
[ END ] [ Not Edited ]
“Sudah selesai?” tanya Tyaga sambil memainkan pedangnya, sesekali dia mencium dan menjilati sisa-sisa darah yang masih menempel.
“Mana mungkin! Aku tidak akan menyerah sampai kau benar-benar keluar dari tubuhnya,” balas Adellia memicing mata.
“Hahahaha.... aku tidak akan melepaskan anak ini. Oh ya...” Tyaga sempat menghentikan ucapannya. Sejenak suasana berubah menjadi hening. Entah kenapa udara malam semakin dingin menusuk tiap sel-sel persendian tubuh.
“Bahkan jika anak ini mati, aku masih dapat mengendalikan raganya.”
“Mati?” Sontak Adellia agak terkejut dengan kata terakhir yang diucapkan oleh Tyaga.
“Kau khawatir dengan anak ini? Tenang saja, aku masih belum sanggup membunuh tubuh ini, sebab tubuh seorang elf akan lebih enak jika dimakan dalam keadaan masih hidup. Hahahaha.....” timpal Tyaga sembari menikmati darah yang keluar dari tubuhnya. Darah itu mengalir pelan dan dia usap pelan, lalu menjilatinya
“Kau ingin mencobanya sendiri?” Setapak demi setapak Tyaga berjalan mendekat dan memamerkan tangannya yang tengah berdarah.
Merasa dipermainkan oleh Majuu, Adellia langsung melesat ke arahnya. Tanpa mempedulikan luka sayatan pedang di pundak kanan, dia tetap melaju. Menyelusuri tiap pepohononan dan semakin menguatkan pegangan pedang. Tyaga hanya tersenyum licik melihatnya
Kendati demikian Kakek Hork juga telah bersiap nun jauh di belakang Adellia. Kali ini dia cukup serius. Memang di awal pertarungan dia hanya menggunakan satu cincinnya saja. Tapi sekarang berbeda, dia mengeluarkan dan memakai kedua cincin sihirnya sekaligus.
Namun tetap saja, di dalam hatinya masih ada secuil keraguan untuk mengalahkan Tyaga. Bukannya apa, tapi jika saja dia mampu mengeluarkan Majuu itu dari dalam tubuh Tyaga. Mana mungkin dia tega menyerang Tyaga dengan segenap kekuatan sihirnya. Kakek Hork cukup menyakinkan dirinya, bahwa apa yang akan dia lakukan adalah demi kebaikan bersama.
“Mohon maaf Nak Tyaga,” ucap Kakek Hork lirih.
Sepenggal kalimat terucap dari Kakek Hork yang iringi dengan cairan hitam pekat yang menggumpal di atasnya dan memancarkan segenap energi sihir. Cairan itu muncul dari kedua cincin milik Kakek Hork dan berkumpul membentuk sebuah bulatan. Gumpalan itu semakin lama semakin membesar dan bentuknya pun jadi tak menentu.
“Tetaplah fokus, Dell!” teriak Kakek Hork dari belakang.
Adellia jadi semakin memperkuat pedangnya dan sedikit demi sedikit menghapus keraguan yang ada di dalam dirinya. Tidak ada pilihan lain. Jika tidak dia dan Kakek Hork, siapa lagi yang tega membunuh Tyaga. Bahkan pertarungan antara Tyaga dengan Son dan Hans, malah berujung kekalahan telak.
Padahal jika mereka berdua mengeluarkan segenap kemampuan dan kekuatan mereka. Mengalahkan Tyaga bukanlah hal yang sulit. Namun tetap saja, sebagai teman atau bahkan sahabatnya sendiri. Son dan Hans tidak akan tega mengalahkan Tyaga. Sampai-sampai saat kematian sudah ada di depan mereka, kedua lelaki itu masih tak mampu menghunuskan senjata, sekalipun itu untuk bertahan.
“Apa kalian yakin ingin membunuh anak ini?” tanya Tyaga mencoba untuk membuat keputusan Adellia goyah. Dia membuka pertahanannya lebar-lebar dan melemparkan jauh pedangnya.
“Sini, cepat bunuh aku!” imbuhnya dan diakhiri dengan tawa yang menggelegar.
Melihat tingkah Tyaga yang semakin menjadi-jadi, membuat Adellia sempat menghentikan lajunya. Terlihat jelas bahwa Adellia masih belum siap menghunuskan pedangnnya. Padahal pertahanan Tyaga benar-benar terbuka lebar. Sungguh Adellia tidak rela, tapi siapa lagi yang mampu membebaskan Tyaga selain dirinya.
“Lihat? Baru digertak sedikit saja, kau sudah mengurungkan niat ntuk membunuhku,” ucap Tyaga melebarkan kedua tangannya seakan menyuruh Adellia agar segera membunuhnya.
“Berisik!” umpat Adellia.
“Tapi benarkan apa yang aku ucapkan?” balas Tyaga menyeringai.
__ADS_1
Jelas sekali hal itu membuat Adellia semakin marah. Sayangnya Adellia tidak bisa bergerak sesenti pun dari tempat dia berhenti. Semangat tarungnya seakan langsung menghilang dalam satu gertakan saja. Sial memang, sekarang Adellia malah bingung harus bagaimana.
Tyaga tampak senang melihat mangsanya jadi kebingungan. Majuu yang ada di dalam dirinya pun tersadar, jika Tyaga bukanlah elf biasa. Terlebih energi yang tersimpan dalam tubuh Tyaga bukanlah energi pada umumnya yang dimiliki oleh tiap elf. Jelas sekali Tyaga adalah elf yang berbeda dan parahnya Majuu yang merasukinya baru saja menyadarinya.
“Adellia! Jangan kau pedulikan ucapannya! Apa kau ingin membuat Tyaga semakin menderita?!” ucap Kakek Hork.
Sontak ucapan Kakek Hork jadi menyadarkannya dan Adellia yakin jika jalan terbaik yang bisa dilakukan hanyalah membebaskan dirinya dari genggaman Majuu itu dengan cara membunuhnya. Entah sudah kesekian kalinya dia menguatkan genggaman pedangnya.
“Wahai «Qua», masuklah ke dalam jiwa tuanmu, Adellia Monattlas,” ucap lirih Adellia, tak lama kemudian sebuah tombak berwarna biru cerah muncul tepat dihadapan Adellia. Itulah senjata suci yang terlahir dari jiwanya, «Ganjur». Semoga saja dengan ini semua dapat berakhir dengan cepat.
“Sihir pengikat tingkat lanjut, «Verbindend»!!”
Seketika gumpalan cairan hitam pekat itu mulai memanjang dan membentuk seperti sebuah tentakel. Tampak cair namun sangat padat. Bahkan sekali terjangan, cairan itu mampu melubangi sebatang pohon, dan memecahkan bebatuan. Cukup kuat dan cepat melesat menembus pepohonan.
“Sekarang!” Dengan cepat cairan hitam itu mengikat tubuh Tyaga.
“Kau pikir bisa menghentikanku dengan cairan ini?!” bentak Tyaga.
Namun cairan itu benar-benar padat dan dia sama sekali tidak bisa bergerak sedikitpun, sekalipun Tyaga memberontak sekuat tenaga.
“Sihir ini jelas berbeda dengan sihir yang tadi! Jangan meremehkanku wahai anak muda!” Kakek Hork semakin menguatkan ikatannya tanpa memberikan sedikitpun cela pada Tyaga.
“Habisi dia dengan tombakmu Dell!” imbuh Kakek Hork.
Adellia tak kuasa menahan air matanya. Dia kemudian perlahan mendekati Tyaga. Tombak yang ada di tangan kanan kian susah untuk diangkat. Tetap saja. Sampai sekarang pun Adellia tidak mampu membunuh Tyaga dengan tangannya sendiri. Namun mau bagaimana. Kalau bukan dia, lantas siapa lagi yang bisa menghentikan penderitaan Tyaga.
“Kau boleh mendendam padaku, Tyaga. Aku juga akan dendam....”
AAARRRGGG!!!!
“Adellia!” teriak Hans yang baru saja datang dan menyaksikan tombak Adellia benar-benar menembus jantung Tyaga.
“Tak ada orang lain yang bisa melakukannya, kan?!” Adellia sempat menghentikan ucapannya dengan air mata yang mengalir deras di sela-sela pipinya.
“Inilah yang Tyaga inginkan!” tandas Adellia seraya mencoba menahan isak tangisnya.
“Meski begitu...”
“Kau kira aku melakukan ini karena aku yang menginginkannya?! Menggunakan senjata suciku yang sudah aku persembahkan pada Kerajaan untuk hal seperti ini?!”
“Ah... Tak mungkin, tak mungkin...Padahal aku baru saja menemukan wadah yang sempurna..” pinta Tyaga menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kelalaianku lah yang sudah menjadikan situasi yang patut disesali oleh semua orang. Suatu saat nanti, aku yakin kalau aku akan menerima hukumannya,” timpal Kakek Hork yang sudah ada di samping Adellia. Dia sama sekali tidak mengendorkan sihir «Verbindend»-nya..
__ADS_1
“Aku tidak akan mati... meskipun tubuh ini mati!” bentak Tyaga semakin memberontak yang membuat tubuhnya semakin terkoyak oleh «Ganjur»-nya Adellia.
“Maafkan aku wahai anak muda. Sihir penyegel jiwa, «Ziel Verzegling»!”
Semua penderitaan Tyaga pun berakhir dengan tersegelnya dirinya bersama dengan tombak milik Adellia. Dengan «Ganjur», Majuu akan ikut terperangkap dalam tubuh Tyaga dan jiwanya akan senantiasa terkunci.
“Terimakasih telah membebaskanku dari penderitaan ini...” Terdengar lirih suara Tyaga sebelum tubuhnya dilahap habis oleh cairan hitam yang perlahan mengeras.
Tangisan Adellia pun pecah. Tak dapat dia pungkiri bahwa Tyaga akan secepat ini meninggalkannya. Meskipun hanya sesaat, tapi Tyaga mungkin merupakan salah satu orang yang istimewa baginya.
Akhirnya Tyaga bisa mati dengan tenang. Selamat tinggal dunia.
"Maafkan aku Saigiri, aku tak mampu menjagamu... lagi."
END.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
" S T A Y - S A F E "
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
__ADS_1
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id