Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 119 – Terimakasih


__ADS_3

[ Not Edited ! ]


“Energi sihir ya? Mungkinkah...” ucap Adellia, sejenak dia terdiam.


“Iya, kali ini kita mungkin akan berhadapan dengan seekor Maju,” balasku.


Firasatku mengatakan jika pertarugan selanjutnya bakal akan terjadi hal besar dan sihir «Viehoekige Beschermer» tidak akan mampu menahan serangan dari Majuu itu. Sama halnya yang dikatakan oleh Tetua Agamemnon. 


Para tetua di Kerajaan Laiquendi sama sekali belum pernah berjumpa atau berhadapan lansung dengan Majuu. Tapi setidaknya berkali-kali mereka dapat mengetahui hawa kehadiran para Majuu, di saat kedua energi sihir mereka saling bertabrakan di alam lepas. Tak jarang bahkan energi sihir dari Majuu terasa sangat dekat nan kuat. Hingga membuatnya susah untuk dijelaskan.


“Kalau benar itu Majuu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya,” ucap Adellia, dia tengah berpikir dan mengendalikan kepanikannya. 


Dia seperti sudah menduga bakalan akan ada serangan lanjutan yang kekuatannya jauh lebih besar dari serangan-serangan sebelumnya. Tapi dia agak terkejut ketika mengetahui bahwa yang akan datang bukanlah anak buah ataupun komandannya lagi, melainkan boss atau rajanya langsung yang akan turun tangan.


“Bukan perkara mudah  jika kita langsung menghadapinya dan juga tak akan mungkin kita akan terus bertahan di dalam sihir pelindung ini, monster itu pasti mampu menghancurkan penghalang ini.”


“Bagaimana jika kita langsung melanjutkan perjalanan dan secepatnya  kabur dari kawasan ini,” imbuhku.


“Tidak mungkin, aku sudah menawarkan hal itu kemarin. Tapi masih banyak pasukanku yang terluka, terlebih pertempuran yang berlangsung dari hari pertama banyak memakan korban jiwa dan menghancurkan beberapa alat transportasi,” tandas Adellia.


Maaf. Sebenarnya aku tidak ingin menganggunya di kala dia masih beristirahat. Namun sudah seharusnya aku memberitahunya mengenai hal ini. Setidaknya agar bisa meminimalisir korban jiwa di pertempuran mendatang.


“Kenapa kita tidak jalan kaki saja?” tanyaku.


“Jangan bodoh! kau pasti lebih paham dariku kan bagaimana kengerian Hutan Laiquendi ini?!” Adellia sempat membentak.


“Kita mungkin bisa keluar dari situasi ini, tapi kita tidak tahu apa yang menunggu kita selanjutnya,” ucapnya seraya menurunkan intonasinya agar tidak terbawa emosi.


“Aku cukup tahu,” balasku kembali duduk.


“Kau sendiri tidak tahukan, apakah Majuu itu lebih kuat dari Zardock.”


“Iya, aku hanya tahu kalau keduanya dapat mengeluarkan sebuah sihir,” jawabku.


“Lantas kenapa kita harus takut? Bukannya kita kemarin bisa mengalahkan Zardock,” ucap Adellia memberi harapan pada dirinya. Bagiku itu hal yang bodoh.


Adellia pun memutuskan untuk menghentikan pembicaraan di antara kami berdua. Dia menyuruhku untuk memanggilkan para petinggi di pasukannya, tidak lupa dia juga berpesan untuk membawa  Kakek Hork dan Hans. Dia juga memintaku untuk datang dalam rapat kali ini, karena kemampuan pelacakku sangat dibutuhkan dalam operasi kali ini.


Mungkin terkesan agak terburu-buru. Tapi entah apa yang ada dipikiran Adellia, dia bahkan belum memberitahuku mengenai strategi yang akan dia gunakan selanjutnya. Dari nada suara dan sorot matanya, dia seakan sedang terdesak dan menyembunyikan pikirannya yang sedang kacau. 


Dia bisa saja kabur dari semua tanggung jawab ini dan pergi meninggalkan kami semua. Namun dia lebih memilih bertahan dan menerima semua beban yang tertuju padanya sebagai pemimpin dari pasukannya. Sebagai seorang pria sejati, aku memang menghargainya penuh. Tapi melihatnya begitu terbebani membuat sedikit muncul rasa iba di dalam hatiku.

__ADS_1


Tanpa aku sadari tubuhku dengan sendirinya mendekap Adellia dalam ketegangan sesaat yang berganti dengan sunyi yang menjalar di tiap bagian ruangan. Entah apa yang merasuki diriku, mungkinkah rasa iba yang menyelimuti membuatku tidak bisa mengendalikan diriku lagi.


“Apa yang kau lakukan,” ucap Adellia lirih, bukannya menolak dan mendorong tubuhku. Dia malah berdiam diri.


“Maaf, bisakah aku memelukmu lebih lama.” Sial apa yang aku ucapkan, bukan ini yang ingin aku sampaikan.


“Bisakah kau melepaskanku,” balas Adellia. Sekadar kalimat yang terucap dari mulutnya, dia sama sekali tidak menggerakkan tubuhnya sedikit pun.


“Maaf.” Kata itu lagi-lagi muncul dari benakku.


“Tolong.” Sepatah kata terdengar lirih dan sayu-sayu.


“Tolong jangan buat diriku melemah, Tyaga.” 


Adellia lalu menenggelamkan wajahnya dalam pelukanku. Sifatnya memang keras kepala dan susah untuk mengutarakan isi hatinya. Tapi aku cukup tahu, jika dibalik sifatnya yang keras pasti ada sebuah hati yang lemah.


“Kau terlalu memaksakan dirimu, Adellia.”


“Aku mohon lepaskanlah diriku,” ucapnya pelan.


Perlahan air matanya berjatuhan dan membasahi rompiku. Bagaimana mungkin seorang wanita muda menanggung beban seberat ini. Meskipun dia kuat dan berbakat, tapi tetap saja hatinya masihlah seorang wanita yang menyimpan berjuta kerapuhan.


Adellia hanya terdiam dan sepertinya dia menikmati tiap helaian rambut yang untai pelan. Sayu-sayu isak tangisnya memelan, hembusan napasnya nan mulai teratur, mungkin sebentar lagi dia bisa tenang.


“Terimakasih,” ucapnya sembari membalas pelukkanku dengan melingkarkan kedua tanganya di pinggungku.


“Ini bukan apa-apa,” balasku menyiratkan sebuah senyuman, meskipun dia tidak mellihatnya. Cukup perasaanku saja yang tersampaikan padanya.


“Terlebih mana mungkin kau bisa  menghadapi pasukan dan teman-temanmu jika kau seperti ini,” imbuhku menenangkannya.


“Tanpa kau beritahu aku juga tahu kok, dasar.”


Mendengar ucapan itu, kami berdua akhirnya larut dalam canda tawa kecil. Menghempas sunyi, beradu senyuman dalam hampa. Sifatnya yang sulit ditebak membuat Adellia tidak mudah dipahami. Mungki selama ini hanya ada Kakek Hork yang selalu ada di sini. Akankah aku bisa menjadi salah satu orang yang bisa diandalkan olehnya.


“Sudah baikkan?”


“Ah! Itu...” Setelah keadaannya membaik, dia sadar akan situasi kami berdua.


Adellia cepat-cepat melepaskan diri dari pelukanku dan buru-buru mundur beberapa langkah ke belakang. “Kau pasti sedang mencari kesempatan dariku ya?” tuntasnya mendelik ke arahku.


“Mana mungkin.”

__ADS_1


“Tadi kau main peluk diriku, tak aku sangka ternyata kau adalah tipe pria yang main peluk seorang wanita,” ucapnya sembari mendekap tubuhnya dengan kedua lengan.


“Tapi kau sendiri malah menikmatinya,” balasku tak mau kalah,.


“Menikmati dari mananya! Dasar bejat!” Adellia lantas menanggalkan pedang dari sarungnya dan siap menebas kepalaku bulat-bulat.


Menyaksikan sebilah pedang terangkat tinggi-tinggi di langit, dengan spontan aku berlari keluar tenda dan menuaikan tugas-tugasku sebelumnya. Beruntungnya nyawaku kali ini masih selamat. Bukan lagi sebuah pukulan ataupun hinaan semata, Adellia sekarang malah menggunakan pedangnya untuk menghakimiku. Sungguh sial.


Sempat terdengar lirih suaranya.


“Terimakasih, Tyaga.” Satu kata terucap dalam balik bayangan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


" S T A Y - S A F E "


WA : 08973952193


IG : bayusastra20


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id

__ADS_1


__ADS_2