Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 42 – Penggambaran Jiwa


__ADS_3

“Sama seperti tadi, aliran dan pusatkan energi roh pada satu titik yakni di salah satu tanganmu.” Ucap Tetua Agamemnon.


Carsten menuruni kursi yang tadi dia gunakan sebagai pijakan dalam pengecekan kekuatannya setelah memperoleh energi roh, “Apa saya akan mengecek kekuatanku lagi?” Tanyanya memastikan.


“Tidak, Carsten. Kita akan benar-benar memulai proses pembentukan Senjata Roh. Lakukan saja apa yang aku arahkan, aku akan menuntutmu untuk membuat Senjata Roh dari energi roh.” Jelas Tetua Agamemnon.


Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Tetua Agamemnon, membuat Carsten kembali bersemangat. Walaupun dari tadi dia sudah bersemangat penuh, tapi ketika berkali-kali diberi harapan palsu tentang pembentukan Senjata Roh yang telah lama dia nanti-nantikan dan malah selalu diberikan penjelasan tentang berbagai macam proses dan hal-hal lain yang memang membosankan. Namun menurutku itu juga proses yang sangat penting buat ke depannya.


“Apakah kali ini kita akan benar-benar membentuk suatu Senjata Roh?” Tanya Carsten, sudah dua kali dia mencoba untuk memastikannya.


“Hahaha.... kenapa kau mempertanyakannya? Apa kau berpikir semua yang telah kau lalui itu bukanlah hal yang bermanfaat?” Balas Tetua Agamemnon membaca pikiran Carsten. Para orang tua itu sangat mengerikan, kita seakan tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari mereka.

__ADS_1


“Maaf atas kelancangan saya yang terhormat Tetua Agamemnon. Bukan maksud saya berkata seperti itu. Tetapi tidak hanya saya saja yang ingin mengetahui bentuk dan kekuatan dari Senjata Roh, melainkan saya yakin bahwa semua orang yang ada di aula ini pasti segera ingin mengetahuinya.” Setiap orang yang ada aula mengangguk, mengiyakan ucapan dari Carsten.


“Benar apa yang kau katakan Nak Carsten, namun semua proses yang telah kau lakukan bukanlah hal yang sia-sia.” Ujar Tetua Agamemnon sesudah menghela napas berat.


“Daripada kita berlama-lama, bagaimana kalau kau langsung mempraktekan apa yang aku arahkan tadi.” Imbuhnya sambil mengelus-elus janggutnya sendiri.


Selang beberapa detik kemudian, Carsten beberapa kali mulai mengatur pola pernapasannya. Bersamaan dengan itu terlihat aura dari energi roh sedikit demi sedikit bermunculan, berwarna biru mentah berkilauan namun terkadang sinarnya pudar terbias oleh cahaya lampu gantung aula akademi.


Perlahan aura energi roh memusat ke bagian kanan tubuh Carsten, semakin ke kanan, dan semua energi tersebut telah bermuara ke tangan kanannya. Terlihat warna biru dari aura energi roh sangat pekat, sebab semua energi roh sudah terkumpul sempurna pada satu titik.


“Sudah selesai Tetua.” Ucap Carsten setelah merasa yakin.

__ADS_1


“Hmmm... cukup menarik juga bakatmu. Sekarang apa kau dapat menggambarkan jiwa?” Tanya Tetua Agamemnon serta memberikan suatu pernyataan aneh.


“Menggambarkan jiwa?” Tanya Carsten kebingungan. Sama seperti Carsten, tak ada satupun dari kami para murid akademi yang mengetahuinya. Tidak pernah sekalipun kami mempelajari tentang ilmu jiwa dan roh, bahkan kami tidak mengetahui apa itu jiwa dan roh. Itu merupakan hal yang baru bagi kami.


“Iya benar, menggambarkan jiwa? Apa kau tidak mengetahuinya? Bukankah kau ingin sesegera mungkin mengusai pembentukan Senjata Roh?”


Tetua Agamemnon terus melemparkan satu persatu pertanyaan yang memojokan Carsten, ini bertujuan agar dia sadar dan tidak terburu-buru dalam proses pembentukan Senjata Roh serta mengetahui dasaran dalam proses pembentukannya. Tetua memang tak bermaksud untuk mengulur-ulur waktu atau mempermaikan kami, tapi apa yang dia lakukan sudah tepat dan membuatkan kami pondasi awal yang kuat. Biar kelak kami tidak tersesat dan tidak paham betul mengenai proses pembentukan Senjata Roh secara menyeluruh.


“Sekali lagi mohon maaf atas kelancangan saya Tetua. Saya akan menuruti semua arahan dari Tetua Agamemnon, saya percaya kalau Tetua pasti akan membantu saya dan juga teman-teman dari akademi jikalau kesusahan dalam menyelesaikan proses pembentukan Senjata Roh ini.” Carsten tertunduk layu dan mencoba untuk menenangkan kembali hati Tetua Agamemnon.


“Sudah-sudah. Jangan terlalu dipikirkan Carten. Aku cuman berharap agar kau kelak tidak mengulangi kesalahanmu pada hari ini. Kau harus tetap bersabar dan melapangkan dada saat mempelajari ilmu atau ajaran baru. Semua hal baru itu sangat berguna dalam perkembangan kekuatanmu. Entah itu kau harus menempuh perjalan sampai seratus tahunpun, kau harus tetap bersabar dan tidak terburu-buru. Pastibbanyak hikmah yang kau ambil dari bersabar.” Sabda Tetua Agamemnon.

__ADS_1


“Terimakasih atas belas kasihnya Tetua. Untuk selanjutnya apa yang harus saya lakukan Tetua? Kali ini saya sangat memohon bimbingan dari Tetua Agamemnon.” Ucap Carsten menunduk serta berterima kasih.


“Baiklah aku menjelaskan terlebih dahulu mengenai penggambaran jiwa, sebelumnya energi roh yang terkumpul pada tangan kananmu jangan sampai memudar ataupun kembali ke wadah roh. Tetap pusatkan energi roh tersebut pada lenganmu selagi aku menjelaskan dan saat itu juga kau bisa langsung mempraktekannya.” Jelas Tetua Agamemnon.


__ADS_2