
[ Not Edited ]
“Dengarlah!! kalian semua menyebarlah menjadi 3 kelompok dengan kemampuan masing-masing.” Dengan mata birunya, Adellia menatap kami dengan tajam.
“Kelompok pertama di garis pertahanan, kalian akan terdiri dari penyihir yang handal dalam penyembuhan dan sedikit kesatria untuk menjaganya. Tugas kalian hanya mengobati pasukan yang terluka...”
“.... Kelompok kedua di garis tengah, dalam posisi ini akan diisi oleh semua penyihir. Tugas kalian adalah memberikan efek penambah kecepatan, ketahanan, kekuatan, dan perlindungan untuk kami semua. Selain itu kalau bisa kalian juga menyerang monster itu melalui serangan jarak jauh, tapi tetaplah hati-hati saat menyerang karena aku yakin pergerakan monster-monster itu sangat lincah dan ditakutkan serangan kalian malah mengenai kami...”
“.... Dan untuk kelompok terakhir, kalian para rakshasa, golem, dan kesatria akan bertarung bersamaku di garis depan. Kalian akan menjadi ujung tombak kemenangan kita, jangan gentar untuk menyerang. Seranglah monster itu sekuat tenaga, percayalah bahwa kau tidak bertarung sendirian, ada para penyihir yang akan selalu mendukung kita dari belakang....”
“.... Mati?! Itu adalah hal yang biasa dalam sebuah peperangan. Apa kalian tega melihat kematian teman kalian yang sia-sia!! Mereka akan bangga jika kita memenangkan pertempuran ini!! Kita adalah pasukan pilihan dan dia adalah monster yang sangat menjijikan.... Apa kalian ingin kalah?!” Bentak Adellia.
“TIDAK!!! Tentu tidak!!” Sorak kami semua, disaksikan oleh rembulan dan terdengar sampai langit-langit malam dalam naungan bintang-bintang. Semua berduka ria, memandangi satu sama lain, memberikan semangat, mengadukan senjata mereka tanda mereka siap bertarung bersama. Inilah yang diinginkan oleh para pendahulu, bersatu dalam satu ikatan.
“Serang!” seru Adellia mengangkat tinggi-tingi tombaknya.
HOAAAA!!!
“Sihir penambah kecepatan, «Snel»—”
“Sihir pelindung, «Beschermer»—”
“Sihir penambah kekuatan, «Accolade»—”
“Sihir penguat daya tahan, «Dragen»—”
Satu persatu mantera dirapalkan oleh para penyihir, tubuh seluruh pasukan Adellia memancarkan beberapa cahaya. Hijau, kuning, merah, biru, dan cahaya putih menyelimutinya, beberapa detik lalu memudar sedikit demi sedikit dan mereka merasakan bahwa di tubuh meraka ada yang berbeda. Seakan kecepatan, ketahanan, serangan mereka jauh meningkat drastis.
Serentak seluruh pasukan berkuda melaju dengan cepat, menerjang semua monster menghadang, dan melancarkan serangan jarak medium yakni dengan menggunakan senjata bertipe tombak. Adellia pun dengan sigap mengaktifkan status «Qua» dan memanggil senjata yang terlahir dari jiwanya, yakni sebuah tombak biru yang dinamakan «Ganjur». Ganas membunuh satu persatu monster.
Tidak ada satupun monster yang bisa terlepas dari kengerian pasukan Adellia yang membabi buta membantai semua monster. Tidak menyisakan satu pun monster yang terlewat. Kalau pasukan Adellia sudah bertarung dengan segenap kekuatan yang ada, maka tidak ada yang bisa kabur ataupun selamat dari kombinasi serangan pasukan yang dipimpin oleh Adellia.
“HAAA!!!” teriakan panjang dengan hembusan napas kuat. Adellia terus melesat dan menancapkan ujung «Ganjur», menewaskan banyak monster. Sangat kuat dan tajam, apalagi ditambah dengan peningkatan kekuatan oleh para penyihir. Monster-monster itu sama sekali tidak bisa menyentuh Adellia.
“Menarilah, luapkan semua duka dan lara, hentakan semangat api yang tidak akan pernah padam oleh sejuta lebam, menusuk bagaikan tancapan alunan melodi, menerjang selayaknya ombak lautan, menerpa bak angin topan, ragamu boleh mati. Namun jiwamu akan terus bertarung dalam genggaman kemenangan!” sabda Adellia di tengah-tengah pertarungan.
“Sekali lagi! Janganlah gentar! Menyerang dan teruslah menyerang, hingga kita bisa membalaskan kematian teman-teman seperjuangan kita!”
Adellia mengakhiri pidato singkat dan langsung memacu kuda ke arah Tyaga guna menyelamatkannya dari genggaman Majuu srigala itu. Jarak semakin dekat, Adellia lantas melesatkan «Ganjur» miliknya ke arah monster itu.
__ADS_1
SYUUTT! «Ganjur» melesat cepat mengarah ke monster itu, tampak biru membara dihiasi bekas cahaya biru bak laser.
Namun hal yang tidak terduga terjadi. Bukannya membunuh monster itu dan melepaskan Tyaga dari efek sihirnya. Monster itu malah tampak baik-baik saja, sedangkan tombak «Ganjur» Adellia hanya menembusnya dan menerjang daratan saja. Meninggalkan bekas retakan tanah, lurus, dan terhenti di belakang monster itu.
“Hahaha....” tawa monster itu menghina.
“Bagaimana bisa?” ujar Adellia keheranan. Padahal dia sangat yakin bahwa serangannya tidak meleset seincipun. Dia sangat yakin jika dia mengarahkan tombaknya tepat ke arah monster itu.
“Percuma saja kau menyerangku. Sekuat apapun seranganmu itu tidaklah berguna jika kau gunakan untuk menyerangku. Karena aku tubuhku terbuat dari energi sihir dan kau tidak akan bisa menyakitiku,” balas monster itu.
“Siapa kau sebenarnya!” tandas Adellia menarik kembali «Ganjur»-nya. Mudah bagi Adellia untuk memanggil dan mengendalikan senjata yang memang terlahir dari jiwa pemanggilnya.
“Kau ingin tahu siapa diriku? Aku akan memberi tahumu jika kau bisa mengalahkanku... Hahahaha...” Monster itu lagi-lagi tertawa kegirangan.
Selang beberapa detik kemudian, monster itu merubah dirinya menjadi sebuah gumpalan kabut dengan menyisakan bagian kepalanya saja. “Lihat baik-baik...” ujarnya seraya perlahan mendekati Tyaga dan memasuki tubuhnya Tyaga. Sekejap gumpalan kabut itu benar-benar menghilang dan sepenuhnya telah merasuki Tyaga.
“Apa?!” seru Adellia menyaksikan hal tersebut secara langsung.
“Oh tidak! Tubuh ini terlalu nikmat untuk dirasukin,” ucap Tyaga. Sorot matanya memerah dan kerap kali memamerkan raut wajah menjijikan. Dia lalu melirik Adellia sambil menyeringai.
“Kau sudah pahamkan?” imbuh Tyaga.
Tyaga lalu berlari ke arah Adellia, sangat cepat, apalagi dengan kaki runcing yang dimilikinya membuat lebih ringan saat berlari. Dari posisi itu, Tyaga melancarkan sebuah tebasan memalang yang langsung mengarah ke bagian kepala Adellia.
“Serangan yang cukup kuat,” gumam Adellia lirih.
Tidak berhenti sampai di situ, Tyaga kemudian menunduk, dan melancarkan serangan lanjutan dari posisi rendah. Dia kemudian mengangkat pedangnya membentuk sebuah tebasan horisontal, dan mengakhiri dengan serangan berupa tendangan belakang.
Meskipun bisa menghindari serangan pertama dan kedua, tapi Adellia tidak dapat menahan tendangan dari Tyaga. Adellia tersungkur ke belakang. Serangan tersebut memang tidak terlalu memberikan damage ke Adellia. Namun posisinya sekarang sungguh tidak menguntungkannya. Sebab tidak bisa menghalau serangan Tyaga dengan sempurna, membuat Adellia tersungkur, dan dikepung oleh monster-monster lainnya.
TANG!!
Bunyi nyaring dari aduan pedang yang sama-sama kuat. Son dengan sigap menangkis ayunan pedang Tyaga, sedangkan Hans menghalau beberapa monster lainnya dengan tombaknya. Karena sesama kaum elf, terlebih Son memiliki kekuatan di atas Tyaga dan dibantu dengan «Buff», membuatnya bisa mengimbangi pergerakan dan kekuatan dari Tyaga.
“Biar di sini kami yang urus!” ujar Hans.
“Kau tidak akan mampu bisa mengimbangi Tyaga, meskipun dengan kekuatanmu...” timpal Son sembari menghentakkan pedangnya untuk menahan gempuran serang Tyaga.
Bertubi-tubi Tyaga melancarkan sebuah tebasan. Alunan dan ayunan pedangnya sangat kuat dan tajam. Salah pergerakan sedikit saja bisa membuat Son kehilangan nyawanya. Melihat pertarungan menjadi lebih sulit, Hans datang membantu dengan tusukan-tusukan tombaknya dan dia tetap menjaga jarak. Kombinasi kedua Elf ini sangat hebat dan bisa memukul mundur Tyaga.
__ADS_1
“Lumayan juga kalian...” ucap Tyaga setelah mengambil langkah mundur
“Tapi tetap saja kekuatan kalian berdua masih di bawah anak ini.” Tyaga menunjuk dirinya sendiri sambil memamerkan sebuah senyuman menghina.
“Apa kalian yakin ingin melawanku hanya dengan dua orang saja?” imbuhnya setelah tahu Adellia pergi meninggalkan mereka berdua.
“Apa kau takut jika kami berdua saja sudah cukup untuk mengalahkanmu, wahai monster yang bisanya bersembunyi di tubuh kawan kami?” timpal Son mengancungkan pedangnya.
“Hahaha.... percaya diri sekali kau! Padahal kau tidak selezat anak ini!” geram Tyaga merasa terhina atas omongan dari Son.
“Lezat?” Hans merasa heran. “Kau ingin memakan anak itu?” lanjutnya.
“Tentu saja... setelah aku mengalahkan kalian semua. Kalian akan menjadi makananku! Kalian semua akan mati di tanganku! HAHAHAHA....!!!”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
" S T A Y - S A F E "
WA : 08973952193
__ADS_1
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id