Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 90 – Kabut Tebal


__ADS_3

“Bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan kita,” ajak Hans menghadap lainnya yang tengah sibuk dengan urusan masing-masing.


Ada yang sedang menghelai rambut kudanya dan beberapa lainnya masih fokus memberi pakan dan minum.


“Atau mungkin kita akan beristirahat lebih lama lagi?” tanyannya sekali lagi meminta pendapat teman-teman beserta segelintir pasukan yang dipimpin oleh Adellia.


“Alangkah baiknya jika kita melanjutkannya sekarang, Hans. Keburu siang berganti sore,” balas Adellia seraya melepaskan ikatan tali yang mengikat kudanya dan bersiap menungganginya.


“Aku setuju dengan ucapannya Adellia, bukankah lebih baik jika mencapai tempat perkemahan para pasukanlainnya sebelum malam menjelang,” tandas Saigiri.


Dia mendekati kerumunan dengan langkah kecil lalu mengutarakan pendapatnya.


Semua pun setuju. Lagi pula kami sudah lumayan beristirihat dan stamina kuda-kuda pun usai terisi penuh.


Sekirannya cukup untuk kembali menempuh perjalanan selama beberapa jam lagi.


Syukur-syukur bisa mencapai kamp perkemahan pasukan sebelum kuda kami kehabisan stamina.


Kakek Hork sendiri tak banyak berkomentar langsung menunggangi kudaku dan berjalan ke arahku.


“Kali ini aku yang akan mengemudikannya, kau cukup bersantai memboncengku,” ucap Kakek Hork seraya mengulurkan tangannya guna membantuku untuk menaiki punggung kuda.


“Semuanya bersiaplah, kita akan tetap menggunakan formasi yang sama seperti tadi,” Ujar Hans mengambil posisi terdepan langsung disusul oleh Son dan seterusnya.


“Jangan sampai ada yang tertinggal,” imbuhnya mengingatkan sekali lagi.


Setelahnya dia langsung memacu kudanya, cepat melesat menerobos semak-semak yang menghalangi laju pacuannya.


“Kita ambil hilir yang ada di sebelah kanan,” ucap Son dengan nada lantang.


Semuanya pun mengikuti dan membelokkan kudanya ke kanan, lalu memacunya dengan kecepatan tinggi.


Aku melihat jarak dari barisan paling belakang kian menjauh, tidak mungkin kudaku akan lelah secepat ini.


Bahkan belum ada setengah jam lamanya, tapi mengapa kecepatannya jadi menurun. Sebenarnya apa yang sedang menganggu laju kudaku.


“Kek, jangan sampai ketinggalan! Mereka semakin jauh!” ucapku mengeraskan suara.


“Tenang saja wahai anak muda, kita tidak akan tersesat,” balas Kakek Hork santai.


“Bukan masalah tersesat ataupun tidaknya, tapi bisa-bisa kita kehilangan jejak mereka.” Aku menepis argumennya yang lagi-lagi tak masuk di akal.


“Meskipun kita kehilangan jejak mereka, kita tinggal mengikuti aliran hilir ini dan pastinya kita akan bertemu dengan mereka lagi di muara sungai ini.” Kakek Hork tetap mengeyel tidak mau menaikan kecepatan.

__ADS_1


“Ah sudahlah cukup! Kita berganti posisi saja, aku yang akan memacunya sekarang!” ujarku kesal dengan semua ucapannya.


Bagaimanapun juga jarak dengan kereta kuda yang berada di barisan paling belakang kian menjauh.


Bahkan sesekali hanya tersisa bayangangan silau dari lentera nan digantung di masing-masing samping kereta kuda.


Namun Kakek Hork meronta-ronta tak mau berganti posisi denganku.


Alih-alih bertukar tempat, dia malah menghentikan laju kudaku. Alhasil kami benar-benar kehilangan jejak dari kereta kuda.


Padahal itu adalah secerca harapan bagi kami berdua ketika kehilangan yang lainnya karena lenyap dalam kabut tipis.


Sial. Sungguh sial. Tak aku sangka aku akan tertinggal bersama kakek-kakek tua.


“Ini semua gara-gara kau yang memaksaku untuk berganti posisi,” ucap Kakek Hork memarahiku seraya menyuruhku untuk turun dan memastikan daerah sekitar.


“Hah?! Gara-gara aku?! Jika aku tidak segera mengambil alih kemudi, tak lama kita juga akan tertinggal,” balasku ikutan geram dan memarahinya.


“Kenapa kau malah menyalahkanku?!” Kakek Hork menaggapi ucapanku dengan nada tinggi, tak mau kalah denganku.


Meskipun terdengar jelas nan parau suaranya.


Aku pun harus mengalah, sebab semakin kami larut dalam dialog ini maka jarak kami akan semakin jauh dan lebih sulit lagi untuk mengejarnya.


Aku langsung melesat memecut kuda untuk lari secepat mungkin.


Sepertinya aku harus menunjukkan kemampuan berkuda yang sesungguhnya.


Sama halnya Son dan Hans, justru kemampuanku bisa dikatakan di atas mereka.


Kelihaian mereka berdua memacu kuda memang bisa dibilang hebat dan luar biasa, namun itu bukan apa-apa jika tidak bisa menyatukan diri dengan kuda yang tengah ditungganginya.


Kali ini mereka cukup terbantu dengan kuda kerajaan yang memiliki kualitas dan kekuatan fisik jauh di atas rata-rata kuda pada umumnya.


Tapi apakah Hans dan Son juga bisa memperlihatkan kemampuan itu ketika menunggangi kuda biasa, atau bahkan kuda pas-pasan seperti milikku.


Pastinya membutuhkan kemampuan lainnya untuk memaksimalkan kinerja dari kuda, yakni kemampuan untuk mengetahui jati diri dari kuda tersebut.


“Apa kau yakin berlari sekencang ini?” ucap Kakek Hork sejenak mengalihkan fokusku.


Aku hanya terdiam dan fokus ke arah depan mencari secerca cahaya lentera d antara kabut-kabut yang mulai menebal.


Padahal matahari kian tinggi tegak di atas kepala kami, tapi sinarnya terus bersusah payah beradu dengan pepohonan untuk bisa menghujam bentala.

__ADS_1


Menyisakan secuil berkas cahaya, itu pun tampak kabur terkikis oleh kabut yang bertebaran lepas. Entah kabut ini berasal dari mana.


Meskipun masih tengah hari tapi aku merasa sedang berjalan di petang hari.


Tidak. Lebih tepatnya seperti lagi menjelajahi suatu tempat nan dipenuhi oleh kabut dan minim pengcahayaan.


Aku hanya merasa aneh saja. Suasana ini sangat berbeda sekali dengan kemarin, biarpun dari segi selang waktunya juga tak jauh berbeda.


Jelas-jelas kemarin aku tak menemukan setipis kabut apapun itu, tapi sekarang lihatlah.


Semakin jauh kami menyelusuri Hutan Laiquendi, kabut pun tiba-tiba berasa makin tebal.


Entah apa yang sedang menunggu kami di depan.


Bagaimana juga kami sudah melangkah sejauh ini, tak mungkin kami harus mundur atau lari dari suasana nan kian mencekam dan mengecutkan hati.


Mudah-mudahan tidak terjadi hal-hal yang tak kami inginkan. Semoga saja.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


WA : 08973952193


IG : bayusastra20

__ADS_1


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id


__ADS_2