Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 106 – Tarian Pedang


__ADS_3

“Tetaplah fokus! Biar aku yang akan mengurus mereka!” ucapku setelah mengetahui banyak monster yang mengelilingi kami.


Dari energi yang aku rasakan, monster-monster itu memang tidak terlalu kuat ataupun berbahaya.


Tapi dengan jumlah yang begitu banyaknya, tak mungkin bagiku untuk menang dengan mudah. Mereka berjumlah sekitar belasan monster.


Hanya saja yang paling membuatku eggan untuk melawan mereka adalah aku tidak tahu pasti monster-monster berjenis apa.


Untuk sementara aku tidak bisa memprediksi gerakan ataupun pola serangan mereka, jadi sebisanya aku harus bisa mengulur waktu, dan menyerang jika ada kesempatan.


Aku lihat monster-monster itu secara seksama. Banyak dia antara mereka mungkin bertipe kecepatan. Dari auranya saja sudah terasa seperti angin.


Tak mungkin jika tidak bertipe kecepatan. Sebab untuk melewati para pasukan, monster-monster itu jelas melesat dengan kecepatannya.


Sehingga pasukan yang menghadangnya jadi kewalahan dan mudah untuk diterobos.


Kalau benar mereka bertipe kecepatan, maka aku harus menggunakan tipe pertahanan jarak dekat.


Aku mundur beberapa langkah untuk mendekatkan jarakku dengan Aalisha. Penjagaan aku lebarkan sedemikian rupa dengan memperluas jarak pandang.


Posisi tubuh sedikit merendah, begitu pula dengan kuda-kuda yang aku gunakan. Kaki kanan sedikit menekuk ke luar.


Sedangkan kaki kiri lurus ke belakangan dengan ujung jempol lebih ke dalam. Sementara pedang kembali aku sarungkan.


Namun tangan kiri memegang erat sarung pedang, sementara tangan kanan bersiap pada pegangan pedang. Kapan pun siap melepaskan sebuah tebasan tunggal.


Mata nan kian fokus ke depan, mengikuti tiap inci pergerakan tiap-tiap monster. Aku berusaha tidak sedikit pun melakukan gerakan yang tidak perlu.


Tiap gerakanku penuh akan tekanan dan kesigapan. Bagaimana tubuh dan mata harus selaras. Bersiap melakukan tebasan tunggal dalam satu kali helaan napas.


Memang tak jarang napas ikut memburu, tapi wajib bagiku untuk menstabilkannya. Agar bisa lebih berkosentrasi melihat pergeraka para monster.


“Datanglah kapan pun, pedangku senantiasa menebas kepala kalian,” gumamku lirih diikuti hembusan napas yang semakin berat.


Mataku manatap tajam lurus ke dapan, waktu kian berjalan lambat, seperti aku sudah cukup fokus kali ini. Aku tak akan membiarkan kalian lewat.


Tampak satu per satu monster itu bersiap menyerang, ada yang tengah menyiapkan kuda-kuda.


Ada yang sedang mengumpulkan kekuatannya pada satu titik, dan ada pula yang langsung melesat ke arahku dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Monster itu berlari sekencang-kencangnya, kombinasi keempat kakinya sungguh luar biasa. Kaki belakang sebagai pelontar, kaki depan sebagai peraih.


Mereka berlari lurus tanpa ada tipuan ataupun pola serangan lainnya.

__ADS_1


Tapi aku sangat menantikan serangan itu. Aku semakin mengeratkan genggaman di ujung pedang maupun pada sarung pedang.


Dalam satu kali hentakan napas setidaknya aku bisa membunuh dua monster yang ada di depan.


Setelah aku akan kombinasikan dengan tebasan vertikal dan di akhiri dengan sebuah tusukan. Mungkin kombinasi itu bisa aku gunakan.


Jarak semakin dekat, aku pun kian menguatkan pedangku.


Sesuai rencana, dua monster langsung menyerangku dari arah depan. Tampak menyerangkan gigi-gigi taringnya yang dihiasi oleh lumuran darah.


Entah itu darah siapa, tapi tampak kental dan segar. Terlihat pula sisa-sisa daging yang terselipkan di antara gigi.


Darah kian mengilap bercampur dengan air liur, menetes sebuah cairan berwarna merah kental.


Aku semakin merendahkan tubuh dan memfokuskan tumpuan di kedua kaki. Aku menghirup napas panjang dan melepaskan dalam satu kali hembusan napas.


Bersamaan dengan itu aku melepas pedangku dengan tangan kanan dan menebas kedua monster itu dalam satu kali ayunan pedang.


Dua kepala monster melayang di atasku dan menyisakan bekas cairan merah di pedangku. Tidak sampai di situ, kali ini aku yang akan menyerang duluan. Aku pun berlari ke depan.


Satu, dua, tiga, empat, setidaknya masih sisa empat monster yang ada tepat di depanku. Mereka hanya jenis monster berkaki empat, setidaknya kecepatannya masih di bawah yang awal tadi menyerangku.


Tapi aku harus tetap waspada, mungkin keempat monster itu masing-masing memiliki kemampuan tersembunyi.


Pertama-tama aku akan mengincar monster yang ada di paling kanan. Karena tubuhnya lebih besar dari lainnya, jadi mudah bagiku untuk mengenainya.


Cukup mudah, monster itu langsung terhempas dengan kepala yang terbelah menjadi dua.


Setelah aku langsung menunduk menghindari serangan dari monster lainnya, dia melancarkan sebuah cakaran yang mengincar kepalaku.


Beruntunglah aku mendapat kesempatan yang bagus untuk menyerangnya. Pertahanan bagian tubuh tengahnya jadi terbuka lebar.


Aku tidak akan menyia-siakan kesempatan ini. Aku langsung menyabitkan pedang ke perut monster itu dan membuat isi perutnya keluar semua, bersamaan dengan darah yang membanjiri pakianku.


Sisa dua monster lagi. Sepertinya kedua monster itu tidak terburu-buru menyerangku, mereka lebih bisa mengendalikan nafsu dan menghentikan langkahnya.


Aku langsung melancar sebuah tebasan tunggal ke salah satu monster, tapi dia masih bisa menghindarinya dengan melompat ke belakang.


Aku tidak berhenti, dari posisi ini aku membalikkan badan dan menghujam monster satunya dengan sebuah tusukan tajam.


Meskipun tak berhasil membunuhnya tapi tusukanku berhasil mengenai salah satu matanya.


Dia meraung-raung kesakitan. Aku tidak berhenti sampai disitu saja, dengan jarak tak terlalu jauh dariku.

__ADS_1


Ayunan pedangku masih bisa menggapainya. Aku memutarkan badan seraya menganyukan pedang seirama dengan tiap hembusan napas.


Aku menyebutnya teknik tarian pedang. Padahal banyak sekali kombinasi serangan dari teknik tersebut, tapi aku hanya bisa menguasai beberapa saja, dan ini adalah teknik tarian pedang level pertama.


Sejenak teknik itu dapat mengelabui monster itu dan tanpa dia sadari dengan cepat pedangku memenggal kepala mosnter itu.


“Mudah! Mudah sekali!” ucapku bersemangat setelah membunuh lima monster dengan mudah.


Tinggal tujuh monster lagi. Akan tetapi perasaanku mengatakan jika mengalahkan sisanya akan jauh lebih sulit dibandingkan sebelumnya.


Sayangnya hal itu tidak membuatku berkecil hati, malah memecutku agar tidak mengendorkan serangan sedetikpun.


Aku mesti mengalahkan semua monster dan melindungi Aalisha dengan segenap nyawaku.


Lantaran Aalisha dan aku adalah satu-satunya harapan untuk bisa menghalau serangan para monster, sampai tiba waktunya kami bisa menyerang balik.


Aku tidak boleh menyerah sekarang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


" S T A Y - S A F E "


WA : 08973952193

__ADS_1


IG : bayusastra20


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id


__ADS_2