Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 37 – Senjata Roh Jiwa II


__ADS_3

“Bagaiamana kau tahu tentang {Senjata Roh Jiwa}? Apa kau juga menyaksikan ritual «Qua» dengan mata kepalamu sendiri?” Tanya Tetua Agamemnon penuh semangat.


“Iya Tetua, saya menyaksikan ritual tersebut. Hampir sama dengan ritual pengambilan energi roh dari Mutiara Roh. Hanya saja waktu itu daratan dan langit ikut berguncang ketika ritual tersebut dimulai.” Ucapku.


“Kau sungguh beruntung dapat melihat kehebatan itu. Dahulu waktu aku masih kecil, beberapa orang jenius atau orang yang memiliki tingkatan tinggi melakukan ritual «Qua» di tempat pelatihan khusus. Tak jarang dari sebagian mereka gagal dan kembalilah mereka ke rumah sakit. Hahaha... aku jadi teringat dulu waktu pamanku mencoba melakukan ritual tersebut dan berujung menginap di rumah sakit sampai dua minggu lamanya.” Ucap Tetua Agamemnon memutar memorinya.


“Batu kecil yang kau maksud tadi, apakah mungkin memiliki warna cerah dan menarik?” Imbuhnya. Aku tak tahu apa yang Tetua pikirkan.


“Iya benar Tetua, batu tersebut mampu mengeluarkan kilatan cahaya saat dimulainya ritual «Qua», sama seperti waktu energi roh keluar dari Mutiara Roh.”


“Itu jelas berbeda. Mutiara Roh dapat menyimpan energi dan inti roh dari makhluk hidup yang telah telah tersegel sebelumnya di dalamnya dan mengalirkannya kepada seseorang yang ingin meningkatkan ranah rohnya atau membuat Senjata Roh. Penyegelan inti roh makhluk hidup itu juga membutuhkan sebuah ritual penyegelan.” Jelas Tetua Agamemnon.

__ADS_1


“Akan tetapi pada «Akik Steen», terdapat kekuatan yang dapat memakan jiwa pemiliknya dan memberikan kekuatan yang luar biasa serta bisa mewujudkannya dalam sebuah senjata. {Senjata Roh Jiwa} dapat diaktifkan jika pemilik «Akik Steen» sudah mempunyai kontrak dengan senjata jiwa dari suatu makhluk hidup atau benda pusaka, serta siap mengorbankan sedikit ranah jiwanya.” Imbuh Tetua Agamemnon.


“Di dalam tubuh manusia sendiri terdapat dua inti kekuatan, yakni ranah roh dan ranah jiwa. Bagaimana ranah roh akan mempengaruhi kemampuan pengendalian energi roh. Sedangkan ranah jiwa akan mempengaruhi kemampuan pengendalian jiwa. Sejatinya para leluhur lebih memilih meningkatkan ranah jiwanya, sebab kemampuan ranah jiwa dapat menaikkan strata tingkatan kita ke tingkatan lebih tinggi.”


“Kemampuan peningkatan ranah jiwa tergolong sangat sulit dan rahasia, metode – metodenya pun masih misterius. Bahkan aku sendiri belum menaiki tingkatan seperti itu. Pengorbanan jiwa, pengendalian jiwa, adalah tahapan ketika kalian memasuki tingkatan di atas {Guru Petarung} atau {Guru Penyihir}. Pada tingkatan tersebut kalau kalian tetap memperkuat ranah roh, tanpa peduli dengan ranah jiwa, maka yang akan terjadi adalah peningkatan kalian akan berjalan lambat.” Tandas Tetua Agamemnon.


“Lantas kenapa kita tidak langsung menaikan ranah jiwa? Menurut penjelas Tetua, ranah jiwa lebih kuat dibandingkan ranah roh.” Balasku.


“Lautan roh bisa kalian buat jika telah naik ke tingkatan paling tinggi pada tingkatan {Petarung Langit}”


“Dengan tingkatan dan kemampuan kalian saat ini. Butuh waktu kurang lebih 10 tahun untuk menaiki tingkatan {Petarung Langit}, itupun yang paling cepat.” Tambahnya tampak serius sekarang.

__ADS_1


“Tetapi Tetua, bukankah Pasukan Kegelapan akan datang beberapa tahun lagi...”


“HENTIKAN!!! Jangan kau teruskan!!” Belum selesai aku berbicara, Tetua Agamemnon menghentikannya. Para murid akademi tercengang melihat Tetua Agamemnon semarah itu. Mungkinkah ucapanku kali ini benar-benar keterlaluan, atau mungkin hal itu bukanlah hal yang wajar untuk diucapkan secara umum.


“Ada kalanya kau dapat menjaga omonganmu, Tyaga.” Imbuhnya menenangkan diri.


“Mohon maaf Tetua kalau ucapan saya lancang.” Balasku menundukkan kepala.


Semua orang yang memenuhi aula melihatku, seakan sedang melontarkan sebuah pertanyaan ‘Apa maksud omongannya, kenapa Tetua sampai semarah itu?’ Tak sedikit pula murid-murid melirikku tajam dengan penuh rasa penasaran.


Aku melihat ke arah Raja Achillle yang tengah berdiri di samping Mutiara Roh, Dia menggelengkan kepala seperti mengisyaratkan kepadaku agar tidak melanjutkan ucapanku. Aku jadi teringat dengan ucapan Kakek Hork, bahwa permasalahan tentang datangnya Pasukan Kegelapan, « Schaduw Van Duisternis » cuman boleh diketahui oleh para tetua dan orang penting saja. Sungguh bodohnya aku, tak berpikir sebelum berbicara.

__ADS_1


“Cukup-cukup, mengapa kalian semua tegang seperti itu? Hahaha... itu bukan masalah yang serius, kita lanjutkan saja proses pembentukan Senjata Roh. Kita kesampingkan dulu tentang {Senjata Roh Jiwa}, kelak kalian pasti akan mengetahuinya sendiri. Ingat pesanku, jangan lupa untuk tetap berpetualang. Hahaha....” Ucap Tetua Agamemnon mencairkan suasana.


__ADS_2