Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 118 – Majuu


__ADS_3

[ Not Edited ! ]


“Kak, apa kau sadar hari ini tidak ada sama sekali kabut yang menyelimuti,” ujar Saigiri.


“Entahlah, sudah dari pagi aku mengecek di luar kamp ditemani Zonics. Sayangnya aku tidak menemukan bukti sedikit pun,” balasku.


Kami bergegas turun dari menara, karena waktu jaga kami berdua telah usai. Tiba saatnya kami berdua istirahat dan bergantian jaga dengan pasukan lainnya. Kali ini yang kebagian jaga di menara tidak lagi para penyihir saja, sebab tugas ini bukan untuk menghalau penggerakan monster. Melainkan hanya untuk sebagai menara pengawas saja.


Para penyihir diharapkan menjaga stamina beserta energi sihir untuk pertempuran di malam nanti. Agar kemenangan bisa kami raih dengan mudah. Dengan kombinasi pertahanan dari sihir «Viehoekige Beschermer» dan serangan jarak jauh para penyihir. Kemenangan pasti akan ada di tangan kami. Mengalahkan para monster bukanlah hal yang sulit lagi.


“Kau mau istirahat Kak?” tanya Saigiri.


“Tidak, aku ingin menemui Adellia. Mungkin saja dia sudah bangun,” timpalku membantunya turun dari tangga terakhir, tampak rusak, dan untuk mencapai tanah harus melompat terlebih dulu.


Saigiri agak murung setelah mendengar ucapanku. Aku mungkin telah menghancurkan salah satu rencananya. Mungkin saja setelah ini dia ingin mengajakku entah ke mana, ataupun menghabiskan waktu untuk bercengkrama ria bersama teman-teman akademi lainnya. Tadi kerap kali aku memergokinya melirik ke bawah, ke suatu tempat yang tampak ada Son, Hans, dan Aalisha di sana.


“Kenapa Saigiri?” ucapku memecah keheningan sesaat.


Namun dia tidak bisa mengutarakan isi hatinya dan berusaha menyembunyikannya dari balik senyum bibir philtrum bulatnya.


“Kalau kau ingin bersama dengan lainnya, tidak apa-apa kok. Kau tak perlu mengikuti ke mana pun aku pergi.” Spontan aku mengelus rambutnya nan perak mengkilap tersinari cahaya matahari.


“Aku hanya ingin Kakak lebih banyak lagi menghabiskan waktu denganku,” ujarnya lesu.


“Bukannya dari dulu aku selalu memprioritaskanmu ya Saigiri.”


“Tapi semenjak pertempuran melawan Zardock, kau lebih menghabiskan waktumu untuk berlatih dan terus berlatih,” balasnya cemberut.


“Mungkinkah kau cemburu saat aku bilang ingin menemui Adellia?” tanyaku penasaran.


“Mana mungkin seperti itu. Aku cuman ingin mengajakmu berbicara dengan teman-teman emngenai kehidupan kita kelak di kerajaan pusat.” Dia menampik semua ucapanku.


“Kalau kau tidak ingin membahasnya dengan kami, kau bebas mau melakukan apa saja. Dasar bodoh,” umpatnya.


Seketika dia langsung pergi meninggalkanku. Aku juga tidak peduli dengan ucapanya, jadi aku biarkan saja dia pergi. Sebaliknya, aku menemui Adellia bukanlah perkara yang sepele. Aku ingin mengatakan suatu hal yang tengah aku rasakan sekarang. Beserta pertemuanku dengan Kakek Hisyam di dalam mimpiku.


Aku harap Kakek Hork juga ada di sana, agar aku tidak bersusah payah mencarinya lagi. Ini jelas berhubungan dengan goa yang kami temukan kemarin. Padahal kemarin aku tidak dapat merasakan sedikit pun aura kehidupan di dalamnya.


Namun sewaktu aku dan Zonics tengah menyelusuri bagian Hutan Laiquendi di sekitar kamp perkemahan. Tidak sengaja aku merasakan energi yang sangat kuat, itu pun jauh di luar jangkauan kemampuan merasakan energi milikku. Meskipun jauh, tapi dari secuil energi yang aku rasakan. Aku dapat menyimpulkan kalau monster itu bukanlah monster biasa.

__ADS_1


Bahkan aku bisa mengatakan bahwa energi monster itu jauh berbeda dengan energi para monster yang menyerang kami kemarin malam. Tingkatannya jauh di atasnya. Aku sendiri sempat dibuat ketakutan oleh aliran energi itu. Padahal saat aku merasakannya itu keadaan masih pagi dan seharusnya para monster sedang beristirahat. Entah mengapa energi yang kurasakan begitu hebat.


***


Sesampainya di tenda Adellia aku langsung masuk ke dalam. Tidak lupa aku meminta ijin terlebih dahulu sebelum memasuki tenda milik seseorang. Untungnya Adellia sudah bangun dan mengijinkanku masuk.


Di dalam tampak luas dan sepi, tenda ini beda halnya sama tempat yang kemarin kami gunakan sabagai tempat berdiskusi. Tapi kedua tenda ini tak jauh  berbeda, dari luas dan ornamen-ornamen yang ada di dalamnya. Tampak di dalam hanya ada meja dengan sepasang kursi saja dan di ujung ada ranjang tidur yang ditutupi oleh sehelai tirai tipis.


“Ada urusan apa kau kemari, Tyaga?” tanya Adellia sekalian mempersilahkanku untuk duduk.


Aku menggapai kursi kayu yang dibuat sesederhana mungkin, karena sehabis ini pasti tidak akan digunakan  lagi dan dibakar menjadi abu, agar tidak meninggalkan sedikit pun rongsokan di hutan ini. Aku menyeret kursi ke belakang dan menempatinya setelah merasa cukup untuk diduduki.


“Maaf aku hanya bisa memberikan ini.”


Adellia kemudian meletekkan sebuah piring kayu yang berisi beberapa lapis roti bakar dengan beraneka ragam selai rasa. Dia cukup baik ketika melayani sebuah tamu, sayangnya dia tidak cukup pandai dalam urusan masak-memasak. Bahkan aku ragu, tidak mungkin Adellia lah yang membuat  roti bakar ini. Pasti ini adalah kiriman dari dapur. Aku cukup yakin.


“Kau yang memasaknya?” ucapku memastikan.


“Kau menghinaku ya?” Adellia melirikku dengan tatapan penuh rasa mengancam.


“Tentu tidak, aku hanya ingin memastikan. Semua roti mewah ini pasti kiriman dari dapurkan?” Aku tidak bergeming sedikit pun, justru rasa penasaran mengalahkan rasa takutku.


“Cih!” Dia berdecak, sepertinya ucapanku benar.


“Apa kau ke sini ingin membahas itu?” tanya Adellia mengalihkan perhatian.


“Tentu tidak lah, justru ada hal penting lainnya yang ingin aku laporkan.”


Aku pun menjelaskan semuanya. Adellia sendiri mendengarkannya dengan seksama. Jadi aku tidak perlu mengulangnya beberapa kali. Hingga pada akhirnya aku menjelaskan pula mengenai mimpiku dan kejadian-kejadian sewaktu pertempuran melawan Zardock. 


Aku tidak berharap banyak. Entah dia mau mempercayainya atau tidak, yang penting aku sudah menyampaikan semua yang akan terjadi. Meskipun aku tidak memiliki bukti yang kuat dan bisa dibilang sebagai mitps belaka. Tapi aku mempercayai jika mimpiku bukanlah mimpi biasa, melainkan sebuah pertanda yang bisa dipastikan kebenarannya.


“Aku kau mempercayainya?” ucapku serius.


“Mau aku percaya atau tidak, semua kemungkinan pasti ada. Ucapanmu belum tentu seratus persen benar dan belum tentu pula seratus persen salah,” balas Adellia yang mulai memasang mimik wajah serius.


“Jadi menurutmu, monster yang serupa dengan Zardock kembali muncul dan akan menyerang kita lagi?” imbuhnya. Dia membalikkan badan dan berjalan menuju sebuah balok kayu yang di atasnya terdapat sebuah pedang yang memiliki sarung berwarnakan hitam mengilap.


“Tidak, ini bukan monster jadi-jadian seperti Zardock.”

__ADS_1


“Apa? Kau bilang tidak? Lantas kenapa kau terlihat panik.” Adellia sempat terkejut mendengar balasanku.


“Sebab...”


Aku memberikan alasanku mengapa mengatakan demikian. Hal pertama yang menjadi alasanku adalah perbedaan aura ataupun energi yang aku rasakan. Setelah mendapatkan mimpi itu, aku pasti akan mendapat firasat buruk dan selang beberapa menit kemudian aku dapat merasakan aliran energi dari suatu makhluk asing.


Memang awalnya aku mengira akan merasakan energi hitam pekat selayaknya yang dimiliki Zardock. Sayangnya kali ini yang aku rasakan adalah sebuah energi yang dipenuhi oleh energi sihir dan yang membuatku heran adalah makhluk itu sama sekali tidak memancarkan aura membunuh ataupun haus darah seperti monster pada umumnya.


“Energi sihir ya? Mungkinkah...” Adellia sempat berpikir sejenak. Menerka-nerka semua kemungkinan yang ada.


 “Benar sekali. Menurutku kali ini kita akan melawan seekor Majuu,” ucapku, seketika suasana di dalam tenda menjadi hening dan sunyi.


“Majuu ya...” gumam Adellia.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


" S T A Y - S A F E "


WA : 08973952193

__ADS_1


IG : bayusastra20


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id


__ADS_2