Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 52 – Berbincang


__ADS_3

Dari balik pohon besar yang kuceritakan sebelumnya aku melihat seekor panda kecil yang tengah makan beberapa potong bambu kecil dengan santainya. Tanpa sadar tubuhku melangkah mendekati panda kecil itu. Tampak menggemaskan dengan mata mungilnya yang berhiaskan bulatan bulu hitam di sekitarnya. Tangannya nan mungil sedang memegang sepotong bambu, raut wajahnya sangat lucu ketika mulut mininya penuh dengan dedaunan dan beberapa serat bambu.


Aku pun membawa panda kecil untuk pergi meninggalkan hutan ini. Walaupun aku sendiri sama sekali belum pernah merawat hewan apapun, tapi hatiku tak ingin meninggalkan panda ini sendirian di sini. Entah apa yang akan dikatakan oleh Saigiri atau Ayah. Atau mungkin aku akan merawatnya diam-diam di Hutan Laiquendi.


Pikirku. Namun aku tidak tahu bagaimana kembali ke tubuh asliku dan keluar dari hutan nan lebat ini. Bahkan diriku tak mengetahui kenapa aku sekarang tersesat di hutan ini. Padahal sebelumnya aku berada di aula akademi dan sedang melakukan ritual pengambilan inti roh dari Mutiara Roh.


Mungkinkah aku sekarang berada di dalam dunia Mutiara Roh. Apa ini yang dirasakan oleh semua orang ketika ingin atau sedang mengambil inti roh. Tapi Carsten sendiri sama sekali tidak mengatakan hal ini, dia hanya menyebutkan pertemuannya dengan binatang Kerbau Tanduk Sabit, itupun saat berada di dalam ranah roh miliknya.

__ADS_1


Tidak mungkin hanya aku yang mampu ke sini. Memang tadi aku meminta kepada dewa agar mendapatkan hewan atau inti roh yang bertipe langkah, namun dalam doa itu aku tidak meminta inti roh yang kuat ataupun luar biasa. Cukup yang berbeda dengan inti roh milik teman-teman, agar aku menjadi pembeda di antara mereka. 


‘Tunggu.... apa mungkin panda kecil ini yang akan menjadi inti rohku? Atau mungkin dewa telah menjawab permintaanku dan memberikanku inti roh yang langkah. Jadi....’ gumamku dalam benak.


“Hey panda kecil...” sapaku yang sedang menggendongnya menyelusuri tiap inci dari Hutan Mutiara Roh, itulah nama yang aku berikan pada tempat ini. Bodohnya aku, mana mungkin panda kecil itu mengerti bahasaku.


“Mungkinkah kau mengerti perkataanku tadi?” tanyaku untuk memastikan apa benar panda kecil ini mengerti atau hanya kebetulan semata. Tapi lagi-lagi panda kecil merespon ucapanku, kali ini dia mengangguk. Jadi tak salah lagi kalau panda ini mengerti bahasa manusia.

__ADS_1


Seraya menyelusuri tiap bagian hutan serta mencari jalan untuk kembali ke tempat semula, kami pun berbicang dan bercerita tentang banyak hal. Dari awal ketika aku melawan Zardock, melindungi desa, bahkan saat menyaksikan kematian ibu di depan mataku sendiri. Aku bercerita ria tatkala pertemuan pertamaku dengan Adellia, Kakek Hork, dan pasukan bala bantuan lainnya.


Aku ceritakan semua hal-hal yang baru saja aku alami, walaupun perbincangan dengan panda kecil hanya satu arah. Memang dia mengerti dengan bahasaku, namun dia tidak dapat berbicara selayaknya manusia biasa. Tetua Agamemnon juga tidak menjelaskan bahwa hewan ataupun makhluk mampu memahami bahasa manusia, atau mungkin Tetua Agamemnon sendiri belum mengetahui hal tersebut. 


Sekiranya untuk sekarang ada hal yang bisa aku banggakan, bertemu dengan salah satu hewan langka dan mengajaknya berbicara. Kalau bisa aku akan jadikan panda kecil ini untuk menjadi energi roh dan Senjata Rohku yang pertama. Hanya saja bagian tubuh dari panda kecil ini manakah yang dapat aku jadikan sebagai Senjata Roh, dilihat dari manapun mana mungkin aku tega mengambil salah satu bagian tubuhnya. Bahkan panda ini masih sangat kecil dan tampak tidak memiliki kekuatan apapun.


Tanpa aku sadari waktu berjalan begitu cepat. Secerca cahaya ilahi perlahan menghilang satu persatu digantikan oleh heningnya malam. Kicauan burung yang tadi melantun merdu kini tergantikan dengan melodi kegelapan dari senandung burung hantu. Bersahutan sendu, serat akan alunan kekelaman, berbeda sekali ketika malam telah tiba. Sangat mencekam, membuat jantung tak mau berhenti untuk berdetak kencang. Sedangkan kaki ini harus terus melangkah untuk mencari jalan pulang.

__ADS_1


__ADS_2