
Malam telah tiba, akhirnya aku dapat kembali ke rumah lagi. Lelah adalah kata yang dapat menggambarkan kondisi mental dan tubuhku saat ini. Hari ini terasa panjang dan lama, dari di pagi hari pertarungan singkatku dengan Cleo Acestes, menyaksikan ritual pengambilan inti roh dari Carten Badlion, sampai saat tiba bagiku untuk mengambil kesempatan yang sama. Namun hasil yang aku dapatkan jauh berbeda dengannya, berbeda pula dengan teman-teman akademi lainnya.
Hari yang begitu melelahkan, satu hari yang kulewati suntuk serasa seminggu atau bahkan lebih. Pengetahuan-pengetahuan baru, teman-teman perjuangan baru, kekuatan yang baru, dan bahkan besok di pagi-pagi buta aku harus berangkat ke ibukuta guna menimba ilmu di salah satu akademi terkenal seantero benua ini tak lain adalah Akademi Teratai Ungu.
Namun yang mengemban tugas untuk menimba ilmu di Akademi Teratai Ungu tidaklah semua murid Akademi Bunga Hijau, melainkan diwakilkan dengan murid-murid yang pada tahun ini mendapatkan peringkat 10 besar di akademi. Peringkat 10 itu bukan hanya peringkat dalam hal akademik semata, melainkan peringkat itu di dapatkan dari event akademi yaitu saat event penentuan peringkat di akademi yang terdiri dari test akademik dan non-akademik, berupa pertarungan per individu. Ingat pertarungan itu bukanlah pertarungan “Battle Royal”.
Untuk saat ini aku ingin istirahat terlebih dahulu, semua kendala yang kualami tadi sudah aku terima kenyataannya dan tetap berusaha untuk menjadi terbaik dari yang terbaik. Kalau pun aku terus-menerus mengeluh dengan apa yang aku dapatkan, maka aku tak akan dapat maju, dan akan terus terpuruk dalam kemalangan. Itu bukanlah yang aku janjikan kepada ibu.
“Hey Kakak! Apa kau ada di atas?” Ucap seseorang dari lantai bawah dengan sangat lantang dan keras.
‘Siapa sih yang memanggilku malam-malam begini, apa dia tidak tahu kalau aku ingin istirahat kali ini.’ Gumamku dalam kesunyian malam.
“Kenapa kau tidak menjawab, Kak! Sudah waktunya makan malam, cepat turun atau aku akan menyiramimu dengan air.” Tandasnya menyuruhku untuk turun ke bawah.
“Iya-iya, Saigiri. Sepuluh menit lagi kakak akan turun.”
“Nah gitu dong, kenapa kau tidak menjawabnya dari tadi.” Balasnya angkuh.
“Sudah siapkan saja makan malamnya, dasar cerewet.” Ucapku lirih di kalimat terakhir, kalau dia mendengarnya pasti dia akan naik ke kamarku dan membuat gaduh malam-malamku.
Akhirnya kata-kata pedas tak lagi keluar dari mulutnya yang mungil itu, dia pun kembali ke dapur. Tampaknya sepuluh menit sudah cukup bagiku untuk merenungkan semua, namanya juga manusia pasti memerlukan waktu-waktu khusus untuk dirinya sendiri memahami situasi dan kondisi yang telah dilaluinya ataupun memikirkan rencana masa depannya.
__ADS_1
Sementara ataupun untuk selamanya aku akan menerima panda kecil sebagai inti roh pertama yang kudapat. Selagi dia menjadi energi roh dan bersatu dengan ranah rohku, mungkin aku dapat menaikkan kekuatan dan peringkat ataupun warna rohnya. Setidaknya hal itu yang dapat aku lakukan sekarang.
Walaupun aku berpikir demikian namun aku sendiri belum melanjutkan ke proses selanjutnya, aku cukup malas melanjutkannya ketika mengetahui bilamana inti roh yang kudapatkan adalah panda kecil yang memiliki warna roh hijau padam yang melambang senjata roh peringkat perunggu bintang, kira-kira bintang 0,5 atau bahkan 0,25, saking lemahnya peringkatnya.
‘Haish sungguh merepotkan sekali.’ Pikirku memecah angan-angan.
Tak terasa sepuluh menit berlalu secepat kilat, lamunanku sendiri belum mencapai klimaks. Aku harus turun dan menyantap makan malam, atau jika aku terlambat semenit saja dia pasti akan kembali dan mengomeli ‘kenapa kok tidak turun-turun, apa masakanku sangat tidak enak hingga membuatmu mencampakkan makanan yang telah kubuat.’ Sudah pasti ucapannya akan seperti itu. Aku sangat yakin.
Dengan rasa malas aku menapaki tangga dan turun menuju meja makan. Tampak sepi, seperti tanpa tanda kehidupan sama sekali. Oh aku ingat, yang biasa membuat suasana keluarga ini hidup adalah ibu. Namun sekarang ibu sudah tiada dan aku sendiri sudah janji sama Saigiri untuk mengikhlaskan kepergiaanya dan terus hidup dalam kebahagiaan. Masih ada yang kurang.
“Saigiri, apakah ayah lagi pergi?” Tanyaku, sebab di ruang keluarga ayah juga tidak ada.
“Iya, Kak. Ayah lagi pergi ke Balai Akademi untuk mengurus kepergian kita besok.”
“Entahlah, tadi Ayah bilang untuk makan malam duluan.” Jawab Saigiri.
“Baiklah...”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
__ADS_1
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
__ADS_1
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id