Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 36 – Senjata Roh Jiwa I


__ADS_3

“Lantas bagaimana carakah untuk membentuk Senjata Roh kalian?” Tanya Tetua Agamemnon menarik perhatian para murid akademi. Semua terdiam tak ada satupun yang bisa menjawab.


Kami bahkan lupa kalau inti dari semua proses adalah proses pembentukan Senjata Roh. Para murid seakan keasyikan mendengar penjelasan dari Tetua Agamemnon dan juga sesekali terhibur dengan pola aura ataupun pancaran cahaya dari energi roh yang dikeluarkan oleh Carsten maupun Tetua Agamemnon. Mereka juga sadar apabila proses penggunaan energi roh sebagai Senjata Roh sangatlah banyak dan tentu membutuhkan waktu yang tidak sedikit.


“Bagaimana kalau kita sekarang lanjutkan untuk proses pembentukan Senjata Roh?” Tanyanya sekali lagi, tapi kali ini berupa tawaran.


“Permisi yang terhormat Tetua Agamemnon, mohon maaf telah menyela perkataan Tetua.” Ujarku meminta ijin.


“Oh ya Nak Tyaga. Kau pasti ingin bertanya.” Tandas Tetua Agamemnon.


“Iya benar sekali Tetua.” Balasku tersipu malu.


“Lalu apa yang ingin kau tanyakan.”


“Sebelumnya Tetua Agamemnon pasti tahu kalau saya ikut bertarung sampai akhir bersama dengan pasukan bala bantuan yang dikirim oleh markas pusat.” Ucapku untuk meyakinkan semua orang bahwa aku bukanlah pengecut yang mereka maksud.


“Hei apa yang kau bicarakan?” Sela Cleo Acestes, putra kedua Raja Achille. Dia mungkin tersinggung dengan ucapanku.


“Mau apa kau, Alumni Cleo.” Balasku sinis sembari melirik tajam ke arahnya.


“Apa kau tadi bermaksud menyinggungku?” Tanya Cleo terlihat merah padam mukanya.

__ADS_1


“Huh? Apa maksudmu? Aku cuman menekankan bahwa aku tidak kabur saat pertarungan melawan Zardock.” Ucapku santai tanpa mempedulikan tingkah Cleo.


“Kau pikir aku tak tahu, kalau kau sedang membicarakanku!”


“Membicarakanmu? Sungguh hal yang sangat tidak penting bagiku. Buat apa aku mengurusi komandan pasukan delapan, jika andapun masih bisa mengurusi dirinya sendiri.” Timpalku menadahkan tangan dan sedikit menaikkan bahu, masa bodoh aku dengan urusannya. Buat apa coba aku mengurusi orang pengecut sepertinya.


“Maksudmu aku sama sekali tidak mempedulikan pasukanku begitu dan lebih mementingkan keselamatanku sendiri?” Balas Cleo mendesakku untuk berkata dengan jujur.


Tapi aku tidak akan masuk ke perangkapnya lagi. Tidak seperti sebelumnya, kali ini aku harus bersabar menghadapinya. Kalau tidak, pasti Raja Achille yang akan menanggung semua beban malu dan sedih andaikan tahu kalau anaknya, Cleo Acestes adalah seorang pengecut dan lari dari tanggungjawab sebagai komandan pasukan. Aku akan diam, biar kebenaran terungkap dengan sendirinya. Bangkai busuk tak lama pasti akan tercium.


“Hey! Kenapa kau diam saja?! Dasar pengecut!” Bentak Cleo menarik lenganku dan tanpa sadar dia telah memanggil sebutannya sendiri. Sangat lucu bukan.


“Cepat lepaskan atau...” Balasku mendelik tajam.


“CUKUP KALIAN BERDUA!!!” Hardik Guru Senjati mendekat dan meleraikan kami serta melepaskan cengkraman Cleo dari lengan bajuku.


Semua murid tertegun dan menundukkan kepala, tak mau melihat pertikaian di antara para kaum elit. Sedangkan Carsten yang tadi terlihat bersemangat akan proses pembentukan Senjata Roh, kini memalingkan wajah. Mungkin dia juga salah satu orang yang tidak menyukai watak dari putra kedua Raja Achille.


“Apa kalian berdua tidak bosan berseteru seperti ini?!” Tanya Guru Senjati.


“Siapa juga yang ingin bermusuhan dengan yang mulia Tuan Muda Cleo.” Balasku santai.

__ADS_1


“Lihatlah dia Guru! Berlagak seperti orang yang tak punya salah. Apa seperti ini peringkat satu sekarang?! Tidak punya sopan! Bahkan di depan gurunya sendiri bertingkah dengan santainya.” Ucap Cleo mencoba menghasut dan mempermainkanku. Sampai-sampai dia menyangkut pautkannya dengan peringkat akademi.


“Jika aku ada salah, aku memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Guru Senjati dan Alumni Cleo. Semoga permintaan maafku diterima.” Pintaku sambil berpura-pura memasang wajah memelas.


“Cukup! Kalau kau mengakui kesalahanmu maka aku dapat mempertimbangkan lagi.” Balas Guru Senjati.


“Terimakasih atas pengertiannya Guru. Apa urusan kita sudah selesai Komandan?” Tanyaku melirik sinis ke arah Cleo.


“Lihat saja nanti! Lain kali aku pasti akan menghancurkanmu!” Gumam Cleo geram dengan kelakuanku.


“Apa boleh buat kalau itu benar-benar terjadi, aku tak akan main-main lagi denganmu, Cleo.” Balasku semakin menyulut api dalam sekam.


“Hahaha... beginilah jiwa anak muda, sangat berkobar-kobar selayaknya api yang tak ingin padam. Semakin ditenangkan semakin menjadi. Semakin disulut akan semakin besar kobarannya. Aku tidak terlalu mempedulikan hal tersebut, asal kalian menyelesaikan masalah kalian selayaknya seorang kesatria. Jangan seperti seorang pengecut, yang menusuk dari belakang atau menggunakan cara kotor.” Gelegar tawa mengiringi ucapan Tetua Agamemnon. Dari tadi dia hanya memperhatikan pertikaian kecilku dengan Cleo sambil berbincang-bincang dengan Raja Achille.


Sedangkan Raja Achille hanya tersenyum dan mengisyaratkan untuk melanjutkan proses pembentukan Senjata Roh.


“Baiklah untuk sekarang kita kesampingkan dulu urusanmu dengan Tuan Muda Cleo. Tadi apa yang ingin kau tanyakan, Tyaga?” Imbuh Tetua Agamemnon.


“Mohon maaf kalau tindakanku sedikit merepotkan Tetua Agamemnon. Saya ingin menanyakan mengenai {Senjata Roh Jiwa}. Pada pertarunganku sebelumnya, saya mendengar beberapa kali seseorang merapalkan suatu mantra pemanggilan jiwa dengan menggunakan sebuah batu kecil yang ada di cincin mereka.” Ucapku menjelaskan sedikit peristiwa yang telah kualami.


“Pasti dia mengada-ada, atau bisa juga dia mengambil sedikit informasi dari pasukan bala bantuan agar terlihat seperti orang yang benar-benar telah ikut dalam berperang.” Gumam Cleo sendiri tanpa teman yang diajak bicara. Iyalah, elf seumurannya semua sudah menjadi prajurit dan sebagian lagi pasti menjadi salah satu korban pertempuran kemarin saat melawan Zardock.

__ADS_1


“Bagaiamana kau tahu tentang {Senjata Roh Jiwa}? Apa kau juga menyaksikan ritual «Qua» dengan mata kepalamu sendiri?” Tanya Tetua Agamemnon penuh semangat.


(Apa mungkin Tetua juga mengetahui tentang ritual «Qua»?) Pikirku.


__ADS_2