
“Baiklah Tuan, mohon maaf atas keegoisan kami tadi.” Salah satu penyihir maju menghampiriku dan mengambil semua kristal yang ada di tanganku.
Dia lalu membagikannya ke penyihir lainnya dan syukurlah mereka mengalah dan mau mengemban tugas ini.
Aku pun mulai menjelaskan cara pengaktifannya. Di awal aku menyuruh mereka untuk menuju empat tempat yakni di tiap pojok dari kamp ini.
Setelah sampai mereka tinggal menunggu kode dariku, yakni ketika cahaya langit biru mulai menjalar ke langit.
Saat itu lah mereka harus segera mengalirkan energi sihir ke dalam kristal sihir masing-masing.
Mereka harus menunggu beberapa saat sampai semua cahaya biru di setiap penjuru menyatu dan membentuk sebuah barrier setengah bola.
Sebelumnya aku juga berpesan agar mereka berhati-hati saat membawa kristal sihir. Sebab kita tidak mungkin bisa mengaktifkan sihir pelindung empat penjuru jika salah satu penjuru kristal sihirnya tidak aktif.
“Hey tunggu!’ ucapku tepat sebelum mereka pergi.
“Apakah masih ada hal penting lainnya yang ingin kau sampaikan, tuan?” tanya salah satu penyihir.
“Ngomong-ngomong kau tadi mengambil berapa kristal sihir?” ucapku berbalik tanya.
Padahal aku tadi mengambil lima kristal sihir dari Kakek Hork, tapi mengapa tidak ada sisa satupun kristal sihir yang nantinya akan aku gunakan sebagai pusat dari sihir ini.
Tanpa suatu pusat, maka sihir pelindung empat penjuru akan susah untuk dikendalikan. Apalagi untuk menguatkan sihir pelindungnya akan jadi lebih sulit.
“Sebentar biar aku cek lagi,” ucap penyihir itu sembari merogoh kantong goni yang tadi diambil dari tanganku.
“Satu.. dua.. tiga.. empat... lima, ada lima tuan,” imbuhnya menghitung jumlah kristal sihir yang ada di dalam kantong.
“Untunglah tidak ada yang tertinggal, kalau begitu aku ambil satu, sisanya kalian pasang di tempat yang tadi aku jelaska,” balasku.
Aku mengambil satu kristal sihir dan menyuruh mereka untuk bergegas. Jelas kristal sihir yang aku ambil adalah kristal yang memiliki ukuran lebih besar dari lainnya.
Sebab kristal sihir inilah yang akan menjadi tumpuan kekuatan pertahanan dari sihir pelindung empat penjuru.
“Lantas apa yang akan kau lakukan dengan kristal itu?” tanya Aalisha mendekatiku.
“Apa mau aku panggilkan penyihir lagi,” imbuhnya menawarkan diri.
“Itu tidak perlu,” jawabku lugas.
“Mana mungkin kau bisa mengaktifkan kristal sihir tanpa energi sihir,” ucapnya sinis.
“Tentu aku memang tidak bisa melakukannya.” Kali ini aku membalasnya dengan sorot mata serius.
“Lalu?” tanyanya sepatah kata.
“Jangan pura-pura bodoh, Aalisha,” ucapku menyindirnya.
“Tentu aku tidak bodoh, tak seperti dirimu,” balasnya asal ceplos.
__ADS_1
GLEK...
Tak aku sangka aku termakan oleh omonganku sendiri, dia benar-benar jagonya bersilat lidah. Memang tidak salah jika dia diberi julukan ‘Rajanya berdebat’ di akademi.
Hans saja ketika berdebat denganya lebih memilih untuk mengalah jika dia tahu kalau akan susahnya beradu argumen dengan Aalisha.
Bahkan sekalipun itu guru, Aalisha tak gentar untuk melawan jika dia merasa dirinya benar.
“Aku tahu sebenarnya kau memiliki bakat sihir kan?” tanyaku sambil meliriknya diam-diam.
“Jangan asal bicara kau, mana mungkin aku memiliki bakat seperti itu,” balas Aalisha menghindar.
“Aku tidak asal bicara, aku tahu pasti,” timpalku.
“Dari mana kau mengetahuinya?” ucap Aalisha membalikkan pertanyaanku.
“Asal kau tahu, memangnya siapa yang dijadikan penerus penjaga pusat kristal sihir di Kerajaan Laiquendi?” tuntasku menatapnya dalam-dalam.
Tampaknya ucapanku menghujam penuh di lubuk hati yang terdalam, Aalisha sejenak terdiam dan tak bisa mengutarakan ataupun menghindar lagi.
Sebelum dia bertanya bagaimana aku mengetahui, aku langsung menjelaskan padanya. Itu bukanlah hal yang tabu, bahkan semua murid di Akademi Bunga Hijau mengetahuinya.
“Bagaimana? Kau mau membantuku kan?” ucapku menyodorkan kristal sihir yang ada di tanganku.
“Aku mohon, mengaktifkannya pasti tak seberapa dengan kristal sihir yang ada di kerajaan,” imbuhku memelas meminta tolong padanya.
“Baiklah,” balas Aalisha mengalah.
“Tenang saja, untuk urusan itu kau bisa pasrahkan padaku,” ujarku.
“Aku akan mengaktifkannya, aku sarankan kau agak mundur ke belakang,” timpal Aalisha.
Dia kemudian mendekap kristal sihir itu dengan kedua tangannya. Selang beberapa saat kristal sihir memancarkan sinar kebiruan, cahayanya sangat menyilaukan mata.
Selang beberapa detik, Aalisha kemudian mengangkat kristal sihir tinggi-tinggi dan cahaya itu menyorot lurus ke angkasa.
Meninggalkan berkas sinar biru bak laser. Lalu memusat membentuk sebuah lubang cincin di langit, tampak mendung nan biru semua.
“Semua telah siap! Kini tinggal tugas mereka untuk menghubungkan tiap cahaya yang terpancar dari kristal sihir!” ujar Aalisha.
“Aku harap mereka segera menyadarinya, sebab aku tak bisa menahan energi sihir dari kristal ini terlalu lama,” imbuhnya.
Mungkin energi sihir yang keluar dari kristal sihir tidaklah stabil.
“Bertahanlah sebentar lagi, tenangkan pikiranmu,” balasku, hanya ini yang bisa aku lakukan.
Selain itu aku juga harus mewaspadai daerah sekitar, sebab sudah banyak monster yang berhasil menembus pertahanan kami.
Meskipun para pasukan sudah berusaha sedemikian rupa, tapi jumlah monster ini terlalu banyak untuk dihalau semuanya.
__ADS_1
Dengan sigap aku menanggalkan pedangku dan bersiap bertarung kapan saja. Walaupun aku sendiri tak tahu jenis monster apa yang akan mendatangi kami.
Tapi aku wajib melindungi Aalisha selagi dia fokus mengedalikan gejolak energi sihir. Tidak ada kata mundur dalam kamusku, sebab ini adalah kesempatan satu-satunya.
Tak hanya bagiku, tapi bagi seluruh pasukan. Hanya ini yang bisa aku perbuat.
Satu per satu cahaya mulai muncul dari tiap penjuru, seperti mereka juga berhasil mencapai masing-masing tempat.
Tapi menyatukannya juga memperlukan waktu, setidaknya sampai semua berhasil menjadi satu kesatuan dan membentuk suatu barrier pelindung.
Sayangnya kami berdua terlalu menarik perhatian para monster sehingga dengan cepat mereka semua mengepungku dan Aalisha.
Jumlah mereka terlalu banyak, tapi aku sama sekali tak gentar untuk menghadapinya. Aku jadi semakin bersemangat, meskipun ketegangan kian meningkat.
“Tetaplah fokus! Biar aku yang mengurus mereka!” ucapku memberi tahu Aalisha jika aku masih bisa mengatasi para monster.
“Siapa juga yang peduli denganmu,” balasnya sinis.
“Asal kau jangan sampai sebelum aku menyelesaikan sihir pelindung empat penjuru ini. Percuma saja usaha kita tadi, jika kau mati dan aku gagal mengaktifkannya,” tuntasnya.
Dia kembali fokus untuk mengatur aliran energi sihir yang keluar dari kristal nan bewarna biru menyala.
“kau jangan meremehkanku, Aalisha," tandasku seraya meninggikan pedangku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
" S T A Y - S A F E "
WA : 08973952193
__ADS_1
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id