Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 39 – Balok Bata


__ADS_3

“Permisi Tetua Agamemnon, ini balok-baloknya sudah saya siapkan.” Ujar Guru Allys.


“Taruh saja di depan Carsten, tumpuk balok tadi membentuk susunan tiga lapis dan beri penyangga di bawahnya.” Suruh Tetua Agamemnon untuk menguji sampai di mana peningkatan kekuatan dari Carsten.


“TIGA BALOK?!” Semua murid tercengang ketika mendengar jumlah lapisan balok tersebut, ditambah lagi satu balok batu bata itu mempunyai tebal hampir delapan puluh sentimeter. Kalau ditotal tebal labisan balok bata tersebut kurang lebih 240 sentimeter, setinggi Elf dewasa. Itu bukanlah tebal lapisan yang wajar.


Rekor salah satu murid Akademi Bunga Hijaupun baru sampai tebal satu meter saja, itupun pada masa kejayaan Akademi Bunga Hijau. Rekor tahun inipun masih dipegang oleh Son yang baru bisa memecahkan balok dengan tebal delapan puluh sentimeter. Jadi semua murid menganggap itu hal yang mustahil jikalau harus memecahkan balok setebal dua meter lebih.


Guru Allys pun menata balok-balok tersebut menjadi tiga lapisan balok, serta menyiapkan sebuah kursi untuk dijadikan pijakan agar bisa mencapai lapisan paling atas. Sementara para pekerja, sebelumnya telah menyusun penyangga yang menggunakan balok pula dengan tinggi sekitar setengah meter.


“Semua sudah siap Tetua.” Ucap Guru Allys.

__ADS_1


“Terimakasih atas bantuaannya Tuan Allys, kau boleh kembali ke tempat para guru.” Balas Tetua Agamemnon. Guru Allys memberi salam dan langsung berbalik ke barisan.


Setelah merasa cukup dengan latihan singkat pengendalian energi roh, Carsten pun membuka matanya dan apa yang pertama kali dia lihat. Bukan main terkejutnya Carsten ketika menengok segunung balok batu bata setinggi tiga meter lebih tepat di depannya.


“Tetua Agamemnon, apa maksudnya ini?” Ucap Carsten lagi-lagi dibuat bertanya-tanya oleh kelakuan Tetua Agamemnon.


“Hahaha.... apa kau terkejut melihatnya? Kau akan memecahkan susunan balok itu.” Sahut Tetua Agamemnon.


“Apa kau takut, Carsten? Bukankah kekuatanmu telah meningkat berkali-kali lipat.” Canda Tetua Agamemnon. Tapi tetap saja lapisan setebal itu sangat tidak wajar, menggunung sampai mencapai dua meter lebih.


“Tapi Tetua, mohon maaf atas ketidak percayaan diri muridmu ini. Terakhir kali waktu saya mengecek kekuatan saya dengan memecahkan balok batu bata hanya sampai susunan dua balok lapis medium, yang tebalnya sekitar enam puluh sentimeter saja.” Ucap Carsten menjelaskan kekuatannya.

__ADS_1


“Wah itu lebih dari cukup untuk memecahkan balok setebal ini wahai anak muda, hahaha....” Yakin Tetua Agamemnon. Aku sedikit kepikiran dengan Kakek Hork dan Kakek Hisyam, apa kelak waktu aku sudah tua akan seperti mereka. Suka bercanda dan tertawa, terlebih lagi suka memanggil kaum muda dengan sebuatan wahai anak muda. Cukup menyeramkan juga menjadi tua.


“Maksud Tetua bagaimana? Terpampang jelas di sini ada sebuah susunan balok bata setebal dua meter lebih, sedangkan saya hanya bisa memecahkan lapisan balok bata setebal setengah meteran. Bagaimana mungkin saya bisa memecahkan balok ini Tetua? Mohon bimbingannya Tetua Agamemnon.” Bingung Carsten.


“Gunakan saja energi roh yang kau punya. Alirkan energi roh tersebut tepat ke telapak tangan dan jangan kau alirkan ke seluruh tubuh. Fokuskan pengendalian energi rohmu untuk mengalir pada satu titik. Setelah itu hempaskan kekuatan dalam satu hembusan napas.” Jelas Tetua Agamemnon.


“Tenangkan dirimu, Carsten. Jangan panik, panik hanya akan membuat pengendalian energi rohmu terganggu dan kau tidak dapat mengeluarkan kekuatan maksimal dari energi roh.” Imbuhnya.


Dengan langkah pasti Carsten berjalan menuju kursi yang telah disiapkan sebagai pijakan. Tampak sorot matanya tajam serius dan pupil kian membesar pertanda dia lagi meningkatkan fokus. Dia meletakkan telapak tangannya tepat di atas tiga lapisan balok bata dan mencoba mencari posisi yang tepat di tengahnya. Beberapa kali dia menganti posisi lekuk tubuh agar tepat supaya dapat menambah daya tekan dari hentakan telapak tangan.


“Ingat kataku, alirkan energi roh itu ke dalam telapak tanganmu dan hentakan kekuatannya dalam satu pukulan. Atur pola pernafasanmu agar energi roh yang terkumpul menjadi stabil dan mudah untuk dikendalikan. Ingat sekali lagi, hentakan dalam satu kali hembusan napas.” Ucap Tetua Agamemnon.

__ADS_1


Carsten sangat fokus sampai-sampai ucapan Tetua Agamemnon hanya terdengar bagaikan bisikan hembusan angin, tapi yang pasti dia telah mengerti cara yang diajarkan Tetua dan tidak gentar lagi menghadapi lapisan tebal dua meter balok bata. Dia cukup yakin sekarang bahwa dia mampu membelah balok bata yang ada tepat di depan matanya. Cukup menarik bukan.


__ADS_2