Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 92 – Hilangnya Kakek Hork


__ADS_3

Menit berganti menit baru, waktu terus bergulir.


Tapi aku masih belum bisa menemukan posisi mereka, bahkan aku tak dapat sedikit pun merasakan energi mereka.


Aku malah beberapa kali berpapasan dengan energi monster yang mulai melakukan aktivitasnya di sore hari, yakni berburu.


Waktu terus memburu, tapi keburuntungan tak kunjung datang.


Entah apa yang tengah terjadi dengan lainnya.


Setidaknya ketika mereka tersadar jika aku dan Kakek Hork tidak bersamanya, mereka pasti menghentikan perjalan.


Tak mungkin mereka rela meninggalkan kami berdua.


Sama sekali tak lucu jika mereka benar-benar meninggalkan kami dan menganggap kami telah hilang di dalam Hutan Laiquendi.


‘Kumohon Tuhan, pertemukanlah kembali aku dengan adikku, Saigiri’ pintaku pada Tuhan sang pencipta di tengah-tengah pencarianku yang tak kunjung membuahkan hasil.


Selain itu aku juga tidak mendengar sepatah kata pun dari Kakek Hork.


Apa dia baik-baik saja dan tidak ada monster yang menyerang kami berdua. Cukup lama dia tidak mengajakku bicara, meskipun aku tidak bisa menjawabnya.


Setidaknya dari ucapannya aku bisa tahu bagaimana keadaannya. Ingin aku menyerah sebab tubuhku mulai terasa lemas.


Tapi ini adalah satu-satunya kesempatan yang kami punya, tak ada alasan untuk menyerah sedini ini. Aku harus tetap berusaha.


‘Kumohon Kek bicaralah’ gumamku dalam benak.


Ingin aku membuka mataku dan memastikan sekitar, tapi hal itu akan membuat pencarianku beberapa menit ini akan sia-sia dan mengulangnya dari awal.


Dalam sunyi aku bertahan, hawa dingin merangkak dan menjalar ke seluruh tubuhku. Entah berapa lama aku dalam posisi duduk menyila, pikiranku jadi lebih fokus, dan dapat meluaskan area pencarianku.


Beberapa kali aku menemui sebuah energi. Entah itu dari monster yang mulai terbangun dan tengah berburu.


Aku tidak menyerah dan terus mengalirkan energiku ke seluruh penjuru. Alhasil aku menemukan suatu energi.


Begitu jauh di timur, itu adalah energi seorang manusia. Sayangnya energi itu tidak familiar denganku.


Mungkin itu energi yang dilepas oleh salah satu kesatria ataupun penyihir dari pasukan Adellia. Semoga saja dugaanku benar.


Aku sendiri tidak begitu yakin apakah itu benar-benar dari kelompok kami.


Namun jika dipikir oleh nalar, mana mungkin ada manusia selain kami yang sedang ada di dalam hutan ini.

__ADS_1


Tunggu, energi itu tidak sendirian, ada beberapa energi lain yang ada disekitarnya. Energinya berwarna hijau, mungkin ada seorang penyembuh yang sedang menggunakan sihir «Hilling».


Lagi-lagi energi itu terasa asing. Aku cukup tahu dan handal dalam membedakan ranah energi tiap individu yang berbeda, sebab aku selalu berlatih untuk memahami tiap perbedaan itu.


Di dalam kelompok kami hanya ada tiga penyembuh dan aku tahu semua jenis dan unsur sihir penyembuh. Tidak mungkin aku salah mengingat.


Sekiranya ada lima orang asing di sana, di antaranya ada dua penyembuh dan sisanya aku masih belum tahu pasti.


Aku harus memberi tahu Kakek Hork dan segera mengeceknya. Mungkin aku akan mendapat petunjuk lain.


Perlahan aku menarik kembali energi tenaga dalam yang aku keluarkan tadi.


Sedikit demi sedikit semua energi itu menuju terpusat ke dalam tubuhku, aku merasakan aliran energi dan tubuhku jadi terasa lebih ringan karena terisi kembali oleh energi tenanga dalam.


Dalam hembusan terakhir aku pun membuka mataku. Awalnya padanganku agak buram, tapi perlahan mulai fokus.


“Hey di mana kau Kek?!” Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutku ketika mendapati tak ada seorang pun yang ada di sekitarku.


Aku mencari di setiap penjuru, tapi tak kunjung menemukannya. Api unggun kian mengecil, menyisakan arang-arang yang bertebaran mengikuti hembusan angin.


Ke mana perginya Kakek Hork. Tak main-main kabut menebal cukup pekat. Cahaya matahari kian meredup, bahkan posisinya sudah tak lagi berada tepat di atas kepalaku.


Sekiranya jika dilihat dari posisinya, sekarang menunjukkan pukul tiga siang. Bisa kurang atau lebih. Aku tak tahu pasti.


Tidak mudah untuk mengalahkannya, apalagi jika ada pertarungan sebelumnya aku pasti sudah merasakannya sedari tadi.


Mungkinkah. Mungkinkah dikarenakan tidak ingin menganggu proses pencarianku, Kakek Hork sengaja menarik perhatian para monster untuk bertarung di luar jangkuanku.


“Sial...” geramku setelah tidak menemukan sama sekali jejak kakinya. Meskipun tanah di sini lembab dan akan mudah membuat jejak kaki.


Tidak. Aku kurang teliti. Ada satu jejak kaki yang menuju ke hilir sungai.


Tampak membentuk pola pijakan sebuah sepatu model lama, tak salah lagi ini adalah jejak kaki Kakek Hork.


Aku pun memutuskan untuk mengikutinya, langkah demi langkah menimbulkan getir dalam sanubariku. Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengannya.


Jika dilihat dari jejak langkah kakinya, sepertinya dia berjalan santai. Tapi semua kemungkinan bisa terjadi. Aku tidak bisa menganggapnya remeh.


Secuil api terlihat tepat di depanku. Meskipun tampak buram karena terhalang kabut, tapi aku cukup yakin itu adalah sebuah api unggun.


Itu mungkin Kakek Hork, tak ada seorang pun kecuali kami di sekitar sini. Mengesankan jika ada orang lain yang sedang berjalan-jalan di tengah hutan dalam keadaan berkabut seperti.


Hanya orang gila yang akan melakukan itu. Aku tak ada maksud untuk menyebut diriku sendiri sebagai orang gila.

__ADS_1


Jelas itu hal yang berbeda. Aku harus segera mengecek siapa yang menyalakan api unggun di dekat hilir sungai.


Langkah mulai aku percepat. Becek dan sedikit lengket. Semakin aku mendekati ke aliran sungai, tanah kian melembab dan tak jarang tergenang oleh sedikit air tawar.


“Siapa gerangan yang sedang menyalakan api unggun di sini?” tanyaku ketika jarak antara kami hanya tinggal beberapa meter saja.


Sekelebat bayang tersamarkan oleh kabut. Aku tak tahu pasti sesosok itu.


Tapi jika dilihat dari bayang-bayanganya, sekiranya sesosok itu hanya memiliki tinggi sekitar satu meter kurang.


Atau mungkin dia sedang menunduk ketakutan mencari bantuan yang tak kunjung datang. Aku pun memberanikan diri untuk lebih mendekatinya.


“Mungkinkah kau butuh bantuan?” tanyaku sekali lagi, tapi tetap aku tak mendapatkan sebuah jawaban.


Dia hanya diam membisu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


WA : 08973952193


IG : bayusastra20


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id

__ADS_1


__ADS_2