
“Sampai di sini apakah ada yang ditanyakan lagi?” Tanya Tetua Agamemnon.
Semua murid mengangguk pertanda bahwa semua telah paham dan Tetua Agamemnon melanjutkan penjelasan tentang proses selanjut, yakni proses penyamaan karakteristik antara energi roh yang di dapat dari Mutiara Roh dengan Ranah Roh milik kita.
“Hakikatnya setiap makhluk memiliki karakteristik roh yang berbeda-beda. Begitu pula dengan energi roh yang dihasilkan oleh suatu makhluk hidup. Makhluk pemangsa memiliki roh yang aktif dan ganas, biasanya Senjata Roh yang dihasilkan oleh makhluk pemangsa memiliki bentuk senjata serang, seperti pedang, tombak, pisau, dan lainnya. Sedangkan makhluk yang memiliki pertahanan atau tubuh besar, serta tidak memiliki insting untuk menyerang, biasanya Senjata Rohnya akan berbentuk pertahan, seperti perisai, baju zirah, tameng, serta masih banyak lagi jenis Senjata Roh.” Jelas Tetua Agamemnon.
“Namun...” Ucapannya terhenti untuk sementara.
“Setiap energi roh dapat mencocokkan diri dengan ranah roh pemilik barunya. Akan tetapi bentuk Senjata Rohnya akan tetap sama dengan inti roh dari makhluk tersebut.” Tambahnya.
“Tapi tetua, apakah setiap manusia dapat mengendalikan dua energi roh sekaligus?” Tanya seorang murid yang berbaris di deretan tengah.
“Dapat.” Jawaban singkat dari Tetua Agamemnon. Mungkin tetua lumayan marah sebab tanpa ada hormat dan ijin sebelum dia bertanya, bahkan murid itu tidak mengancungkan tangannya terlebih dahulu. Sungguh sangat tidak sopan, Tetua Agamemnon adalah orang kedua di Kerajaan Laiquendi setelah Raja Achille.
“Mohon maaf sebelumnya Tetua Agamemnon yang saya hormati. Dapatkah tetua menjelaskan lebih detail lagi mengenai pengendalian dua atau lebih energi roh tersebut?” Pinta salah satu alumni lainnya, Ganicca.
“Iya, aku akan menjawabnya nanti. Sekarang saatnya Carsten untuk memulai proses penyamaan karakteristik dari kedua roh tersebut. Proses penyamaan ini jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan proses-proses sebelumnya.” Ucap Tetua Agamemnon.
__ADS_1
“Baik Tetua Agamemnon, terimakasih telah berkenan menjawab pertanyaan saya nanti.” Kata Gannica undur diri kembali ke barisan.
“Saat kedua roh tersebut telah berada dalam satu wadah, kau tinggal meleburkan kedua roh tersebut agar menjadi satu kesatuan cairan roh yang memiliki karakteristik yang sama.” Imbuh Tetua Agamemnon sambil memperlihatkan sebuah bulatan kecil dengan dari jari tuanya.
“Lantas bagaimanakah caraku untuk menyatukan antara energi roh dari Mutiara Roh dengan ranah roh milikku yang sudah memenuhi wadah tersebut sebelumnya.” Tanya Carsten kebingungan.
“Itu cukup mudah, Carsten.” Kata Tetua Agamemnon tersenyum tipis menghadap para murid.
“Kau cukup memasaknya saja.” Imbuhnya singkat.
Sebuah jawaban yang benar-benar di luar nalar para murid akademi, bahkan aku dan teman-teman yang menempati barisan paling depan juga ikut bergeleng-geleng kepala karena keheranan. Terlihat Carsten yang sedari tadi menampakkan wajah yang elegan, sekarang dia memperlihatkan mulut melongo setelah mendengar penjelasan dari Tetua Agamemnon.
“Mohon maaf sebelumnya Tetua Agamemnon. Saya tidak mengerti dengan perkataan tetua tentang memasaknya tersebut.” Jelas Carsten.
“Oh... Jadi yang kalian bingungkan adalah cara memasak energi roh?” Tetua Agamemnon berbalik tanya.
“Benar sekali tetua, bagaimana cara memasak roh tersebut? Apakah hal tersebut berhubungan dengan proses penyamaan?” Tanya Carsten.
__ADS_1
“Itu sangat mudah, kalian tinggal mendidihkan ranah roh kalian dan otomatis energi roh yang sudah kalian kumpulkan akan termasak dengan sendiri. Hubungan antara pemasakan energi roh dengan proses penyamaan adalah untuk menyamakan karakteristik dari energi roh tersebut agar melebur menjadi satu karakteristik dengan ranah roh kalian.” Jelas Tetua Agamemnon.
“Cara untuk memanaskan ranah roh kalian adalah dengan konsentrasi penuh, sama seperti waktu proses pemusatan. Perbedaannya adalah fokus kalian hanya pada satu titik saja, yakni pada wadah tersebut.” Kata Tetua Agamemnon melanjutkan perkataannya.
“Cukup mudah bukan?” Tandas Tetua Agamemnon meyakinkan .
“Iya tetua, tapi... “ Balas Carsten masih ada kejanggalan di dalam hati.
“Coba kau praktekannya langsung. Kalaupun ada masalah, kau tinggal bilang ke tetuamu ini.”
“Baiklah saya akan mencobanya, tetua.” Carsten menutup matanya dan mulai berkonsentrasi. Aura energi roh yang tadi sempat menghilang kini muncul kembali dengan pancaran yang sedikit memudar.
Tetua Agamemnon kembali menjelaskan bahwa itu adalah sisa energi roh yang belum terpusat dan masih berkeliaran di dalam tubuh. Energi roh yang belum terpusat memang sulit untuk dikendalikan. Selain itu, energi roh bebas juga memiliki fungsi yang lain sebagai penambah kekuatan fisik dan daya tahan tubuh bagi pemiliknya. Sayangnya fungsi itu hanya bertahan beberapa minggu saja, sampai energi bebas tersebut benar-benar menghilang.
Banyak ilmu lain tentang pengendalian roh, pengambilan inti roh, dan masih banyak lagi yang belum kami ketahui. Sebab selama ini di Akademi Bunga Hijau kami hanya mempelajari tentang ilmu bertarung, bela diri, pelajaran meningkatkan kemampuan diri, dan ilmu penggunaan senjata perang. Serta ilmu-ilmu pelajaran umum seperti berdagang, ekonomi, ilmu sosial, dan ilmu alam.
Di dalam perpustakaan kerajaan masih banyak buku-buku kuno yang sama sekali belum pernah diajarkan oleh guru-guru di akademi. Hanya beberapa orang saja yang memilih untuk mempelajari ilmu-ilmu rahasia tersebut, contohnya adalah Hans. Akademi Bunga Hijau selalu menanamkan pola pikir, orang kuat akan selalu di atas sedangkan orang lemah akan selalu di bawah.
__ADS_1
Hal itu bukan untuk mengajarkan muridnya untuk menjadi kaum penindas, melainkan agar murid-murid Akademi Bunga Hijau memiliki kemampuan dan kekuatan di atas orang rata-rata. Jadi selama ini di akademi hanya mengunggulkan bagaimana cara agar murid-muridnya menjadi kuat, tanpa mempedulikan bagaimana keadaan dunia luar.
Inti dari semua pokok permasalahan adalah kami, sebagai Ras Elf selalu menyendiri di dalam Hutan Alliqendi dan mengasingkan diri dari dunia luar. Sehingga menyebabkan ketinggalan jauh tentang berita dan keadaan di luar hutan ini. Bukannya burung dalam sangkar, namun kami adalah burung yang membuat sangkar sendiri untuk sembunyi dari dunia luar. Miris sekali.