Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 103 – Mencuri?


__ADS_3

‘Tunggu sebentar...’ gumamku.


Sepertinya aku melupakan suatu hal yang penting, entah apa itu. Aku mulai teringat suatu hal yang tabu, seharusnya dari awal aku sudah mengetahuinya.


Tapi tidak tahu apa yang ada di dalam pikiranku. Hal itu sangat susah untuk diingat. Padahal itu bukanlah hal yang asing bagiku.


“Kakak jangan terlalu memaksakan diri,” ucap Saigiri memecah lamunanku.


Dia mengira jika aku berpikir terlalu keras, sedangkan aku hanya memikirkan hal yang terlewatkan. Itu saja.


Sebab tak ada segelintir cara atau strategi apapun yang terlintas dalam pikiranku, lebih-lebih strategi yang sedang mereka debatkan juga tidak terlalu berguna.


Semua pasti bertumpu pada para penyihir dan sayangnya banyak penyihir yang lagi beristirahan guna mengisi kembali «Magen».


“Tidak, aku hanya sedang melupakan sesuatu,” balasku.


Tiba-tiba Hans menghampiri dengan tergesa-gesa. “Apa kau ingat jika Kakek Hork masih memiliki kristal penghalang!” ucapnya memburu.


“Oh iya! Aku baru sadar!” seruku, aku singkirkan tubuh Hans dan meminta perhatian semua orang, tak terkecuali Adellia.


“Teman-temanku sekalian, kita masih ada satu cara!” ucapku dengan lantang.


“Apa itu Tuan Tyaga?” tanya salah satu rakshasa.


“Kita masih bisa menggunakan kristal penghalang!” jawabku bersemangat.


Setelah Hans menjelaskan singkat tentang kegunaan dan fungsi dari kristal penghalang.


Semua memperhatikannya dengan sungguh-sungguh, tak ada satupun dari mereka meolak ataupun meragukan kekuatan dari kristal penghalang.


Lebih lagi aku menambahkan jika Kakek Hork menggunakannya untuk membuat sihir penghalau tiga lapis «Drievoudig Schild» untuk menghalau semua «Great Fire Ball».


Semuanya tampak terkejut dengan perkataanku barusan, tapi mau tidak mau mereka harus percaya.


Sebab tidak ada satupun sihir penghalau yang bisa menahan gempuran lima «Great Fire Ball» sekaligus. Hebat bukan.


“Tapi bukannya Kakek Hork sampai kehabisan «Magen» untuk mengaktifkannya ya?” tanya salah seorang penyihir.


Dia tampak ragu jika harus menggunakan cara yang sama. Dia takut kalau para penyihir biasa tak mampu menahan efek dari penggunaan kristal penghalang.


“Jelas berbeda, kita akan melakukan formasi pelindung empat penjuru dan memusatkan pengaliran energi sihir di tengah-tengah kamp,” tandas Hans.


Dia jelas tahu apa yang seharusnya kami lakukan selanjutnya.


“GAWAT! GAWAT!” teriak seorang kesatria yang sempoyongan masuk ke tenda kami.


Dia sangat terburu-buru, terdengar jelas dari napasnya yang memburu. Begitu pula tampak keringat yang mengalir deras di dahinya. Sesekali dia mengelap tapi keringat itu tak kunjung kering.


“Ada apa?!” jawab Adellia.

__ADS_1


“Para monster... para monster...” ucap kesatria itu terbata-bata karena tak bisa mengatur pernapasannya dengan baik.


“Ada apa dengan para monster?!” tanya Adellia sekali lagi.


“Mereka memulai penyerangan! Para penyihir tak mampu terlalu lama menahannya, bahkan tak sedikit monster yang berhasil masuk ke dalam kamp!” ucapnya tak karuan.


“Kita harus cepat mengambil keputusan Nona Adellia!” pinta seorang kesatria.


Dia mendesak Adellia untuk memutuskan apa yang harus pasukan dan kami lakukan.


“Baiklah! Kami yang akan menahan pergerakan para monster sedangkan kalian cepat urus bagian pengaktifan sihir penghalau empat penjuru!” ucap Adellia menyuruh kami untuk bergerak.


Serentak semua orang keluar dari tenda dan bergegas menuju posisi masing-masing.


Tampak dari kejauhan banyak pasukan yang berjaga di area utara, sebab dikatakan sebelumnya akan ada tiga monster kuat yang menyerang dari utara.


Tapi tak sedikitpun Adellia mengurangi pengawasan di area lainnya.


Kendati demikian posisi kami sangat tidak beruntung, sebab semua penjuru telah penuh dengan monster dan menjadikan kami terkepung tak bisa membantu area lain.


Hal ini membuat semua pasukan semakin tertekan, tak peduli itu kesatria, penyihir, rakshasa, bahkan Adelliapun tak habis pikir dengan semua serangan nan membabi buta ini.


“Hans, biarlah aku saja yang akan mengambil kristal sihir,” ucapku menawarkan diri.


“Baiklah jika begitu, aku dan Son akan ikut membantu pertahanan, sedangkan kalian berdua.” Hans menunjuk Saigiri dan Aalisha.


“Bantulah para penyembuh untuk menyiapkan peralatan medis,” tuntasnya.


Monster-monster itu berhasil masuk dan memporak-porandakan sebagaina tenda. Untungnya kawanan itu hanya monster yang berlevel rendah, jadi tak sulit untuk mengalahkannya.


Sedangkan para penyihir bersusah payah menghadang beberapa monster yang lebih kuat dengan serangan sihir jarak jauh.


“Tunggu!” selaku menarik lengan Aalisha.


“Iya?” tanya Aalisha.


“Kau bantu aku saja untuk menyiapkan para penyihir, nanti kita akan berkumpul di sini,” ujarku.


“Baiklah kau begitu.” Kelihatannya dia tidak terlalu mempermasalahkannya.


“Bagaimana denganku, Kak?” tanya Saigiri.


“Kau tetap pada tugasmu saja,” balasku.


“Berhati-hatilah, Kak.”


“Kau juga, Saigiri.”


Aku pun langsung berlari menuju tenda di mana Kakek Hork sedang dirawat.

__ADS_1


Tenda itu tidak terlalu jauh dari tempatku sekarang, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapainya.


Dari dalam tenda tampak Kakek Hork masih beristirahat dan tubuhnya dibalut dengan banyak perban.


Mungkin karena luka bakar ataupun efek dari penggunaan sihir penghalau tiga lapis, «Drievoudig Schild».


Perlahan aku mendekatinya, berusaha agar tidak menanggalkan sebuah bunyi sepelan mungkin.


Aku tak ingin menganggu istirahatnya, biarlah dia tidur lebih lama. Setidaknya sampai «Magen» nya bisa terisi kembali.


Aku tidak tahu pertempuran ini akan berakhir sampai kapan, tapi kami jelas membutuhkan sosoknya sebagai prajurit veteran dan penyihir kehormatan.


“Maaf Kek,” ucapku lirih seraya merogoh sakunya untuk mengambil kristal sihir.


“Wahai anak muda, kau kira aku tidak menyadarinya,” ucap Kakek Hork.


Sontak aku menarik tanganku dari sakunya, tapi dengan cekatan Kakek Hork menangkap tanganku dan menggegamnya erat-erat.


Tepat sebelum tanganku benar-benar keluar. Celaka posisi tidak menguntungkan, dia pasti mengira aku ingin mencuri kristal sihir darinya.


“Aku bisa menjelaskannya, Kek. Jangan salah paham dulu,” ucapku menghindarinya.


“Huh? Kau bilang apa, wahai anak muda?” tanya Kakek Hork


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


WA : 08973952193


IG : bayusastra20

__ADS_1


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id


__ADS_2