekuatan dari energi roh dan kemampuan individu kami, maka efek kehancuran dari daya serang kami akan naik berlipat-lipat.


Alumni Carsten saja dengan mudahnya memecahkan balok bata tiga lapis. Dibanding dengan balok bata yang tebalnya delapan puluh senti, tembok rumah kami hanya memiliki tebal sekiranya sekitar empat sampai lima puluh senti saja. Sangat mudah untuk menghancurkannya bukan.

__ADS_1


“Malam-malam begini akademi pasti sudah di tutup, bagaimana kalau kita ke hutan saja.” Ucapku sambil berlatih mengatur pernapasanku agar lebih mudah dalam mengendalikan energi roh. Meskipun energi roh yang kudapat benar-benar lemah, setidaknya masih ada sedikit peningkatan pada kekuatanku itu sudah cukup menurutku.


Kami sepakat dan bersiap pergi ke hutan untuk berlatih pengendalian energi roh dan mencoba peningkatan kekuatan kita. kami mengunci tiap bagian rumah dan tidak lupa memberi pesan jika Ayah pulang lebih awal dari kita, agar Ayah tahu ke mana pergi kedua anaknya.


Saigiri tengah membantuku mempersiapkan perlengkapan dan barang-barang yang aku butuhkan selama belajar di Akademi Teratai Ungu. Berbeda dengannya yang sudah selesai sebelum makan malam, mungkin dia mempersiapkannya selepas pulang dari upacara pelepasan, atau bahkan mungkin sudah jauh-jauh hari dia mempersiapkannya. Sebab Saigiri terlihat sangat yakin dan tidak mempermasalahkan sama sekali barang-barang yang dia bawa.


“Tunggu-tunggu, kenapa kau memasukkan semua pakaianku?” Ucapku terkejut dengan apa yang dia kemaskan.


“Lalu? Kau hanya ingin membawa beberapa pakaian saja?” Jawabnya menghentikan aktivitasnya.


“Apa kita tidak membawa seperlunya saja.” Ujarku tidak paham apa-apa.


“Kau kira kita besok akan pergi liburan ataupun piknik saja? Besok itu kita pergi ke ibukota, Kak." Sahut Saigiri.


“Astaga, kita akan tinggal di ibukota selama kurang lebih tiga tahun, apa kau hanya ingin membawa beberapa biji pakaian saja? Masih yakin?” Ujarnya mendesakku.


“Oh iya-iya, maaf aku lupa. Aku kira kita hanya tinggal untuk beberapa hari saja.”


“Huft, tolong dikondisikan otaknya.”


Jadi kami melanjutkan mengemasi pakaian-pakaian dan barang-barangku. Cukup mungkin sekiranya untuk tinggal sementara, aku sendiri masih belum yakin apakah kita akan tinggal di asrama atau menyewa tempat tinggal sendiri. Bahkan biaya kehidupan sehari-hari saja aku belum tahu kepastiannya, yang aku tahu hanya saat kami belajar di Akademi Teratai Ungu semua biaya sekolah digratiskan. Sekiranya untuk mencukupi kebutuhan hidup, aku akan bekerja entah sebagai petualan ataupun pedagang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


WA : 08973952193


IG : bayusastra20

__ADS_1


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id


__ADS_2