
Dari kejauhan terdengat suara ledakan yang luar biasa diikuti dengan kepulan kabut asap yang tampak hitam pekat yang membumbung tinggi di atas awan.
Tampaknya tengah terjadi peperangan antara pasukan bala bantuan, tapi dengan siapa. Aku merasa ada sesuatu yang aneh.
Apa mungkin monster seperti Zardock muncul, monster yang diselimuti oleh bayangan hitam.
Tak mungkin, bahkan aku sendiri tak merasakan secuil energi yang dikeluarkan oleh seekor monster apapun itu.
Kedua tanganku bersiap-siap untuk melepas pedang dari sarung, jika tiba-tiba terjadi serangan kejutan.
Sebab aku sama sekali tak dapat merasakan adanya energi yang terpancang dari para monster, meskipun aku telah memaksimalkan kemampuanku dalam pencarian energi.
Padahal terlihat jelas ada pertarugan hebat yang tengah menunggu kedatangan kami.
Pikiranku nan mulai kacau, sedangkan hati yang tak setenang tadi. Aku tahu, perasaan ini adalah perasaan ketika kaki kalian berpijak ke dalam medan pertempuran.
Ya. Benar-benar sebuah peperangan, di mana kalian mau tidak mau harus siap menghadapi segala resiko. Bahkan tak jarang maut akan jadi taruhannya.
Suara ledakan dan ayunan pedang akan menjadi alunan simponi peperangan yang terdengar nyaring di telinga kalian.
Mata, mulut, telinga. Tidak, tidak hanya itu. Seluruh anggotah tubuh, bahkan sel-sel kalian pun akan merasakan sebuah ketegangan yang luar biasa hebat.
Otak kalian seakan meleleh. Kau mungkin tidak akan bisa mengenali siapa dirimu kala itu, entah kau percaya itu adalah ragamu atau bukan. Kau akan tetap bangun untuk melanjutkan pertempuran.
Jika diharuskan untuk mati, niscaya kau akan mati dengan cara yang terhormat sebab apa yang kalian tunai adalah sebuah kewajiban untuk mendapatkan suatu kemenangan.
Jarak semakin dekat. Suara ledakan kian terdengar nyaring di telingaku.
Kepulan-kepulan debu bertebaran berpadu dengan kabut nan semakin pekat hingga membuat sekitar benar-benar buram dan buta.
Kami tetap dalam posisi segitiga. Aku yang paling depan, sementara di belakangku ada kesatria yang menjaga sisi kiri dan Kakek Hork menjaga sisi kanan dan belakang.
Setapak demi setapak menumbuhkan getir dalam sanubariku.
Sesekali dalam sekilas kabut, aku dapat melihat beberapa pasukan tengah terluka parah dengan tubuh yang dengan luka dan darah.
Untuk kesekian kalinya aku menyaksikan keadaaan mengenaskan seperti ini. Tapi aku hanya bisa diam dan terus melangkahkan kaki menuju tempat yang lebih aman.
Lebih tepatnya di pusat kamp perkemahan.
“Ada yang datang!” teriak seseorang nan jauh di depanku. Mungkin salah satu pasukan menyadari kehadiran kami.
Tiba-tiba kilasan cahaya merah, sebuah «Great Fire Ball» mangarah ganas ke arah kami bertiga.
Astaga, mereka mengira kami adalah monster yang akan menyerang. Tak hanya satu, melainkan lima bola api pijar membara.
“Sial apa-apaan mereka!” ujarku kesal.
__ADS_1
“Bersiap terjadi ledakan,” imbuhku memberi tahu Kakek Hork dan si kesatria agar bersiap untuk menghindari serangan brutal itu.
Berbeda denganku yang tampak kacau, Kakek Hork malah dengan santainya berjalan mendahuluiku.
Dia sama sekali tidak takut dengan kelima «Great Fire Ball» itu. Bahkan pijakan kakinya tak mundur sejengkal pun.
Setelah merasa cukup mengumpulkan energi sihir, dia kemudian merapalkan sedikit mantera. Terlihat kedua cincinnya mengeluarkan cahaya yang berbeda.
Di sebelah kiri terpancar sinar berwarna hijau kebiruan, sedangkan cincin yang dia pakai di tangan kanannya memancarkan cahaya ungu cerah.
Entah Kakek Hork akan menggunakan sihir seperti apa, dapat aku pastikan adalah itu adalah sihir yang digunakan olehnya untuk menghalau «Great Fire Ball».
Sesungguhnya untuk menghalau satu «Fire Ball» seperti miliknya Zardock saja susahnya minta ampun, apalagi ini sampai lima «Great Fire Ball».
“Bersembunyilah di belakangku kalau tak ingin terluka,” ucap Kakek Hork, tampak cahaya barrier atau sebuah pertahanan muncul dari kedua cincin.
Mungkin dia menggunakan sihir pertahanan lapis ganda. Jadi pertahanannya akan menjadi dua kali lipat, atau bisa jadi lebih kuat lagi.
lapisan pertama berasal dari cahaya cincin sebelah kiri, sedangkan di lapisan kedua terdapat barrier atau tameng berbentuk kristal segi enam.
Terlihat pada lapisan kedua ini memiliki ketebalan lebih dari pada lapisan pertama.
Tunggu ternyata aku salah lihat. Ternyata Kakek Hork menggunakan tiga lapisan tameng.
Lantas apa yang menjadi lapisan ketiganya. Lapisan itu berada di antara kedua lapisan dan berasal dari kristal penghalang yang ada di sakunya.
“Beruntungnya aku masih menyimpannya,” gumam Kakek Hork.
Aku bersama kesatria penunjuk jalan langsung berlari mendekat ke belakang Kakek Hork guna berlindung dari efek ledakan «Great Fire Ball».
Sebagai petarung yang menggunakan kemampuan fisik, kami tak mungkin bisa menghalau serangan sihir.
Kami berdua hanya dapat menghindarinya saja. Tapi akan percuma jika kita berusaha menghindari serangan yang memiliki area dan daya ledak seperti serangan bola api pijar.
“Sihir penghalau tiga lapis «Drievoudig Schild»!” ucap Kakek Hork menguatkan ketiga lapis cahaya yang keluar dari tiap item yang dia miliki.
Cahaya-cahaya itu kemudian membentuk sebuah kristal segi enam, tampak tebal dan kuat. Apalagi ada tiga lapis. Mungkin cukup untuk menahan gempuran dan ledakan.
“Tiga lapis?!” Kesatria yang berada di sampingku tampak terkejut ketika mengetahui Kakek Hork mengeluarkan sihir penghalau tiga lapis.
“Luar biasa!” ucapnya menekankan pada rasa terkesima.
“Apa ada yang aneh?” tanyaku padanya.
“Ini sungguh luar biasa,” ucapnya sekali lagi tanpa mempedulikanku sedikit pun.
“Hey!” selaku menampar pipinya pelan, meminta perhatiannya.
__ADS_1
“Kenapa kau begitu terkejut?” tanyaku lagi.
“Maafkan aku Tuan, tapi ini sungguh luar biasa,” balas kesatria itu.
“Bagaimana aku tidak terkejut, bahkan...”
Belum selesai dia bicara.
Seketika ledakan hebat terjadi tepat di depanku. Cahayanya sangat silau sehingga aku menyipitkan kedua mataku.
Begitu juga angin berhembus kuat karena efek ledakan sehingga menghempaskan kesatria yang ada di sampingku, sebab dia tidak menyiapkan diri.
Dentuman sebesar itu mana mungkin tidak diikuti oleh hempasan angin nan kuat.
Itu hanya ledakan gelombang pertama, masih ada empat gelombang ledakan lagi.
Apakah Kakek Hork mampu menahan semua ledakan semua itu.
‘Kau pasti bisa Kek,” ucapku lirih dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id
__ADS_1