
“Mungkinkah kau butuh bantuan?” tanyaku dalam sebuah kesunyian.
Aku tetap tidak mendapatkah jawaban apapun. Kabut mungkin meredam suaraku sehingga tak dapat didengarkan olehnya.
Aku memberanikan diri untuk menggapainya. Namun aku sedikit ragu, beberapa kali aku menarik ulurkan tanganku.
“Sedang apa kau?” ucap seseorang yang muncul dari kepulan kabut, suaranya terdengar berat dan parau seperti suara kakek-kakek.
“Kenapa kau berbicara dengan sebongkah batu?” imbuhnya.
Aku memfokuskan mata untuk mendapati sosok itu, kabut ini sungguh sangat menganggu.
Sosok itu mulai terlihat jelas, dari janggut dan pakaian yang dia kenakan tak salah itu adalah Kakek Hork.
“Untunglah kau masih hidup Kek, aku tak tahu harus bagaimana lagi jika kau ikutan hilang di dalam kabut ini,” ucapku sambil merengek padanya
“Apa yang kau lakukan,” balas Kakek Hork.
Dia menjauh dariku, sebab aku ingin sekali memeluknya dan memastikan itu benar-benar Kakak Hork yang aku kenal, bukan seekor monster jadi-jadian.
“Hiks... hiks.. aku sungguh takut kehilanganmu juga Kek,” ujarku seraya mengusap air mata yang mengalir tanpa kuperintah, ingus pun ikut memenuhi hidungku.
”Bukan main takutku setelah membuka mata dan tidak mendapati seorang pun di sekelilingku,” lanjutku.
Lalu aku menjelaskan bagaimana caraku bisa menemukannya di hilir sungai. Aku mengikuti jejak langkah kaki yang dibuat olehnya, hingga pada akhirnya menemukan secerca cahaya merah padam.
“Aku mendekati cahaya itu yang ternyata merupakan api unggun dan yang beruntungnya aku bertemu dengannya,” imbuhku seraya menunjuk sekilas bayangan seseorang yang tengah duduk.
“Sayangnya dia tak kunjung merespon ucapanku, meskipun sudah aku tanyai beberapa kali.”
“Wahai anak muda boleh aku menanyakan sesuatu?” ucap Kakek Hork dengan tampang serius.
“Ada yang aneh Kek?” tanyaku.
“Tidak... tidak ada yang aneh, aku hanya ingin bertanya apakah kau sudah memungut otakmu ketika tadi jatuh dari kuda,” tanyanya seraya melototiku.
“Apa kau sudah tidak bisa membedakan lagi antara manusia dengan sebongkah batu.” ucapnya sekali lagi, kali ini dengan nada menekan.
Kakek Hork merapalkan sihir angin untuk menyingkirkan beberapa kabut dan memperlihatkan dengan jelas sosok yang ada di depanku.
__ADS_1
Aku pun terkejut dan terlihat bodoh, sebab sedari tadi ternyata aku berbicara dengan sebongkah batu.
Bayangan batu itu memang tampak berukuran kecil sehingga aku menganggapnya seperti seorang yang tengah duduk menundukkan kepala.
“Maaf saja jika aku tidak menyadarinya,” balasku tersenyum kecil.
Kakek Hork menghela napas melihat tingkahku yang tampak malu-malu karena kejadian itu cukup menggelikan jika kuingat-ingat kembali.
Aku lalu menanyakan kenapa dia meninggalkanku.
Sementara aku tengah duduk sendirian untuk mencari keberadaan energi teman-teman di sebonkah batu yang berujung datar, meskipun sedikit landai.
Padahal dia telah berjanji akan menjaga daerah sekitar. Ketika aku fokus dalam pencarian, tubuhku tidak dapat aku gerakan serta inderaku yang lain juga ikut menurun.
Sebab itu aku butuh penjagaan agar tidak ada yang mengangguku.
“Namun apa yang kau lakukan?!” ucapku agak marah.
“Oh itu... untuk masalah perut aku benar-benar tidak bisa menahannya.”
“Buang hajat?” tanyaku.
“Lantas apa?” tanyaku mendekatinya, sepertinya Kakek Hork tengah menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya.
“Masalah perut yang aku maksud adalah rasa lapar,” timpal Kakek Hork sembari terdengar nyaring bunyi keroncongan di dalam perutnya.
“Astaga, aku tidak menahannya lagi, minggir...” lanjutnya seraya menyingkirkanku yang tengah membelakangi api unggun.
Tingkahnya seperti orang yang sedang kerasukan, bahkan dia sama sekali tidak mencuci terlebih dahulu ikan yang baru saja dia dapatkan
Lihatlah sisik-sisik ikan itu masih menempel keras di sekujur tubuhnya. Begitu juga bagaimana dengan isi perut ikan itu, apakah Kakek Hork sudah mengeluarkannya sebelumnya.
Terlebih cara memanggannya pun sangat salah.
“Kek apa kau bisa memangganya dengan benar?” tanyaku tak kuat melihatnya memasak dengan ala kadarnya.
“Wahai anak muda, saat ini tidak peduli benar apa salah dengan caraku memasak, yang terpenting itu cukup perutku bisa terisi kembali,” balas Kakek Hork acuh dan melanjutkan memanggangnya.
“Kau dapat berapa ekor?” Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
Aku kesampingkan dulu masalah yang ingin aku beritahukan padanya.
“Aku hanya bisa mendapatkan tiga," balas Kakek Hork.
"Kau mau? Bersyukurlah kalau kau bisa membawanya satu,” ucap Kakek memberikanku satu ekor ikan dengan tangan kirinya.
Sementara tangan kanannya fokus membolak-balik ikan yang tampak menggosong.
“Huh? Dari tadi cuman dapat tiga ekor?” ejekku, lalu menyaut satu ikan dari tangannya.
“Meskipun aku lebih lambat memasaknya, tapi lihatlah nanti siapa duluan yang bakal selesai duluan,” tandasku seraya mendongakkan kepalaku dan mengacungkan telunjuk ke arah Kakek Hork.
“Sudah-sudah, lekaslah memasak agar kita bisa melanjutkan tugas kita yang lainnya.” Kakek Hork mengipaskan jari-jemarinya untuk mengusirku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
__ADS_1
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id