
[ Not Edited ]
“Aku akan menahan gerakannya, kau serang dia dari belakang jika ada kesempatan!” ucap Son bersiap menerima serangan dari Tyaga.
“Jangan gila! Kau tidak akan bisa menahan serangannya! Bisa-bisa kau malah terbunuh olehnya!” Hans menolak rencana sahabatnya. Mana mungkin dia membiarkan Son menjadi tameng, sedangkan dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Seperti biasanya kan?” balas Son menyiratkan sebuah senyuman.
“Biasanya? Apa yang kau maksud...”
Mereka berdua tidak memiliki waktu lagi untuk berdiskusi. Satu hal yang sedari awal disadari oleh Son, yakni benar saja apa yang dikatakan oleh Hans sebelumnya. Kali ini dia tidak mungkin bisa menahan serangan Tyaga dengan «Great Sword»-nya dan Son juga tahu, hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.
“Maaf... “ gumam Son lirih.
Pedang Tyaga terangkat tepat di atas kepala dan siap menebas kepala Son. Pupilnya melebar saat melihat silaunya hunusan pedang terpampang jelas. Son melihat dengan jelas saat pedang Tyaga perlahan mendekat. Ya. Perlahan. Dia merasa detik-detik ajal berjalan begitu lambat. Penuh akan alunan kematian.
Kini ujung pedang Tyaga terpaut hanya berapa senti dari Son, lalu dengan sekali tebasan pastinya akan memenggal kepalanya. Son hanya bisa terdiam pasrah mengingat dia sama sekali tidak bisa mengangkat pedangnya ataupun menghindarinya lagi. Keajaiban. Mungkin secuil harapan yang dia butuhkan sekarang, jika tidak ada. Maka dia berharap kematiannya tidak sia-sia.
“Sihir pengikat! «Bevestiger»!” Seseorang dari kejauhan dengan lantang merapalkan sebuah mantra sihir, dia adalah salah satu penyihir terbaik yang dimilliki Kerajaan Dordrecth. Terlihat tua dengan rambut yang mulai memutih dan mata yang berwarnakan merah hati.
Cahaya hitam dengan cepat merambat dari tangan kanan Kakek Hork ke tubuh Tyaga, mengikat tubuh, dan menghentikan ayunan pedangnya. Tepat sebelum pedang Tyaga benar-benar memenggal kepalanya Son.
“Kakek Hork...” ucap Son dan Hans serentak.
Kendati demikian Tyaga masih dapat menggerakkan tubuhnya sedikit demi sedikit. Mungkin karena efek dari monster yang tengah mendiami dirinya. Dengan susah payah Tyaga menoleh ke belakang, memastikan siapakah orang yang tengah mengannggunya.
“O-Oh ternyata kau ya....” ucap Tyaga terpatah-patah. Dia terlalu memaksakan lehenya untuk menoleh sehingga membuatnya pita suaranya mengecil dan susah untuk berbicara. Belum selesai Tyaga menyelesaikan ucapannya. Adellia langsung menghatam tubuhnya dengan sebuah tendangan, hingga membuatnya terpental jauh.
“Kalian tidak apa?” tanya Adellia sembari mengevakuasi Hans dan Son ke tempat lebih aman.
“Cukup buruk... Meskipun kami telah bertarung cukup lama, tapi Tyaga tidak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Monster itu sepenuhnya mengendalikan Tyaga selayaknya sebuah boneka, jadi stamina dan rasa sakit sama sekali tidak berefek padanya,” jelas Hans panjang lebar.
“Tak hanya itu kekuatannya juga tidak menurun sama sekali,” timpal Son merebahkan tubuhnya ke sebatang pohon.
__ADS_1
“Untungnya kemampuan bertarung monster itu masih di bawah Tyaga yang asli.” Son mengakhiri ucapannya dengan helaan napas berat.
Mendengar penjelasan dari mereka, Adellia jadi cukup yakin. Jika mengalahkan Tyaga bukan perkara yang mudah. Dibandingkan melawan monster-monster lainnya, melawan Majuu ini cukup sulit. Bagaimana tidak, Majuu itu terus bersembunyi di dalam tubuh Tyaga. Terlebih serangan fisik ketika terhadapnya juga tidak terlalu berefek.
Menurut penuturan Kakek Hork sebelumnya. Majuu itu berbentuk atas gumpalan kabut yang menyerupai monster srigala pada umumnya. Sayangnya ketika Kakek Hork menyerangnya dengan sihir «Gebarsten Grond». Majuu itu sama sekali tidak terluka, bahkan hantaman-hantaman tanah runcing malah menembus tubuhnya, benar-benar terbuat dari kabut.
“Apa kau memiliki cara lain, Kek?” tanya Adellia, tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari tempat Tyaga terpental.
“Entahlah, tapi tidak mungkin jika kita harus membunuh Tyaga.”
“Itu jelas! Kematian Tyaga akan percuma kalau rencana itu tidak bisa mengalahkan monster yang mendiaminya. Monster itu pasti akan memasuki tubuh yang lain. Percuman saja!”
Tyaga perlahan bangkit, banyak luka lebam di sekujur tubuhnya, darah kian merembes keluar dari lengan kirinya. Namun semua itu tidak berarti bagi Tyaga, karena sekarang dia hanyalah sesosok boneka yang tengah dikendalikan oleh seekor Majuu.
Tyaga kemudian mengatur beberapa pergelangan di tubuhnya yang sekiranya terkilir ataupun berpindah posisi. Cukup kasar hingga menimbulkan suara-suara ‘KRATAK’ yang lumayan keras, hingga dari kejauhan Adellia dan Kakek Hork bisa mendengarnya dengan jelas. Agak mengerikan juga ketika Tyaga menampakan raut wajah yang menikmati akan semua rasa ngilu itu.
“Ronde ketiga dimulai ya?” ucap Tyaga santai sambil mencari-cari di mana letak pedangnya jatuh.
“«Heilari»?” ucap Adellia lirih. Sebuah kata asing yang baru saja didengar olehnya.
“«Heilari» adalah sebuah kata kuno yang berasal dari pegunungan selatan, itu adalah kata lain dari seorang penyembuh.” Kakek Hork menjelaskan singkat yang dia ketahui.
Tapi tetap saja masih menimbulkan pertanyaan lain pada diri Adellia. Sayangnya hal itu bukanlah suatu hal penting yang harus dia ketahui, untuk sekarang adalah memikirkan bagaimana cara membebaskan Tyaga dari pengaruh Majuu itu, dan yang pasti jangan sampai membunuh Tyaga.
“Kau cukup tahu juga ya, Kek?” balas Tyaga memiringkan kepala sambil menjilati sisa-sisa darah kering yang ada di pedangnya. Agak menjijikan, apalagi darah kering itu telah bercampur dengan tanah.
“Sudah kuduga, darah elf itu sangat nikmat sekali. Meskipun sudah agak kering tapi masih terasa enak,” imbuhnya seraya terus menjilati sisa-sisa darah tersebut hingga pedang miliknya terlihat benar-benar bersih.
“Kalian ingin mencobanya?”
“TENTU TIDAK! DASAR MAKHLUK BIADAB!” umpat Adellia.
“Jaga bicaramu, nona kecil!” bentak Tyaga.
__ADS_1
TANG!!
Sontak pedang dan tombak beradu tajam di udara, membuat mereka berdua saling terpental beberapa meter ke belakang, dan pertarungan ronde ketiga pun dimulai.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
" S T A Y - S A F E "
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id
__ADS_1