Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 101 – Tiga? Tidak, Ternyata Enam


__ADS_3

“Jadi? Apakah ada yang memiliki strategi untuk bertahan dari serangan para monster?” tanya Adellia membuka sesi diskusi.


Diskusi itu hanya dihadiri beberapa orang saja, itu pun sudah termasuk kami berlima.


“Tidak bisa,” balas seorang kesatria yang tengah duduk di salah satu kursi. Dia kemudian berdiri.


“Hari ini kita benar-benar tidak bisa menghalau serangan para monster,” lanjutnya melangkahkan kaki mendekati meja yang di atasnya ada sebuah peta.


“Di sini,” tunjuknya di suatu tempat.


Semuanya pun turut mendekat agar bisa melihatnya lebih jelas. Tak terkecuali aku, Hans, dan Son. Sementara Saigir masih enggan ikut berdiskusi dengan para orangtua.


Sedangkan Aalisha masih duduk bersantai di dekat pintu dan tidak terlalu mempedulikan diskusi ini. Sikap cueknya itu terkadang membuatku kesal.


“Menurut salah satu pengintai, pola serangan para monster akan bertumpu dari arah utara,” ucap kesatria itu seraya terus-menerus menunjuk tempat yang dia maksud.


Dia juga menandainya dengan tiga buah balok kayu kecil yang berwarna merah.


“Apa maksudnya itu?” sela Son.


“Ini adalah tanda jumlah monster kuat, biasanya kami gunakan sebagai tanda komandan musuh,” balas kesatria itu menjelaskan balok kayu yang ada di tangannya.


“Kalau cuman ada tiga kenapa kita harus takut?” ucapku mengalihkan perhatian.


“Mohon maaf Tuan Tyaga, saya belum selesai memberikan informasinya.”


Kesatria itu kemudian melanjutkan penjelasannya yang sempat berhenti sejenak karena menanggapi pertanyaan dari Son.


Ternyata para monster tak hanya bersiap menyerang dari arah utara, melainkan ke seluruh penjuru mata angin.


Di tiap sisi setidaknya akan ada satu monster kuat dan diikuti oleh segerombolan monster lainnya.


Sekiranya jumlah monster kuat yang berhasil kami temukan di sekitar kamp perkemahan setidaknya berjumlah enam ekor. Tidak banyak, tapi tak sedikit pula.


Meskipun begitu para kesatrian menggolongkan monster kuat adalah monster yang memiliki daya serang tinggi, selain itu mereka juga mempunyai ketahanan fisik yang luar biasa.


Jadi tak mudah mengalahkannya hanya dengan sihir-sihir rendahan, tebasan pedang juga tidak terlalu berpengaruh pada monster itu.


“Lalu apakah monster-monster itu bisa mengeluarkan serangan berupa sihir?” ujarku.


Aku bertanya untuk memastikan apakah itu cuman monster yang memiliki level tinggi ataukah malah seekor Majuu.


Jika itu Majuu maka kesempatan kami untuk menang akan benar-benar mendekati nol persen.

__ADS_1


Pernah aku singgung sebelumnya, bagaimana kekuatan dan kengerian seekor Majuu itu.


Untuk mengalahkannya tidak mudah, meskipun kau sudah mencobanya dengan membawa seratus prajurit terlatih pun.


Mendengar pertanyaanku kesatria itu terlihat terkejut.


“Tidak, dari awal penyerangan aku belum pernah sekalipun melihat seekora monster dapat melancarkan sebuah serangan sihir,” sela seorang penyihir menanggapi pertanyaanku.


“Untunglah, lebih lagi jangan sampai seekor Majuu sampai ikut campur dalam penyerangan ini,” ujar Hans seraya menghela napas.


“Majuu?” tanya kesatria dan penyihir yang ada di sana. Mungkin mereka belum tahu apa itu Majuu.


“Iya Majuu, monster yang dapat mengeluarkan serangan sihir dan memiliki kecerdasaan. Mereka juga bisa berbicara selayaknya manusia biasa. Intinya mereka adalah monster yang wajib kita hindari,” ucap Hans.


“Lantas bisakah kalian menjelaskan sedikit monster yang ada di area sekita kamp, ataupun monster yang menyerang kemarin,” imbuhku melanjutkan diskusi.


“Monster itu memiliki tubuh yang sangat besar, sekitar dua puluh kaki.” Jawab seorang pasukan berzirah hitam.


“Besar sekali! Hampir tiga kali tinggiku!” seru Son seraya mengukur tingginya dan membayangkan monster setinggi enam meter.


Bahkan lebih tinggi dari tembok kayu yang dibuat oleh para pasukan. Pasti mudah bagi monster itu untuk menghancurkannya.


Mungkin dalam satu kali serangan, tembok kayunya akan runtuh dan rata dengan tanah.


Dia sedang memikirkan cara terbaik untuk mengalahkan ke enam komandan monster itu.


“Dari laporan yang aku terima sebelumnya, dapat sedikit aku simpulkan. Hari pertama mereka hanya menyerang menggunakan monster-monster biasa, mereka mungkin sedang mengintai," ucap Adellia.


"Hari kedua mereka mengirim salah satu komandannya dan beberapa monster yang lebih kuat, tapi tidak terlalu melakukan penyerangan," lanjutnya.


"Terlebih jumlah monster yang mereka kirim tak sebanyak hari pertama,” tuntas Adellia dengan membaca setumpuk kertas yang berisi laporan penyerangan di hari-hari sebelumnya.


“Menurut pengalamanku, pada hari kedua adalah masa penjajakan!” imbuhnya sembari membanting tumpukan kertas itu tepat di tengah-tengah meja dan mengacaukan formasi yang telah disunsun oleh kesatria.


“Penjajakan?! Apa yang kau maksud dengan penjajakan?” ucap Son, dia memang yang paling bersemangat di antara semua orang yang menghadiri rapat dadakan ini.


“Maaf menyela...” ujarku mengancungkan tangan sebelum ada yang menanggapi ucapan dari Son.


“Seperti ada yang perlu kau sampaikan, Tyaga,” jawab Adellia lirih.


Dari tadi aku perhatikan, Adellia lebih banyak diam. Meskipun di awal dia sempat berbicara untuk memulai diskusi ini, tapi sekarang dia tampak lebih pasif.


Tidak seperti biasanya. Mungkin dia sedang memikirkan keadaan Kakek Hork dan tidak bisa fokus dalam perbincangan. Meskipun dia sudah berusaha tidak memperlihatkan kegelisahannya.

__ADS_1


“Mohon maaf sebelumnya, apakah ada yang tahu dari mana asal munculnya kabut yang ada di luar,” tanyaku.


Aneh. Itu lah hal yang aku pikirkan sekarang. Salah satu kesatria mengatakan jika pengintainya menemukan monster kuat yang sedang bersembunyi di sekitar kamp perkemahan.


Tapi anehnya kenapa kemampuan mendeteksi energi monsterku tidak dapat merasakan adanya monster di sekitarku.


Aku juga telah bertanya pada Saigiri, tapi dia juga merasakan hal yang sama. Jadi tak ada yang salah dari diriku.


“Entahlah Tuan Tyaga, tapi kabut ini baru muncul saat dini hari tadi, dan kabutnya semakin pekat ketika menjelang sore.” Kesatria lainnya menjawab pertanyaanku.


Sama halnya dengan apa yang terjadi padaku sebelumnya. Bedanya aku baru menyadari kalau kabut kian menebal itu saat aku mulai kehilangan jejak dan tersesat bersama Kakek Hork.


Itupun saat aku menelurusi jauh ke dalam hutan, lalu berakhir menemukan kamp perkemahan ini. Apakah ini hanya perasaanku saja.


“Jadi kemarin dan dua hari yang lalu kabut ini masih belum muncul? Meskipun para monster sudah melakukan penyerangan?” ucapku mempertegas pertanyaanku sebelumnya.


Aneh sekali.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


WA : 08973952193


IG : bayusastra20

__ADS_1


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id


__ADS_2