
“Guru Allys bisakah kau mengambil barang yang ada di belakang panggung.” Perintah Guru Senjati.
Guru Allys denga seksama mengambilkan barang yang dipinta oleh Guru Senjati. Dia segera menuruni panggung dan berjalan ke belakang. Dibantu dengan 4 orang pekerja akademi, Guru Allys mengangkat sebongkah mutiara besar berwarnakan biru cerah dengan kabut kekehijauan di dalamnya.
“Apa itu yang kau maksud, Hans?” Bisik Son terkejut melihat apa yang digotong oleh Guru Allys dan para pekerja.
“Iya mungkin. Dengan warna bola biru cerah dan nuansa kabut hijau, tak salah lagi itu adalah «Parels van Spirit Bal». Namun aku tak tahu pasti tentang ukurannya, kukira dulu ukuran bola itu hanya sebesar genggaman tangan atau lebih besar sedikit, tapi kenyataan ukurannya sebesar itu.” Ucap Hans tak kalah terkejut.
Pantas saja Hans dan Sons terkejut dengan melihat mutiara besar yang sekiranya mempunyai diameter tiga sampai empat meter. Bahkan aku sangat yakin kalau bola itu juga sangat berat, sehingga membawanya harus dengan 4 orang pekerja dan Guru Allys yang terkenal akan kekuatan fisiknya.
“Memang tidak salah lagi kalau itu adalah Mutiara Roh.” Balasku.
“Letakkan saja di sana.” Ujar Guru Senjati menunjuk tengah aula dan jaraknya tak jauh dari kami.
Guru Allys mengangguk dan bersama pekerja tadi secara hati-hati meletakkan bola mutiara itu menuju tengah aula. Sebelumnya pekerja lainnya telah membawakan sebuah bantal dengan ukuran besar juga.
Tampak biru berkilauan, menyilaukan setiap mata memandang. Nuansa kabut kehijauan membuat kesan misterius dan benar saja sesekali terlihat bayangan-bayangan seekor binatang. Roh binatang itu terkadang berlarian mengelilingi rongga di dalam bola, ada kalanya ada bayangan seperti seekor singa tengah mengaum atau sedang menunjukkan gigi taringnya.
“Pasti di antara kalian bersepuluh ada yang sudah tahu tentang mutiara ini. Jadi aku tak perlu lagi untuk menjelaskannya.” Ujar Guru Senjati melihat kami satu persatu.
“Hadirin sekalian yang terhormat sudah waktunya bagi kita menyaksikan perwakilan para murid Akademi Bunga Hijau untuk mengambil Senjata Roh, yang mulia Raja Laiquendi, Raja Achille dan Tetua Agamemnon dimohon untuk mendampingi para murid.” Kata Guru Senjati menggelegar seluruh aula.
__ADS_1
“Hidup yang mulia Raja Laiquendi, Raja Achille!”
“Hidup Tetua Agamemnon!”
“Hidup Kerajaan Laiquendi!"
Raja Achille dan Tetua Agamemnonpun berdiri di samping «Parels van Spirit Bal» seraya dikawal oleh empat prajurit kerajaan di belakang mereka.
“Mohon ijin Tetua Agamemnon untuk memulainya.” Ucap Raja Achille ramah.
“Silahkan yang mulia Raja Achille.” Balas Tetua Agamemnon.
“Salam Rakyat Laiquendi, semoga Tuhan tetap memberkati tanah kelahiran kita!” Salam Raja Achille yang dibalas meria oleh seluruh rakyatnya.
Carsten Badlion, dia adalah peringkat pertama Akademi Bunga Hijau sesi 64. Dia adalah orang yang memakai pakaian dan celana serta beberapa atributnya berwarnakan hijau muda. Tampangnya sangat muda sekali padahal umurnya sekarang kurang lebih 26 tahun. Dia pernah menjadi pasukan bayangan dan diangkat menjadi Prajurit Kerajaan pada umurnya yang ke 23, karena prestasinya yang gemilang dalam operasi penyelamatan anggota keluarga kerajaan.
“Hormat saya yang mulia Raja Laiquendi, Raja Achille dan Tetua Agamemnon.” Salam Carsten.
“Lama tidak jumpa Guru Senjati, mohon maaf kalau muridmu ini telah banyak merepotkanmu dulu.”
“Sudah lama sekali kau tak mengunjungi akademi lagi. Sesibuk itukah pekerjaanmu sebagai prajurit kerajaan sehingga melupakan gurumu ini.” Canda Guru Senjati. Aku bisa menebaknya kalau dulu dia adalah salah satu murid kesayangan dari Guru Senjati, sama halnya dengan Hans dan Saigiri.
__ADS_1
“Letakkan telapak tanganmu di atasnya dan aliran kekuatan rohmu untuk masuk ke dalam Mutiara Roh. Sehingga roh yang ada di dalam tertarik dengan dunia rohmu dan menjadikanmu sebagai tuannya.” Guru Senjati menjelaskan cara menggunakan Mutiara Roh.
(Alirkan kekuatan roh? Dunia roh? Aku sama sekali tidak mengerti dengan penjelasan Guru Senjati... Paling yang dia maksud adalah tenaga dalam)
“Baik guru akan saya coba.” Balasnya.
Secara perlahan Carsten meletakkan tangannya di atas mutiara dan memejamkan matanya. Dia sepertinya berkonsentrasi penuh dan mungkin dia sedang mengalirkan tenaga dalam ke dalam mutiara roh.
Tak lama kemudian terlihat kabut hijau yang ada di dalam mutiara roh mulai berkontradiksi dengan aliran tanaga dalam Carsten. Mungkin. Bergejolak layaknya sedang terjadi pertempuran di antara para roh yang ingin menjadikab Carsten sebagai tuannya.
Tiba-tiba kabut hijau tadi mengumpul menjadi satu titik hijau pekat dan perlahan menuju ke atas dan keluar dari permukaan mutiara roh. Otomatis membuat semua orang yang berada di aula tertegun melihatnya.
SYUT!!! Gumpalan bola berwarna hijau pekat itu melesat ke langit aula dan terjun bebas secara cepat mengarah ke Carsten.
“Jangan mengelak!!!” Teriak Tetua Agamemnon serius membuat Carsten terdiam dan menunggu datangnya gumpalan itu.
Gumpalan roh tadi menghujam paksa tubuh Carsten yang membuatnya seakan mengalami kesakitan yang luar biasa.
(Pemandangan ini tidaklah asing bagiku... Ini seperti saat Adellia melakukan ritual «Qua» menggunakan «Akik Steen»... Bahkan waktu itu Adellia juga mengalami kesakitan yang sama dialami oleh Carsten...)
“Terimalah kekuatan dari roh yang telah memilihmu, jangan paksa kekuatan rohmu untuk keluar!” Ucap Tetua Agamemnon.
__ADS_1
“Sebentar lagi prosesmu akan selesai dan kau akan mendapatkan senjata rohmu untuk pertama kali!” Imbuhnya.
"Sakit!!! Sakit sekali!!!!" Ujar Carsten menjerit kesakitan.