Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Chapter 32 : Wadah Ranah Roh


__ADS_3

“Apakah kita dapat melakukan pemusatan di lain waktu” Tanya Hans.


“Bisa, tetapi energi roh yang masih bebas dapat dengan mudah pula menguap kembali ke alam bebas. Jadi ketika kita mendapatkan atau tambahan energi roh baru harus secepatnya kalian memusatkannya ke dalam wadah. Agar energi tersebut tidak menguap dengan sia-sia.” Jelas Tetua Agamemnon.


Di saat kami yang asyik bertanya jawab dengan Tetua Agamemnon, Alumni Carsten telah menyelesaikan proses pemusatan dan tampak keringatnya mengalir deras membanjiri wajah serta sekujur tubuhnya. Aliran energi roh yang menyelimutinya tadi telah banyak menghilang dan menyisakan sedikit aura energi roh yang berbentuk kabut.


“Permisi Tetua Agamemnon.” Ucap Carsten sepatah kata.


“Apa kau sudah selesai memusatkan seluruh energi roh dalam suatu wadah?”


“Sudah tetua, namun saya tidak dapat menyerapnya semua.” Terlihat raut wajah Carsten agak kecewa akan dirinya sendiri.


“Tenang saja Nak Carsten.” Sapa Tetua Agamemnon mengakrabkan diri.


“Pemusatan energi roh bukanlah hal yang mudah, tapi bukan hal yang susah juga. Pengendalian dan pengambilan energi roh bebas yang ada di dalam tubuh kita membutuhkan kontrol ranah roh yang rileks dan stabil.” Imbuhnya.


“Saya yakin tadi saya sudah sangat tenang dalam pengendalian energi roh. Tetapi beberapa dari mereka sulit untuk dikendalikan dan dialirkan ke dalam wadah.” Carsten menjelaskannya kepada Tetua Agamemno kalau dia tidak salah dalam proses pemusatan.

__ADS_1


“Menurutku saat kau dalam proses penstabilan antara energi roh dari Mutiara roh dengan ranah rohmu serta waktu proses pemusatan roh sudah sangat bagus. Tapi energi-energi roh bebas tersebut bukanlah energi pada umumnya, sejatinya energi yang tak dapat kau kendalikan tersebut adalah inti roh. Jadi kau tenang saja, kau tidak gagal. Melainkan kemampuanmu belum sampai ke tahap dapat mengendalikan semua energi roh.” Tutur Tetua Agamemnon.


“Kau cukup mencobanya beberapa kali di waktu senggang untuk memusatkannya lagi ke dalam wadah, sebelum energi roh tersebut benar-benar hilang.” Imbuhnya.


“Baik tetua saya akan tetap berusaha setelah ini.” Balas Carsten.


Tampak semringah wajah Tetua Agamemnon setelah mendengarkan ucapan dari Carsten. Dia merasa lega karena salah satu pilihan dari Raja Achille serta rekomendasi dari guru Akademi Bunga Hijau adalah seorang yang berbakat dan pantang menyerah. Senyum tuanya mengiringi tiap gerak-gerik.


“Muridku sekalian yang aku banggakan. Sekarang kita akan melanjutkannya pada proses penyamaan karakteristik dari energi roh dan ranah roh milik Carsten. Sebelumya aku ingin tahu apakah salah satu dari kalian mengetahui bagaimana bentuk dari wadah penyimpanan roh tersebut?” Tanya Tetua Agamemnon kepada seluruh murid.


Mereka saling berpandang-pandangan satu sama lain, seakan saling melontarkan pertanyaan. “Apa kau tahu?” Dengan jawaban yang sama pula. “Entahlah, aku tidak mengetahuinya.” Di antara kami memang bukanlah hal yang umum mengenai hal ini, bahkan mungkin materi ini belum pernah sama sekali diajarkan atau menjadi salah satu mata pelajaran di Akademi Bunga Hijau.


“Kalau menurut buku yang pernah saya baca, Buku Adhellishce. Salah satu buku kuno yang diamankan di Perpustakaan Kerajaan. Menjelaskan bahwa dahulu pernah ada seorang prajurit Elf memiliki ranah roh yang membentuk bulatan besar dan ikut andil dalam menyelamatkan dunia kala itu. Jadi menurutku bentuk dari wadah tersebut adalah bulat seperti kelereng dengan rongga dalam berisi air lautan roh.” Jawab Hans dengan ketenangannya yang mengilau.


“Benarkah seperti itu?” Tetua Agamemnon membalikkan jawab tersebut kepada Carsten.


“Benar sekali tetua, saya telah merasakannya tadi. Setelah dapat mengendalikan energi roh bebas dan memusatkannya di titik tiga jari di bawah uluh hati. Saat itu dalam jiwa saya seakan sedang menuangkan energi roh yang berupa cairan kebiruan ke dalam bejana bening berbentuk bulat. Namun di dalam bejana tersebut juga telah terisi cairan lainnya.” Tukas Carsten membenarkan.

__ADS_1


Mendengarkan penjelasan dari Carsten, Tetua Agamemnon hanya mengangguk kecil dan menyuruh Hans untuk kembali ke barisan semula.


“Lantas berapa besar ukuran bejana bulat yang kau maksud tadi?” Tanya Tetua Agamemnon.


“Ukuran? Saya kurang tahu pasti tetua, tapi setelah selesai melalui proses pemusatan dan kesadaranku mulai kembali. Saya dapat merasakan kalau besar ukuran dari bejana kurang lebih seukuran biji buah plum.” Jelas Carsten seraya memperlihatkan ukuran yang dia maksud dengan pola jemarinya membentuk bulatan kecil.


“Oh masih sebesar itu, lumayanlah...” Ucap Tetua Agamemnon.


“Kalau kutafsirkan sekarang kemampuanmu mungkin pada peringkat {Petarung Awal Bintang Lima}” Imbuhnya.


(Sistem peringkat tersebut bukannya pernah disinggung oleh Kakek Hork sebelumya. Tapi percuma aku juga tidak memahami sepenuhnya, biar aku dengarkan baik-baik penjelasan dari Tetua Agamemnon)


“Mohon ijin menyela, maksud perkataan tetua tentang peringkat {Petarung Awal Bintang Lima} apa?” Tanya Carsten kebingungan.


“Kau pasti akan segera mengetahui bila sudah sampai di Akademi Teratai Ungu. Aku yakin mereka akan mengecek kemampuan kalian sebelum masuk ke akademi.” Tuntas Tetua Agamemnon.


“Sampai di sini apakah kalian sudah mengerti tentang proses penstabilan dan pemusatan?”

__ADS_1


Semua murid akademi mengangguk pertanda bahwa semua telah paham. Beberapa di antara mereka bahkan berbisik-bisik dengan teman sampingnya, entah apa yang tengah dibicarakan oleh mereka. Sekarang aku masa bodoh dengan ucapan orang-orang, bagiku yang terpenting adalah bagaimana aku mendapatkan energi roh sebanyak-banyaknya dan menjadi yang terkuat di benua ini.


__ADS_2