Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 110 – «Viehoekige Beschermer»


__ADS_3

“Apa mereka baik-baik saja?” tanyaku memastikan keadaan kedua temanku, Hans dan Son.


“Tentu saja,” balas Adellia singkat.


“Cepat kau ambil pedangmu dan kembalilah bertarung!” tuntasnya.


Dia lalu pergi meninggalkanku dan menerjangkan tombaknya, menggila, munusuk, dan membunuh banyak monster.


Tak mau kalah darinya aku langsung pergi. Tidak mungkin bagiku untuk terus berdiam. Tepat sebelum aku beranjak dari tempatku, ada satu monster srigala yang berani menyerangku dari belakang.


Meskipun aku tidak bersenjata, tapi jika membunuh satu monster bukanlah hal sulit bagiku. Monster itu menyerang dari balik punggungku.


Aku lantas merendahkan tubuhku dan melancarkan sebuah tendangan lurus dengan posisi tubuh rendah dan tentunya tendangan itu menggunakan pisau kaki.


Aku mengincar uluh hati monster itu dan mengakhiri dengan tendangan sapuan yang membuat monster itu terhempas jauh.


‘Kau masih beruntung karena aku tidak bisa membunuhmu,’ gumamku di dalam batin.


Cahaya biru dari empat penjuru kini sudah menyatu menjadi satu titik.


Lubang cincin yang muncul dari kristal sihir mulai memadukan semua cahaya biru, mengitarinya, spiral dan membentuk sebuah lingkaran sempurna nan berwarna biru cerah.


Selain itu langit kian memekat, sesekali memuncul petir biru yang membunuh satu per satu monster. Cukup ganas, tapi tak ada satupun petir itu mengenai kami.


Mungkinkah itu ulah dari Aalisha yang tengah mengendalikan energi sihir dari kristal sihir. Aura yang terpancar dari dalam dirinya juga terasa berbeda dengan sebelumnya.


Sama halnya saat Adellia menggunakan senjata yang terlahir dari jiwanya. Tak hanya mendapatkan senjata suci, tubuhnya juga mengalami peningkatan kekuatan.


“Bersiaplah!” teriak Aalisha menarik perhatian kami semua.


Tunggu, aliran energi sihir apa ini. Begitu kuat, besar, dan tajam.


Energi sihir ini tak berasal dari diri Aalisha, melainkan langsung dari kristal sihir beserta energi sihir yang menjalar ke angkasa.


Mungkinkah Aalisha ingin melepaskan energi sihir itu.


“Cepat berlindung!” imbuhku seraya berlari menjauh dari tempat Aalisha.


Semuanya pun ikut bersembuyi dari balik puing-puing tenda dan ada beberapa kesatria yang berlindung di belakang tubuh besar para rakshasa.


Aku berusaha mencapai tempat di belakang balok kayu yang tersunsun kokoh.


“«Viehoekige Beschermer», sihir pelindung empat penjuru!” tuntas Aalisha merapalkan mantra sihirnya.


Sialnya belum sempat aku bersembunyi, energi sihir memecah dan menghempas semua benda yang ada di sekitarnya.


Tekanannya begitu kuat, bahkan para rakshasa juga ikut terhempas meskipun memiliki tubuh besar.


Banyak tenda yang berterbangan dan puing-puing lainnya yang tidak kuat menahan hempasan tekanan sihir tersebut.


Adellia saja sampai terseret beberapa meter ke belakang, padahal dia sudah bertahan menggunakan «Ganjur»-nya yang membentuk pelindung kecil tepat di depannya.


Tekanan energi sangat luar biasa, efeknya pun sampai bisa menjangkau jarak ratusan meter lebih.


Tak terkecuali, aku juga terkena efeknya, biarpun aku berlari sejauh apapun itu, masih kena juga. Tekanan yang sangat kuat sekali.

__ADS_1


Beda halnya yang dirasakan oleh para monster.


Tekanan dari pengaktifan sihir pelindung empat penjuru justru berefek seperti jaring laba-laba yang melebar menuju tiap penjuru.


Jaring-jaring itu sangat tajam dan melesat cepat sehingga membuat tubuh para monster itu terbelah menjadi beberapa bagian, dan tentunya tewas seketika.


Tak ada satu pun dari mereka yang berhasil lolos dari jaring tersebut.


Hanya satu cara agar bisa menghindarinya yakni jika mereka berhasil keluar dari zona sihir pelindung empat penjuru.


Sayangnya jarak yang harus ditempuh tidaklah dekat, terlebih jaring-jaring nan tajam itu bergerak sangat cepat dan tidak ada celah sekecil pun.


Lima menit berlalu dengan cepat, daerah sekitar rata dengan rata dan menggenang darah para monster, bangkai-bangkai tubuh terbelah menjadi beberapa bagian.


Untungnya di pihak kami tidak ada korban jiwa dalam pengaktifan «Vierhoekige Berschermer», tapi beberapa di antaranya juga terluka ringan.


Entah akibat terbentur oleh puing-puing tenda ataupun luka sebelumnya. Syukurlah hanya luka-luka.


“Apa kau baik-baik saja?” Setelah merasa aman, aku menghampiri Aalisha.


Dia menghentikan langkahku di tepian parit, padahal aku ingin membantunya berjalan dan mengobati dirinya di tempat yang lebih baik.


“Aku tidak apa-apa, hanya saja aku kehabisan energi sihir saja dan tidak sanggup berdiri,” balasnya sembari melurus kaki dan merebahkan tubuhnya di tanah.


“Butuh bantuanku tidak?” ucapku menawarkan diri.


“Sayangnya aku tidak membutuhkanmu,” timpal Aalisha sinis.


“Oh ya kalau kau ingin membantuku, cukup panggilakan penyihir saja,” tuntasnya lalu memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhnya.


‘Siapa juga yang berbicara lama-lama dengannya,’ gerutuku dalam hati.


Aku lantas memanggil salah satu penyembuh untuk menemaninya. Sementara aku sibuk mencari pedang yang tadi aku lempar, semoga saja pedang itu tidak hilang.


Sebab pedang itu adalah pedang warisan dari Kakek Hisyam. Pedang itu penuh kenangan dan cerita.


Dari aku kecil memang suka menggunakannya dan sudah beberapa kali ditempa ulang.


Jelas untuk menguatkan dan mempertajam pedangku.


“Kau mau ke mana?” tanya Adellia setelah melihatku terburu-buru meninggalkan kerumunan pasukan yang tengah membersihkan sisa-sisa pertempuran.


Memang benar kami telah berhasil mengaktifkan sihir pelindung empat penjuru, tapi pertempuran ini masih belum berakhir. Masih ada beberapa monster kuat yang menanti kami di luar sana.


Aku sendiri tidak bisa memastikan apakah barrier ini masih bisa hancur ataupun ditembus oleh monster-monster itu. Semoga saja tidak.


“Kakek Hork ada di garis terdepankan?” tanyaku balik.


“Iya, memangnya kenapa?”


“Apa kau ada urusan dengannya,” imbuh Adellia mendekatiku.


“Aku hanya ingin memberitahunya sesuatu,” balasku.


“Boleh tahu tentang apa? Kau tampak serius sekali,” ucapnya menatap mataku, agak lama, sedikit membuatku risih.

__ADS_1


“Kita tidak tahu kan apakah pelindung ini bisa melindungi kita dari monster-monster yang jauh lebih kuat dari mereka,” ujarku sambil menunjuk mayat para monster yang berserakan nun jauh di sana.


“Aku pun berpikir demikian, entah sampai kapan barrier ini bisa bertahan,” balas Adellia sepakat dengan perkataanku.


“Lantas? Kau belum menjawab pertanyaanku tadi,” timpalnya.


Aku menjelaskan pada Adellia bahwa tujuanku menemui Kakek Hork guna meminta tolong pada Kakek Hork.


Yakni untuk mengalirkan energi sihirnya beserta penyihir lainnya ke kristal sihir yang ada di tengah kamp perkemahan.


Tujuannya adalah meningkatkan pertahanan dari sihir pelindung empat penjuru. Percuma saja jika kita berhasil mengaktifkannya tapi mudah pecah.


Selain itu aku juga ingin mengecek kondisi di luar sana, tak seharusnya kita membersihkan sisa-sisa ini padahal pertempuran masih berlangsung.


Sementara itu pertempuran juga belum mencapai babak final, bahkan perjalanan kami menuju akhir masih panjang.


Rembulan saja belum menampakkan jati dirinya, tengah malam masih lama. Harapan memang ada, namun kita tidak bisa terus bergantung padanya.


“Aku akan menemanimu ke sana, terlebih masih ada urusan yang harus aku selesaikan,” tandas Adellia.


Dia kemudian memegang tombak kuat-kuat sehingga menambah kesan gagah dan berkharisma.


“Entah sudah berapa kali kau membantuku,” ucapku.


“Oh ternyata sadar juga kau? Lalu? Apakah kau ingin berterima kasih sekarang?” balasnya, tampaknya dia sudah berani menggodaku.


“Simpan saja hal itu dalam khayalanmu,” tuntasku lalu mengajaknya untuk bergegas.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


" S T A Y - S A F E "


WA : 08973952193


IG : bayusastra20

__ADS_1


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id


__ADS_2