Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 77 – Malam pun Tiba


__ADS_3

Tanpa terasa waktu berlalu begitu saja. Senja memang selalu seperti ini. Perlahan datang, lalu tiba-tiba menghilang dan tergantikan oleh keremangan malam, menyisakan kehampaan.


Gelap cepat menjalar dari tiap sudut perpohonan hingga tak menyisakan sedikit pun cahaya.


Hanya remang-remang cahaya rembulan yang tengah bersusah payang menembus ranting dan dedaunan nan lebat membentang.


Langit gelap terhiasi bintang-bintang bertebaran nan indah menemani gagahnya raja malam yang bersinar terang menebar cahaya berkilauan menghujam bental dengan damai dan tenang.


Di balik itu semua, kegelapan juga mengintip sayu dari balik bayang-bayang pepohonan.


Entah itu kegelapan dalam bentuk monster atau pun memang berupa kegelapan, yang pasti itu bukanlah tempat yang dapat kita masuki sembarangan.


“Perjalanan cukup sampai di sini saja, tidak mungkin dapat menembus kegelapan ini meskipun menggunakan obor.” Ucap Hans mengangkat tangan yang mengepal untuk menghentikan laju pasukan lainnya.


“Kita akan mendirikan tenda di sini.” Imbuhnya seraya menghadap kami.


“Tapi malam baru saja berganti, apakah kita tidak berhenti terlalu cepat.” Balas Adellia, dia tampak kekeh ingin melanjutkan perjalanan.


“Mengertilah Adellia.” Timpal Kakek Hork mendekatinya setelah turun dari kuda.


“Ini bukan masalah capek atau tidaknya kita, melainkan malam akan benar-benar gelap dan mencengkam jika kita terus melanjutkan perjalanan." Kakek Hork sejenak menghentikan ucapannya.


"Bisa-bisa kita malah tak dapat keluar hutan ini dengan hidup-hidup, aku tak dapat menjamin keamanan serta keselamatan kita.” Tambahnya.


Lalu mengakhirnya dengan “Berkemah bukan pilihan yang buruk.”


“Kalau memungkinkan kita akan melanjutkan perjalanan saat pagi-pagi buta.” Ucap Hans, dia lantas pergi dan mengikatkan kudanya di salah satu pohon dan diikuti pasukan lainnya.


Termasuk aku dan Son, setelah benar-benar memastikan daerah belakang dengan obor dan merasa aman, baru kita mengikatkan kuda-kuda.


Itu pun agak ke belakang, setidaknya jika ada penyerangan dari belakang, suara kuda-kuda itu bisa kami jadikan alarm.


Ide yang tak begitu buruk, dari pada kami harus kelagapan sendiri ketika ada serangan dadakan.


“Son dan Tyaga, kalian carilah ranting-ranting kering, dan juga aku minta tolong salah satu penyihir untuk menggunakan sihir cahaya sampai api unggun tersedia. Pasukan lainnya bantu aku untuk mendirikan tenda peristirahatan dan beberapa alarm bahaya.” Ujar Hans membagi tugas untuk kami kerjakan.


“Bagaiaman denganku?” Tanya Adellia menawarkan diri.


“Oh ya kau, Adellia. Kau bantu Aalisha dan Saigiri untuk menyiapkan makan malam.” Balas Hans ramah.


“Baiklah...” Ucap Adellia, dia lalu berjalan menuju kereta kuda dan membantu mereka.

__ADS_1


Aku pun lekas mencari ranting pohon dan beberapa dedaunan kering, begitu pula dengan Son yang begitu semangat memungut ranting pohon yang berserakan di tanah.


Tak puas hanya menemukan ranting pohon yang kecil, dia pun memanjat salah satu pohon dan mematahkan salah satu dahan yang memiliki diameter lumayan jika dijadikan sebagai api unggun.


Namun aku tetap memperingatinya agar tidak terlalu jauh dan tetap dalam pengawasan teman-teman lainnya.


“Wahai anak muda!” Ucap seseorang yang muncul dari balik kegelapan.


“Sial! Kukira siapa Kek!” Seruku terkejut melihat penampakan kakek-kakek tua yang sudah bau tanah.


“Kenapa kau begitu terkejut?” Balasnya malah berbalik tanya.


“Bagaimana aku tidak terkejut! Kemunculanmu sangat mengagetkanku, kehadiran saja sudah membuatku muak.” Ucapku sambil mengelus dada dan mengatur detak jantungku agar kembali normal.


“Kau juga dapat merasakannya kan?” Tanyanya aneh.


“Merasakan apa?” Balasku kebingungan.


“Jangan berpura-pura tidak tahu, wahai anak muda. Dari tadi aku memperhatikamu, kau selalu menatap jauh di dalam hutan dengan mimik wajah yang menyembunyikan sesuatu.” Tandas Kakek Hork.


Dia menunjuk arah yang menebar aura negatif nan cukup kuat. “Di sana kan?” Tuntasnya.


“Apa yang Kakek maksud?” Lanjutku mengalihkkan wajah dan kembali mencari ranting-ranting yang berserakan di tanah.


“Kau itu istimewa?” Satu kalimat terakhir terucap dari mulutnya yang membuatku sejenak tertegun.


Aku terdiam. Ranting yang aku bawa berjatuhan. Tak lama pikiranku kembali sadar dan memungut ranting-ranting yang telah aku kumpulkan.


“Aku tak tahu apa yang Kakek bicarakan.” Ucapku lalu meninggalkannya, meskipun ranting yang aku bawa masih sedikit, tapi aku sedikit terganggu dengan kata-kata dari Kakek Hork.


Entah apa yang menganggu, padahal dia sekadar bertanya dan tidak aneh dalam ucapannya.


“Hei tunggu! Maaf jika perkataanku sedikit menyinggungmu.” Cegah Kakek Hork menghentikan langkahku.


“Maaf Kek. Aku bukannya tidak mau mengatakannya dengan jujur. Tapi aku sendiri masih belum tahu sepenuhnya siapakah diriku. Kalau memang ada aneh dari diriku, mohon tidak mempermasalahkannya. Aku hanya ingin hidup normal.” Balasku meliriknya.


“Dan juga... Jika Kakek ingin tahu apa yang ada di sana, Kakek cukup tidak ke sana dan menganggu atau memasuki daerah kekuasaanya," ucapku


"Kekuatannya jauh di atas penguasa yang tadi sempat kita temui sebelumnya. Aku hanya berpesan, jangan sampai salah satu pasukanmu bertindak bodoh." Aku melanjutkan ucapanku.


"Terlebih kau sendiri Kek, kalau masih belum terlalu yakin, jangan terlalu menuruti rasa penasaranmu itu.” Imbuhku mengingatkan Kakek Hork beserta pasukan yang dia bawa.

__ADS_1


“Ketidak tahuan akan mengakibatkan kecelakaan. Bencana memang tak dapat dihindarkan, tapi kau tahu jika pengetahuan dapat meminimalkan bencana tersebut..."


"....Jika kau tak ingin memberi tahuku sekarang, tak apa. Aku tak akan lagi memaksamu untuk bicara. Kalau kau ada pertanyaan tentang kebenaran dunia ini, temui aku," balas Kakek Hork.


"Aku akan menceritakan semua yang aku tahu.” Tuntas Kakek Hork dengan mimik wajah serius.


“Kau tahu jika kemampuan itu di atas kekuatan. Tapi kau tahu apa yang ada di atas kemampuan itu sendiri?” Tanyanya seraya menatapku.


“Memangnya apa?” Tanyaku singkat.


“Wahai anak muda, di atas kemampuan ada pengetahuan.” Jawab Kakek Hork sambil tersenyum dan meninggalkanku di dalam keheningan malam.


“Cepat selesaikan tugasmu, semua telah menunggumu.” Tuntasnya menghilang bersama bayang-bayang.


‘Menarik’, itulah kata yang menggambarkan suasana hatiku saat ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


WA : 08973952193


IG : bayusastra20

__ADS_1


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id


__ADS_2