
Satu persatu monster mulai berdatangan dan mengepung kami berdua dari segala penjuru. Sehingga mempersempit ruang gerak kami.
Kekuatan yang aku rasakan dari monster-monster masih sama seperti yang tadi, tapi jumlah jauh berkali-kali lipat, dan akan lebih sulit untuk mengatasinya.
Sekalipun aku bisa menahannya, aku tidak yakin bisa mengalahkan monster-monster itu sekaligus. Lebih lagi jika mereka menyerang secara bersamaan.
Aku pasti tidak bisa menghalau semua serangan dari monster-monster itu dan juga luka akan menjadi hal yang pasti aku terima. Entah itu sebuah gigitan, cakaran, ataupun sebuah luka lebam.
“Apa kau masih lama?” tanyaku pada seseorang yang ada di balik punggungku.
Tidak ada sahutan. Ingin sekali aku mengeceknya, tapi aku tidak bisa sedetik pun mengalihkan perhatianku dari para monster yang jumlahnya kian membanyak.
Tak jarang satu per satu dari mereka berkeliling mencari sebuah celah untuk menyerang.
Aku tidak gentar. Jangan bohong. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri.
Aku sudah berusaha untuk fokus, tapi tidak bisa. Aku terlalu takut. Ketakutan inilah yang membuatku tidak bisa fokus, bahkan tubuhku pun bergemetaran tidak jelas.
“Apa kau masih lama?” tanyaku sekali lagi.
Tetap tidak ada balasan. Ya. Tidak. Entahlah. Bagaimana cara mereka melewati para pasukan, kenapa mereka begitu mudahnya sampai ke sini.
Mungkinkah. Hanya perasangku saja, tak mungkin Adellia dan segenap pasukannya dapat dikalahkan semudah ini.
Aku pikir mereka kebobolan saja dan membiarkan mereka pergi begitu. Sialnya aku yang harus menghadapi mereka semua.
Kawanan monster itu sempat ingin menyerangku dari sisi lain. Tapi aku tidak terkecoh dan naas mereka malah mati karena terjebak di dalam parit.
Mereka pikir aku hanya membuat jebakan yang ada di depanku saja. Padahal aku membuat sebuah parit yang dipenuhi dengan pedang. Bodohnya para monster itu.
Memang aku membunuh hampir setengahnya, tapi monster lainnya juga turut berdatangan satu per satu.
Beberapa kali ada monster yang berusaha mencapai tempatku dengan melompat. Sayangnya aku membunuhnya tepat sebelum monster itu menginjakkan kakinya.
Dan berakhir di dalam parit dengan tambahan luka tusuk yang kian membuatnya tidak bisa bangun.
Kendati demikian, aku selalu berlari ke kiri, lalu ke kanan, untuk menjangkau dan menghalau semua monster yang tengah berusaha meraih tempatku.
Syukurlah aku masih bisa menahannya sampai sekarang. Aku harus menjaga stamina dan energiku supaya tidak kelelahan sebelum Aalisha menyelesaikan rangkaian sihirinya.
‘Apa dia masih lama?’ Kali ini aku bergumam pada diriku sendiri.
Sudah banyak monster yang berhasil aku bunuh. Namun Aalisha tak kunjung menunjukkan tanda-tanda keberhasilan mengaktifkan sihir pelindung empat penjuru.
Sedangkan ketika Kakek Hork ingin mengaktifkan sihir, dia tidak membutuhkan proses selama ini. Sebenarnya apa yang membedakan antara Aalisha dan Kakek Hork.
Aku ingin bertanya langsung padanya, tapi dia sedang fokus mengendalikan energi sihir. Tidak mungkinlah.
__ADS_1
Napasku semakin memburu, staminaku juga mulai terkuras habis. Agaknya aku tak mampu menahan para monster ini lebih lama lagi.
Untuk mengangkat pedangku sendiri, aku tidak mampu dan harus menggunakan kedua tangan.
Telapak tanganku seakan melepus sebab beberapa kali aku gunakan untuk mengayunkan pedang dengan sekuat tenaga.
Kalau tidak seperti itu mana mungkin aku bisa menghempaskan tubuh para monster yang beratnya hampir dua kali lipat berat badanku.
Nyaris beberapa kali aku ingin tumbang, namun aku tetap bangkit dan menopang tubuhku menggunakan pedang yang menancap ke tanah.
Tidak sedikit pun terbesit dalam pikiran untuk menyerah. Malah sebaliknya.
Biarpun darah menetes habis dari kening, tubuh terkoyak ganas akan gigi-giri taring para monster, atau bahkan kepala nan terlepas karena cakaran yang tidak bisa aku hindari. Aku akan tetap berdiri.
Sepertinya jika aku terus berdiam diri di sini, maka akan semakin banyak monster yang mengepung kami.
Tapi jika aku mengalihkan perhatian dan membawa pergi mereka menjauh dari Aalisha. Apa mungkin mereka akan mengejarku atau malah sebaliknya.
Sebab tidak ada penjagaan. Mungkinkah mereka akan langsung menyerang Aalisha, dan hilanglah kesempatan terakhir kami. Semua yang aku lakukan selama ini akan sia-sia.
Aku memutuskan untuk melawan mereka secara langsung, ini salah satu caraku untuk menyibukkan dan mengalihkan perhatian mereka dari Aalisha.
Aku pun melompat ke luar parit, sempat kakiku tergelincir dan hampir saja diriku menjadi salah satu korban di dalam parit.
“Huft...” Aku menghela napas lega.
Sekalipun aku yang datang menghampiri mereka, tapi ada beberapa monster yang masih fokus ke arah Aalisha. Aku perlu lebih menarik perhatian mereka.
Perlahan namun pasti, monster mulai mendekatiku. Dari kanan, kiri, dan depan, sementara belakangku adalah parit.
Kelihatannya para monster itu tidak sedikit pun memberiku celah untuk melarikan diri. Mereka benar-benar mengepungku kali ini. Tampaknya aku mesti bertarung sampai titik darah penghabisan.
Aku pun langsung melesat ke kerumunan itu, tanpa peduli tubuh yang kian capek dan kaki yang sudah beberapa kali menjerit meminta untuk istirahat.
Aku harus memaksakan diriku. Sudah aku bilangkan, tak ada kata ‘menyerah’ dalam kamusku.
Pedang kian kupegang erat, setelah berkali-kali mengganti posisinya guna mencari pegangan yang nyaman dan tidak mudah lepas.
Bisa gawat jika di tengah-tengah pertarungan pedangku terlepas, tentu aku masih bisa bertarung menggunakan tangan kosong. Tapi itu tidak terlalu efektif.
Tiga monster mendekatiku dari kanan, di kiri ada empat monster yang siap mencabikku, sementara berpuluh monster menantiku di depan sana.
Aku awali seranganku dengan sebuah tebasan memalang dari bawah, setelahnya aku kombinasikan dengan putaran horisontal, lalu tebasan ganda menyilang, sejenak aku mundur ke belakang menjaga jarak dan langsung melesat, menuntaskan beberapa monster lagi.
Dari posisi itu aku langsung merendahkan tubuhku, sebab sedari tadi para monster lebih suka mengicar kepalaku.
Hal yang mudah bagiku untuk membalikkan keadaan, posisiku sangat diuntungkan, sebab monter yang menyerang sudah tidak bisa menghindar lagi ketika aku melancarkan sebuah serangan.
__ADS_1
Tanpa sadar ada monster lain yang tengah bersiap menerjangku dengan sebuah gigitan.
Sayangnya aku sangat tahu pola serangan itu, aku langsung meloncat ke atas tepat sebelum terkena gigitanya.
Meskipun posisi dalam keadaan melayang, aku masih bisa memutarkan tubuhku dan melepaskan sebuah tebasan tepat di kepalanya.
Tubuhku kian dibanjiri dengan keringat yang tercampur dengan darah para monster, bau amis berbaur dengan peluh, hingga sulit untuk dibedakan.
Pedang semakin tumpul sebab berkali-kali beradu tajam dengan cakar ataupun gigi taring, tak jarang sampai membuatnya banyak bekas goresan.
Wajahku tampak memerah, bukan karena marah, melainkan hasil dari cucuran darah. Entah sudah berapa lama aku bertarung, pikiranku hampa, mata menatap kosong tak membekas.
“Sampai kapan pertarungan ini akan berakhir,” ucapku lirih.
“Akankah berakhir atau tidak?” tanyaku pada angin yang berhembus kencang, menyapu setiap bayang monster yang ada di depanku.
“Tubuhku sudah tidak kuat, tolong... berakhirlah.” Itulah kalimat terakhir sebelum aku benar-benar menutup mata dan tidak sadarkan diri.
Akhirnya aku bisa tidur, dengan tenang?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
" S T A Y - S A F E "
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
__ADS_1
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id