
[ Not Edited ]
“Siapa kau sebenarnya!” Belum sempat aku menemui Saigiri, aku terjebak dalam dunia ilusi. Dunia yang dipenuhi oleh kabut di mana-mana. Tak ada satu pun orang yang ada di sekitarku, bahkan karavan tertinggal kosong tanpa ada kuda yang menarik. Sebenarnya aku berada, kenapa semua tiba-tiba menghilang.
“Aku? Aku adalah sosok yang kau cari-cari,” ucapnyanya tersapu oleh kabut.
“Yang aku cari, jadi kau adalah monster yang menyebabkan semua kekacauan ini.”
“Iya,” jawabnya ringan dan diakhiri dengan sebuah tawa yang menggelegar di setiap penjuru. Selaksa berada di dalam gua, namun dari mata yang melihat, ruangan ini tiak memiliki ujung, dan di mana-mana terdapat kabut yang teramat tebal.
Aku menyiapkan kuda-kuda dan kedua tangan bersiap menarik pedang. Jika diperlukan aku yang akan menyerang pertama. Sayangnya aku tidak mampu, sebab aku belum tahu sosok apa yang tengah aku lawan sekarang, setidaknya aku harus menggali informasi terlebih dulu mengenai sosoknya itu.
“Apa kau ingin menyerangku?” tanyanya dengan intonasi meremehkanku.
“Mana mungkin aku bisa menyerangmu, jika kau sendiri masih bersembunyi dalam tempurung. Kalau kau berani sini bertarunglah denganku,” balasku menantang, tanganku semakin erat memegang ujung pedang dan kapan saja siap melepas satu tebasan.
“Hahaha.... pemuda yang menarik. Berani sekali kau menantangku, bahkan kau tidak tahu siapa diriku yang sebenarnya.”
“Kalau kau memang benar-benar kuat, kenapa kau tidak langsung muncul di hadapanku dan langsung membunuhku sekarang juga. Dasar penakut!” Aku menekankan omonganku di kalimat yang terakhir.
“Menarik sekali....” Hanya itu yang dia ucapkan dan sosoknya menghilang tanpa meninggalkan bekas energi kehidupan sedikitpun.
Seketika tanah terbelah menjadi dua, langit dipenuhi oleh mendung dan gemuruh, beberapa kali petir menyambar bentala dengan sangat kuat. Tidak sampai di situ, kini mulai bermunculan monster-monster aneh dengan tampang yang mengerikan. Jauh di dalam kelopak matanya nan merah menghitam, terlihat jelas kalau gerombolan monster itu mempunyai dendam dan ingin sekali membunuhku.
“Ini pasti hanya sebuah ilusikan?!” bentakku pada langit, sekejap menghilang dan berganti suara dari ledakan petir.
Sial. Kalau benar ini hanya sebuah ilusi, kenapa mereka semua tampak nyata, dan bahkan energi yang terpancar dari mereka semua bukanlah sebuah kebohongan. Mereka nyata, tidak mungkin ada sebuah ilusi seperti ini.
Apakah aku bisa mengalahkan mereka semua, lantas di manakah pasukan lainnya. Kalau ini nyata pastinya para pasukan juga tidak akan menghilang. Dalam gelap hatiku berkelut, beradu dengan suasana yang kian mencengkam. Tidak seharusnya aku berdiri di sini sendirian. Di manakah aku berada sekarang.
Sepertinya aku harus bertarung sendirian lagi, setidaknya aku dapat memastikan apakah mereka benar-benar nyata atau sekadar ilusi semata. Jika pedangku mampu membelas ataupun menusuk mereka, dapat dipastikan mereka nyata. Namun kalau mereka benar-benar nyata, mana mungkin aku tidak terbunuh. Melawan monster-monster itu sekaligus, merupakan hal yang mustahil bagiku.
Sial. Ilusi ini benar-benar nyata.
__ADS_1
Satu per satu monster itu mendekatiku perlahan, langkah demi langkah semakin menumbuhkan getir dalam sanubariku. Kilasan kilat kerap kali menghalangi pandanganku, guncangan bumi membuatku kuda-kudaku goyah, dan hembusan angin nan kuat menyadarkanku akan kencaman kematian yang terasa kian mendekat..
“Sini majulah!” ucapku lantang.
Pantang buatku untuk mundur. Ayunan pedang membekas lepas di bentala, menyisakan debu hitam yang langsung menghilang diterpa angin. Monster itu silih bergantian menyerangku, tapi aku langsung menghadangnya dengan sebuah tebasan. Entah sudah berapa banyak monster yang berhasil aku kalahkan.
Ternyata mereka tidak terlalu sulit untuk dikalahkan, bahkan hanya dengan sekali tusukan aku dapat mengalahkan monster-monster ini. Aku merasa mereka tercipta dari pecahan energi sihir dari sosok Majuu yang sempat menyapaku, sebab monster-monster ini terlalu lemah. Kendati demikian, mereka masih mampu menimbulkan damage serangan padaku.
Staminaku juga semakin terkuras, letih kian muncul, dan perlahan mengikis semangat juang bertarungku. Hampir seratus monster yang aku bunuh, tapi mereka tidak kunjung habis. Seakan setiap detik muncul monster baru, dari balik kabut berdatangan monster-monster dengan wajah yang serupa. Sorot mata merah menghitam terlihat jelas di balik kabut menghadang.
“Sampai kapan kalian akan terus bermunculan,” gumamku seraya kembali menguatkan pedang di tangan.
***
Sejenak aku terkapar oleh fakta yang menampar hati. ‘Apa ini?!’ Mungkinkah sekarang aku sedang berhalusinasi. Kenapa aku bisa hidup kembali dan menyaksikan semua pembantaian ini, banyak tubuh terkapar lemas dengan luka di sekujur tubuhnya, darah mengalir bercampur dengan tanah.
‘Apa kali ini aku benar-benar di dalam dunia ilusi?’ Bahkan kata-kata sendiri tak dapat menggambarkan kengerian yang aku lihat sekarang.
Aku memandangnya dengan tatapan kosong, entah kenapa tubuhku terasa sangat berat, pikiran hampa, mulut seakan terbungkam. Ini. ini sama persis dengan situasi saat pembantaian desa. Aku ingat pasti, darah mengalir di setiap langkahku, tatapan kosong tak membekas dari mayat-mayat akan menjadi pemandangan yang sebenarnya.
“Hey kau sadarlah! Belum waktunya untuk menyerah!” Dia kembali menepuk pundakku. Tampangnya terlihat penuh luka dan lebam, entah sudah berapa kali dia bangkit, dan terus mengangkat pedangnya.
Namun aku hanya bisa membalasnya dengan lirikan kosong.
“Hey!!” Dia lantas menamparku dengan keras.
“Apa kau ingin menyerah sekarang!! Bagaimana dengan para kesatria yang terbunuh!! Apa kau rela membiarkan mereka mati sia-sia! Kita akan melindungi kalian dengan segenap kekuatan kami, jadi...”
Setiap katanya begitu serius beriringan dengan tatapan mata yang sangat tajam, setiap kata yang terucap darinya sedikit demi sedikit menyadarkanku. Aku tidak sedang bermimpi, ini pertarungan yang sesungguhnya. Lantas kenapa? Hanya itu yang aku tanyakan.
“Mati?” gumamku lirih.
“Hey! Bicaralah dengan jelas, aku tidak bisa mendengarmu.” Dia menggoyang-goyangkan tubuhku. Tiba-tiba seekor monster srigala datang ingin menerkam kami berdua, sontak Adellia mendorongku, dan mengakhiri monster itu dengan tebasan tunggal.
__ADS_1
Dia kemudian menatap kedua mataku dengan seksama, tetap kosong tak membekas.
“Apa aku baru saja mati?” tanyaku padanya, pikiranku benar-benar kacau.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
" S T A Y - S A F E "
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id
__ADS_1