
Waktu berlalu, tak terasa hampir setengah jam Tetua Agamemnon menjelaskan tentang penggambaran jiwa. Kesimpulan yang berhasil aku tarik ialah penggambar jiwa tak lain merupakan penggambaran makhluk yang telah diambil inti rohnya, sedangkan jiwa dari makhluk tersebut masih tersisa sedikit dan bercampur dengan inti rohnya ketika dimasukan ke dalam Mutiara Roh.
Sehingga jiwa yang masih tersisa itu bisa diubah atau digambarkan menjadi suatu pola dan bentuk dari Senjata Roh. Nantinya Senjata Roh tersebut akan memiliki bentuk dan kekuatan sama seperti jiwa dari makhluk yang telah diambil inti rohnya.
Hal ini hampir sama dengan penggunakan {Senjata Roh Jiwa}, bagaimana bentuk dan kekuatan dari senjata tersebut adalah penggambaran dari jiwa pemiliknya. Jadi kemarin sewaktu Adellia melakukan ritual «Qua» dan memanggil {Senjata Roh Jiwa} dari jiwa Adellia, {Senjata Roh Jiwa} miliknya berbentuk tombak ujung runcing dengan warna energi roh biru menyala. Menurut legenda itu adalah salah satu {Senjata Roh Jiwa} yang memiliki nama «Ganjur».
“Bagaimana? Apa yang kau lihat?” Tanya Tetua Agamemnon memecah keheningan sesaat ketika Carsten memejamkan mata serta memulai proses penggambaran jiwa dengan mengalirkan sedikit energi roh ke ranah jiwa miliknya. Tujuannya agar ranah jiwa dapat mengetahui bagaimana bentuk jiwa dari makhluk yang telah diserap inti rohnya oleh Mutiara Roh.
“Saya dapat melihat sebuah jiwa berbentuk seperti kerbau namun memiliki dua tanduk yang teramat panjang dan tanduk itu tampak seperti dua bulan sabit. Aura yang terpancar dari hewan tersebut berwarna abu-abu pekat dengan warna mata ungu tajam menyala.” Ucap Carsten masih dengan mata terpejam.
__ADS_1
“Sekiranya berapa ukuran dari makhluk tersebut?” Tanya Tetua Agamemnon mematiskan.
“tingginya tiga sampai empat meter, beratnya mungkin mencapai empat ton. Makhluk itu hanya diam, namun mata ungunya tetap menyala terang serta menatapku tajam. Beberapa kali kepulan kabut keluar dari hidung dan mulutnya, entah makhluk itu sedang mengendus atau mungkin sedang waspada atas hawa keberadaanku.” Jelas Carsten menggambarkan bagaimana bentuk fisik dari makhluk yang tergambar dari jiwa energi roh.
“Hahaha... makhluk itu cukup waspada juga. Tapi jangan takut, Carsten. Makhluk itu tidak mungkin dapat menyerang jiwamu, sebab makhluk itu hadir karena penggambaran jiwa dari ranah jiwamu. Kalau dilihat dari tingkah laku makhluk itu mungkin dia tipe petarung dan juga nama dari makhluk itu adalah [Kerbau Tanduk Sabit]. Kerbau itu tinggal di hutan belantara di ujung timur benua ini.” Ucap Tetua Agamemnon.
[Kerbau Tanduk Sabit], tak ada satupun dari kami para murid akademi maupun warga yang mengetahui hewan tersebut. Bahkan di hutan ini yang memiliki berbagai jenis hewan serta tumbuhan, tak ada satupun hewan yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan penjelasan dari Carsten. Benar, kata Tetua Agamemnonkan hewan tersebut tinggal di ujung timur benua, sedangkan Hutan Laiquendi berada di tengah arah tenggara benua. Tapi kami juga tak tahu pasti letak Hutan Laiquendi, semua hal tadi menurut peta yang telah dilukiskan oleh para leluhur.
“Kalau tingginya segitu mungkin termasuk binatang peringkat perak dan yang pasti Senjata Roh yang terbentuk dari jiwa dan inti rohnya termasuk Senjata Roh perinkat perak pula, sekiranya bintang dua.” Jawab Tetua Agamemnon.
__ADS_1
"Apa?! Bahkan Senjata Roh juga memiliki peringkat seperti peringkat petarung?!" Gumam Son berbisik dengan Hans.
"Hey, sshhttt... jangan keras-keras nanti Guru Senjati bisa mendengarmu." Balas Hans sambil melirik ke arah Guru Senjati.
"Kenapa kau terlihat biasa saja, Hans?" Tanya Son.
"Bukannya kami tidak terkejut, Son. Tetapi kita hanya bisa mengikuti proses-prosesnya, nanti kita pasti akan segera mengetahuinya." Selaku ikut larut dalam perbincangan dua sahabat itu.
"Tapi aku cukup penasaran dengan semua ini, kapan giliran kita mendapatkan energi roh dari Mutiara Roh. Aku sangat ingin sesegera mungkin mengecek peningkatan kekuatan fisikku. Apa jadinya jika otot-ototku ini digabungkan dengan energi roh. Hahaha...." Tawa Son diiringi dengan bergaya selayaknya binaragawan. Sangat menjijikan dan terlihat aneh. Hingga membuat beberapa cewek murid akademi di sekitar kami perlahan mundur manjauh.
__ADS_1
"Cukup Son, jangan mempermalukan kami dengan otot-ototmu yang menjijikan itu." Balas Hans menyulam kedua alisnya.
"Kau bisa memiliki energi roh itu setelah Alumni Carsten berhasil dengan Senjata Roh pertamanya, jadi aku mohon bersabarlah, Son." Ucapku berpose sama seperti Hans.