
Tiga jam berlalu, kami terus memacu kuda dengan kencang.
Tak peduli jalan setapak kian lama kian menghilang, tergantikan rimbannya hutan.
Lapangnya jalan pun mulai menyempit dikarenakan semakin dalam kami memasuki Hutan, pepohonan di sini terasa semakin besar.
Bahkan tak segan-segan menghalau sinar sang surya yang tengah bersusah payah menembus ranting nan menghimpun beribu-ribu dedaunan.
Nan jauh di depan tampak Hans memacu kudanya dengan cepat, sesekali dia harus memecut kuda untuk menghindari pepohonan ataupun akar besar dan memanjang yang berusaha keluar dari tanah.
Son juga tak mau kalah dengan sahabatnya. Meskipun berada di belakang Hans, dia cukup cekatan saat membelokkan kuda.
Pacuannya pun terlihat sangat lihai ketika mengarahkan kudanya untuk bergerak zig zag.
Memang sudah seharusnya kaum elf memiliki kemampuan berkuda sehebat itu.
Hampir setiap hari kami berkuda, di akademi pun ada pelajaran mengenari cara berkuda yang baik.
Sebab seluruh pekerjaan itu pasti membutuhkan kuda sebagai alat transportasi. Berburu pun tidak bisa lepas dari kegiatan berkuda.
Sayangnya kemampuan itu hanya digunakan untuk berpatroli di sekitar area kerajaan, yang masih di dalam Hutan Laquendi.
Tak ada satu pun dari kami yang berani melajukan kudanya ke ibukota ataupun keluar dari hutan.
Kalau kami berhasil keluar dari hutan dengan selamat, maka kami berlima akan menjadi elf Kerajaan Laiquendi yang pertama kali menginjakkan kaki di dunia luar.
“Apa kudamu tidak bisa melaju secepat mereka?” tanya Kakek Hork.
“Mana mungkin, beban yang kudaku bawa jelas berbeda denga mereka,” balasku acuh.
“Hey kau masih mempermasalahkannya ya,” ucap Kakek Hork dengan nada tanpa penyelasan.
“Percuma saja jika berbicara denganmu, Kek.” Aku pun pasrah dibuat olehnya.
Barisan depan sedikit memperlambat lajunya, begitu pula tensi berkuda ini jadi ikut menurun.
Mereka mungkin menemukan sesuatu di depan sana. Beruntungnya aku, ketika mereka mememalankan langkah kuda masing-masing.
Sebab semakin lama jarakku kian jauh dari barisan paling belakang.
Jadi sekarang aku bisa memperpendek jarak dan juga meringankan napas kuda milikku.
Napas kudamu kian memberat, begitu pula dengan kecepatan larinya pun mulai menurun.
“Apa kudamu sudah mencapai batasnya?” tanya Kakek Hork.
__ADS_1
Lagi-lagi dia mengomentari kudaku. Kalaupun dia tidak nyaman dengan tungganganku, lebih baik dia mencari rekan lain untuk dimintai pertolongan.
Aku membalasnya dengan sorotan mata tajam, sejenak, lalu mengalihkan pandanganku.
Tampak nan jauh di depan Hans dan Son menghentikan kudanya.
Kabur tersamarkan olah sinar matahari yang berjaya menembus halangan barisan dedaunan.
Mereka berdua berhenti tepat di depan sebuah gua besar.
Di belakang mereka, Adellia dan pasukan lainnya juga ikut terpanah menyaksikan kemegahan gua.
Selain itu banyak kabut yang bermunculan, tapi sekali kabut itu berhasil keluar dari dalam gua akan langsung tersapu oleh angin yang berhembus.
Sinar matarahi sama sekali tak dapat mencapai ke dalam gua meskipun seberapa pun usaha mereka.
Sehingga memperlihatkan sisi yang begitu gelap tanpa secerca cahaya pun, cukup menyeramkan.
Aku mempercepat laju kuda untuk mencapai tempat mereka berhenti.
“Apa yang kalian temukan?” tanyaku langsung menghampiri Hans yang tengah berdiam diri, memikirkan sesuatu.
Sementara yang lainnya, Hans menyuruh mereka untuk beristirahat terlebih dahulu.
Beberapa di antara mereka ada yang mengambil air di sungai guna memberi minum masing-masing kuda dan juga untuk mengisi ulang persediaan minum.
Kami memang tetap mengambil jalur yang masih berdekatan dengan aliran sungai.
Namun semakin jauh kami mengikuti hilir sungai, sungai semakin menyempit dan permukaannya tertutup oleh daun kering.
Tanpa disadari kami telah menemukan ujung sungai tersebut, di ujung hilir ini terdapat dua aliran berbeda lagi seperti sebuah pertigaan.
Satu aliran sungai lebih sedikit menuju ke timur, sedangkan satunya. Anehnya aliran itu malah mengalir ke dalam gua.
Alirannya juga sangat kecil, lebarnya cuman sekitar dua sampai tiga meter saja.
Jelas-jelas tidak mungkin ada sungai yang memiliki lebar sesempit itu.
“Tyaga, boleh aku minta bantuanmu,” ucap Hans tampak serius.
“Kalaupun aku bisa membantu pasti akan aku bantu semampuku,” balasku tanpa bergeming sedikitpun.
“Kalian penasaran dengan apa yang ada di dalamnya bukan?” sela Kakek Hork sambil memakan puas buah apel yang ada di tangannya.
“Iya, Kek. Baru pertama kali aku melihat gua ini, mungkin di dalamnya juga ada kristal penghalang, seperti yang ada di gua di Kerajaan Laiquendi,” ujar Hans melangkahkan kakinya pelan mendekati bibir gua.
__ADS_1
“Mungkin kau ingin mengungkit kembali masalah kristal penghalang yang aku miliki?” balas Kakek Hork merasa tersindir dengan ucapan Hans.
“Mohon maaf Kek aku tidak bermaksud begitu, tapi... ada perasaan ganjal di dalam hatiku.”
“Kalau begitu kita tinggal memasukinya,” lanjut Kakek Hork, dengan santainya dia berjalan menyalip Hans yang tengah meneliti tanah di sekitar bibir gua.
“Jangan ceroboh!” Aku menarik tundung penyihir milik Kakek Hork. Mencegahnya memasuk gua nan misterius ini.
“Kita bahkan tidak tahu monster apa yang telah menunggu kehadiran kita di dalam,” ucapku seraya menyeretnya keluar.
“Kalau begitu kenapa kau tidak mengeceknya langsung menggunakan kemampuanmu,” Balas Kakak Hork, sepertinya itulah yang direncanakan olehnya.
“Tidak!” jawabku singkat.
“Tanpa harus menggunakan kemampuanku, kalian pasti sudah sadar jika gua itu melarang kita untuk masuk!” tandasku menegaskan penolakanku.
“Dasar penakut...” ejek Kakek Hork.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id
__ADS_1