
Pagi ini terasa sangat damai, meskipun kemarin malam situasinya sangat mencengkam.
Sama halnya dengan kemarin pagi, banyak monster yang tengah beristirahat dalam tidurnya. Energi yang aku rasakan dari mereka kian menipis.
Begitu tenang, tapi tak ada satu pun dari kami yang berani keluar dari zona sihir pelindung. Mereka tahu jika di luar sudah tidak ada monster yang berjaga.
Hanya saja mereka takut jika berjalan-jalan di hutan masih terlalu bahaya bagi mereka. Tak ada yang bisa menjamin keselematan hidup mereka.
“Kau mau ke mana, Tuan Tyaga?” tanya salah satu kesatria yang menyaksikanku berjalan menuju gerbang yang sedang diperbaiki oleh para rakshasa.
“Oh... maaf, aku hanya ingin jalan-jalan ke luar saja,” balasku ramah.
“Apa Tuan tidak takut jika di luar masih ada monster yang sedang mengintai kita dari kejauhan?” Dari mimik wajahnya terlihat jelas dia masih trauma dengan pertempuran-pertempuran sebelumnnya.
“Hahaha, jangan terlalu khawatir. Mereka sedang istirahat kok,” timpalku menyiratkan sebuah senyuman.
“Aku hanya ingin mengecek keadaan hutan saja,” tuntasku seraya melanjutkan langkahku yang sempat terhenti.
“Keadaan hutan? Maksud Tuan bagiamana?”
“Sebenarnya aku ingin mencari tahu dari mana kabut kemarin berasal, mumpung pagi masih cerah, dan juga para monster masih beristirahat.”
Tidak mendengar balasan lagi darinya, aku lantas pergi. Tanpa mempedulikan apa yang akan dilakukan oleh kesatria itu selanjutnya.
Sebenarnya kepergianku ini belum aku katakan pada siapa pun. Aku sudah coba masuk ke dalam tendaku, untuk berpamitan sebentar.
Namun setelah aku lihat semua orang yang ada di dalam sedang beristirahat, aku jadi enggan membangunkan mereka.
Bahkan di dalam tenda ada Son, padahal tadi dia ijin untuk buang air kecil. Malah sekarang dia terlentang dengan mulut yang terbuka lebar. Pantas saja dia tak kunjung kembali.
Dari akhir pertempuran sampai sekarang pun aku juga belum bertemu dengan Adellia. Sepertinya kemarin malam dia sangat sibuk dengan urusannya dan tidak ada waktu untuk menemuiku.
Sebentar. Buat apa dia menemuiku. Kenapa aku berharap dia mencariku. Aneh-aneh saja diriku ini.
Dengan pasti aku melangkahkan kaki ke luar dari area sihir «Viehoekige Beschermer». Tekanan menjadi terasa berat ketika melewati perbatasan antara dua dimensi.
Anehnya ketika aku melewati kerajaan untuk berburu di hutan, aku sama sekali tidak merasakan tekanan seperti ini, dan dengan bebas aku keluar masuk tanpa terkendala sedikit pun
“Tekanan yang luar biasa,” gumamku.
Perlahan aku mengeluarkan kaki kiri dari area ini. Setelah benar-benar keluar rasanya begitu ringan.
Aku tidak menyangkan tekanannya akan sekuat itu. Untungnya aku masih bisa bertahan dan tidak terkena efek apapun.
Terbesit dalam pikiranku untuk mencoba masuk kembali ke dalam. Apakah yang akan terjadi selanjutnya.
Akankah tekanan kembali terasa atau lebih buruknya aku malah tidak masuk ke dalam. Aku sempat berpikir demikian.
Lucu saja kalau aku harus bermalam di luar dan menjadi mangsa empuk para monster nantinya.
Meskipun hatiku ragu untuk melangkahkan kaki, tapi di sisi lain pikiran bergejolak akan rasa penasaran.
Benar saja, ketika aku baru saja menyodorkan tanganku, aku merasakan lagi tekanan itu. Sama, tidak ada bedanya dengan awal tadi.
__ADS_1
Baru bolak-balik dua kali, rasanya bagai lari maraton berpuluh-puluh kilo. Tenaga dan staminaku terkuras habis dan aku sangka aku akan kelelahan seperti.
Sepertinya medan itu bisa dijadikan sebuah latihan, mungkin dengan berlatih di dalam medan itu kita seperti berlatih di suatu wilayah yang memiliki tekanan yang tinggi. Pemikiran yang aneh.
“Sedang apa kau, Tyaga?” Melihatku dari tadi bertingkah aneh, berjalan keluar masuk barrier pelindung membuat Zonics penasaran dan menghampiriku.
Napasku yang tengah terengah-engah membuatku tidak dapat menjawabnya dengan lancar dan memilih untuk merebahkan tubuhku di atas tanah.
Aku melepaskan rompi baju dan membuka dua kancing kemejaku sebagai tempat sirkulasi udara masuk. Sedangkan pedang beserta sarungnya aku letakkan di sampingku tepat.
“Bukannya kau dari tadi sudah melihatnya sendiri?” Aku membalikkan pertanyaan darinya.
“Iya, hanya saja aneh rasanya jika kau berjalan bolak-balik seperti tadi dan lama-kelamaan aku melihatmu mulai kelelahan. Aku ingin memastikannya saja, sebenarnya kau sedang melakukan apa?” ucap Zonics.
Dia kemudia mengambil posisi duduk dan merapalkan sebuah sihir penyembuhan, setidaknya dia membantu memulihkan stamina dan tenaga lebih cepat.
Cahaya hijau menyelimutiku, tipis nan nyaman, detik demi detik berlalu beserta enegi sihirnya yang menggantikan tenagaku yang sempat terkuras.
“Bagaimana kalau kau mencobanya sendiri,” ujarku melirik ke arahnya.
“Mencoba?” tanyanya heran.
“Mencoba apa?” imbuhnya mengulangi pertanyaannya sendiri.
“Mencoba keluar dari area sihir «Viehoekige Beschermer».”
Tanpa ragu aku mengatakan hal tersebut. Bukannya menolakku mentah-mentah, dia malah tampak penasaran dengan perkataanku.
Zonics sempat mengurungkan niatnya, sebab dia merasa tidak baik jika keluar dari barrier pelindung ini, ditakutkan dia sendiri malah tidak bisa masuk ke dalam lagi. Sama halnya yang aku pikirkan tadi.
Melihatku sedikit kesusahan, Zonics lantas membantuku untuk duduk. Agak memalukan jika dilihat orang lain.
Mana mungkin ada dua orang pria yang saling berpegangan tangan dengan salah satu prianya mengenakan sebuah pakaian yang dipenuhi oleh keringat. Kalian tahukan apa yang aku maksud. Menjijikkan bukan.
“Aku ada satu pertanyaan lagi?” timpalnya menatap serius.
“Apa itu wahai kawan?” balasku tak kalah serius menatap kedua kelopak matanya.
“Buat apa aku menuruti semua kemauanmu, apakah ada hal yang mengutungkan yang akan aku dapatkan kali ini,” ucapnya menyulut-sulut.
“Ah ternyata kau orangnya tidak seru. Baru aku tantang dengann hal remeh saja sudah menghindar sebegitunya,” jawabku semakin menyulutnya.
Bisa dibilang aku adalah jagonya menyulut seseorang, tak ada satu pun orang yang berhasil lepas dari efek yang aku berikan.
“Lantas?” tandasnya. Dia kemudian berdiri tegak dan mendongakkan kepalanya seakan menantangku.
“Kalau aku menerima tantanganmu dan berhasil melewati barrier pelindung, apa yang akan kau lakukan selanjutnya,” imbuhnya.
Kali ini dia meminta sesuatu dariku, entahlah mungkin bisa dikatakan sebagai hadiah atas keberhasilannya.
“Jangan aneh-aneh, kalau kau tidak mau ya aku tidak mempermasalahkannya. Terlebih aku hanya ingin mengajakmu untuk mengecek suatu hal yang sedang aku selidiki,” balasku tak acuh dengan ucapannya.
Mendengar hal menarik lainnya, Zonics bergegas menuju tepian barrier pelindung empat penjuru, «Viehoekige Beschermer». Dengan satu kali hembusan napas dia melangkah pasti melewatinya.
__ADS_1
Baru saja ujung jari kakinya menyentuh permukaan barrier, dia langsung cepat-cepat menariknya, dan tergesa-gesa mengambil langkah mundur. Hingga membuatnya tersungkur duduk di depanku.
“Ada apa?” tanyaku menyiratkan sebuah ejekan.
“Yang benar saja lah, tekanan dari barrier itu kuat sekali.” Raut wajah Zonics tampak terkejut dan panik.
Terdengar jelas dari air ludahnya yang keluh memenuhi rongga tenggorakan dan juga gerombolan keringat yang membasahi kening pemuda itu.
“Apa kau tidak mau mencobanya lagi?”
Dia menoleh ke arahku, seakan mengatakan ‘siapa takut dengan tantanganmu’.
Benar saja, tak selang lama dia bangkit dan di kesempatan yang kedua ini dia lebih menyiapkan mental dan jiwanya.
Meski terasa buram, aku dapat merasakan kalau Zonics sedang mengalirkan energi sihir ke sekujur tubuhnya.
Pelan nan lambat. Sayangnya energi sihir itu sangat minim. Setipis kain saring, kain yang sangat tipis.
“Silahkan saja,” lanjutku tersenyum licik.
Apakah kali ini dia berhasil melewatinya ataukah sebaliknya. Kabur dan mengurungkan niatnya.
Pasti akan lebih seru jika dia bisa melewati barrier pelindung ini dan menemaniku mengecek dari mana datangnya kabut-kabut kemarin.
Adanya kabut itu membuatku tidak bisa merasakan energi kehidupan dari para monster dan susah untuk menganalisa berapa jumlah pasti mereka.
“Semoga beruntung kawan, selamat mencoba.”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
" S T A Y - S A F E "
WA : 08973952193
__ADS_1
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id