
Baru saja kami berjalan beberapa puluh menit meninggalkan kerajaan, sekiranya belum sampai setengah jam lamanya. Kami telah dihadang oleh beberapa monster, hanya saja monster-monster itu terlihat lemah.
Seharusnya kami mengetahui jenis monster itu, bukankah itu si kecil «Tiny Wolf». Dilihat dari ukuran serta bentuk dan warna ekornya nan membiru muda di ujung, memang tak salah melihatnya.
Memang sekilas nampak seperti «Blue Tail Wolf», namun letak perbedaannya jelas pada ukuran dan juga pada ekornya tidak hanya membiru pada ujungnya, melainkan pada seluruh bagian ekor.
Mereka tergolong cukup aman kok, meskipun termasuk kalangan monster di dalam Hutan Laiquendi.
“Pasuka bersiap!” Perintah Adellia yang ada di depanku.
Berbeda dengan kami, seluruh pasukan milik Adellia yang tengah mengawal kami serentak membentuk sebuah formasi bertahan dengan tiga kesatria berbaris berselingan.
Di depan dan para penyihir juga langsung menyiapkan masing-masing tongkat sihir mereka. Oh ya, terlebih dahulu mereka mengikat kuda-kudanya.
Sementara lainnya berjaga dari samping, dan diikuti Adellia yang bersiap mengeluarkan pedang dari sarungnnya. Posisi tubuhnya agak condong ke depan, mungkin bersiap melakukan tebasan tunggal.
“Kalian mau apa?” Tanyaku keheranan dengan tingkah mereka.
“Hey, apa kalian tidak melihat itu?!” Ucap Adellia dengan tampang yang serius seraya mengacungkan pedangnya ke arah «Tiny Wolf».
Padahal cuman ada sepuluh ekor saja. Namun yang semakin membuatku bingung adalah ‘sejak kapan dia mengeluarkan pedang, cepat sekali gerakannya!’ pikirku. Tidak kah dia terlalu waspada.
“Adellia?” Aku menyebut namanya dengan nada bertanya.
“Ada apa?! Maaf, aku sedang fokus sekarang.” Balas Adellia judes.
“Tunggu... tunggu...” Ucapku menenangkannya.
“Kenapa kau terlihat cukup tenang, Tyaga. Apa monster itu juga memiliki kemampuan untuk mengelabuhi musuh.” Ujarnya semakin aneh.
“Aku?”
Mendengar sepatah kata dariku dia lalu menoleh lebih ke belakang, terlihat dia menyadari kalau bukan hanya aku saja yang merasa keheranan. Melainkan Saigiri, Hans, Aalisha, bahkan Son pun sampai-sampai menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
Sungguh itu adalah sebuah penghinaan, tapi untungnya Adellia tak akan memahami maksud kami yang sebenarnya. Manyaksikan semua tatapan itu membuat hatinya sedikit terhenyak dan malah ikut kebingungan.
“Wahai para anak muda. Kenapa kalian ribut sekali di luar? Apakah kita sudah sampai.” Ucap Kakek Hork yang dari awal perjalan kerjaan hanya tidur di dalam kereta kuda.
Dia lebih memberikan kudanya ke Kerajaan Laiquendi dari pada capek-capek menunggangi kuda. 'Sebaga kenang-kenangan' ucapnya kala itu dengan santainya. Belum tahu kalau imbasnya sekarang dia jadi merepotkan kami.
“Bukannya sudah kubilang jangan tidur di dalam, Kek. Ampun dah.” Balasku lemas.
Memang benar Kakek Hork telah meminta ijin kepada kami bahwa selama perjalan dia akan beristirahat di dalam kereta kuda. Kalau memang ada urusan mendadak baru boleh membangunkannya.
Namun aku menolaknya, sebab yang boleh tinggal di dalam hanya para wanita. Dia mengela dengan alasan, kalau para wanita ingin beristirahat maka dia akan mengalah dan akan duduk di samping kusir kuda.
Sejenak aku tidak setuju dengan alasannya, namun bagaimana lagi kalau ketua tim ini, Hans menyetujui hal itu. Hans beranggapan kalau Kakek Hork sudah sangat tua dengan dibuktikan perawakannya yang mengingatkan Hans dengan sesosok Tetua Agamemnon.
Hans jasi merasa bersalah jika membiarkan orang tua duduk tegap menunggangi kuda terus-menerus selama perjalanan, apalagi kalau disuruh berjalan di kala jalan berlumpur atau tak memungkinkan untuk menaiki kuda.
Sayangnya apa yang dipikirkan olehnya sangat berbanding terbalik dengan kemampuan dan kekuatan dari Kakek Hork. Tapi sudahlah, jika ketua kami setuju mau bagaiamana lagi. Tidak ada alasan lagi untuk menolak keputusan Hans.
“Adellia, apa kau sedang mempermasalahkan kesepuluh monster itu?” Tanya Kakek Hork tiba-tiba. Dia pasti sedang mengalihkan perhatian kami semua.
“Iya Kek! Apa kakek juga merasakan apa yang sedang aku rasakan.” Balas Adellia memamerkan tampang penuh semangat.
“Entah apa yang telah merasukimu, itu hanya monster-monster kecil. Kau tak perlu sampai menggunakan pedangmu.” Ujar Kakek Hork juga ikut bertanya-tanya.
“Bahkan Kakek juga sudah dikelabuhi oleh monster itu. Aku harus segera memusnakannya dan menyadarkan kalian semua.” Tanpa mempedulikan kami, Adellia melesat cepat ke arah «Tiny Wolf».
“Tunggu! Tak ada pilihan lagi, «Bivestiger»!” Dengan cekatan Kakek Hork menghentikan pergerakan Adellia dengan sihir bayang pengikat. Berbeda dengan penyihir lainnya yang memerlukan tongkat sihir. Kakek Hork hanya perlu merapalkan mantra dan dengan cepat sihir itu akan muncul.
“Kenapa Kakek menghentikanku. Sial! Monster itu juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan seseorang.” Geram Adellia.
Aku tidak tahu apakah Adellia ini juga masuk ke dalam golongan orang-orang bodoh semacam Son. Tidak-tidak. Itu tidak mungkin untuk sekelas Adellia, cewek kejam nan dingin tak mungkin memiliki otak yang dangkal.
Pasti dia hanya tipe manusia yang sangat khawatir dan selalu waspada dengan semua kemungkinan. Atau mungkin juga...
__ADS_1
“Kek, boleh aku tanya sesuatu?” Tanyaku seraya menatap mata Kakek Hork dalam-dalam.
“Kau tampak serius, ada apa gerangan?” Kakek Hork berbalik tanya dan juga lebih menguatkan sihir pengikatnya sebab Adellia semakin meronta-ronta.
“Ini hanya spekulasiku, Kek. Tolong jawab jujur. Apakah Adellia....” Ucapku lirih mendekat bibirku ke telinganya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id
__ADS_1