
“Mudah! Mudah sekali!” ucapku penuh semangat.
“Jangan terlalu bersemangat, tetaplah berhati-hati,” timpal Aalisha.
Terlihat dia semakin kesusahan untuk mengendalikan energi sihir yang terpancar dari kristal sihir. Energinya sedikit demi sedikit mulai menggila menembus angkasa.
Tinggal tujuh monster lagi. Akan tetapi perasaanku mengatakan jika mengalahkan sisa monster itu akan jauh lebih sulit dibandingkan membunuh kelima monster di awal pertarunganku.
Sayangnya hal itu tidak membuatku gentar sama sekali, malah sebaliknya. Aku jadi semakin bersemangat dan kian menguatkan pedang yang ada di tanganku.
Tampak ketujuh monster itu tengah bersiap menyerang. Dari gelagatnya, mereka sepertinya ingin menyerangku secara bersamaan.
Aku tahu dari tatapan mereka yang tak hanya terfokus padaku.
Lebih lagi mereka juga mengubah posisi mereka, sehingga membentuk sebauh formasi dengan empat monster yang bertubuh lebih besar berada di barisan paling, dan sisanya berada di belakang.
Monster yang tadi hampir saja aku bunuh, kini berada di posisi yang paling belakang dan berlindung dari balik keenam temannya.
Aku pikir itu hal yang percuma, sebab tak akan satu pun dari mereka yang aku ijinkan untuk melewatiku.
Tapi yang menjadi permasalahannya adalah aku tidak tahu apa yang sedang mereka rencanakan.
Kendati demikian aku tidak bisa meremehkan mereka yang sekarang, sebab mereka tak hanya menyerang dengan menuruti naluri buas dan hawa nafsu saja.
Melaikan sekarang mereka lebih memikirkan cara untuk mengalahkanku. Di lihat dari cara mereka mengatur sebuah formasi, sekelas monster saja bisa membuat formasi yang hanya memiliki secuil celah.
Formasi yang mereka gunakan hampir mendekati kata sempurna. Tak ada celah yang bisa aku gunakan untuk mengacaukannya.
Aku sempat bertanya-tanya, dari mana mereka belajar menggunakan formasi itu.
Tidak mungkin kalau mereka asal-asalan membuat formasi, pasti ada dalang dibaliknya.
Entah itu seekor monster yang lebih kuat atau bahkan mungkin seekor monster yang bisa mengeluarkan sihir, Majuu.
Beruntungnya kami, sebab saat ini tidak ada satupun Majuu yang ikut dalam penyerangan. Kalau pun ada bisa habislah cerita ini.
“Apa kau bisa mengatasi mereka sekaligus?” tanya Aalisha.
Keringat membanjiri deras di wajah, napas semakin memburu, tubuhnya pun seakan tak kuasa menahan gempuran-gempuran energi sihir yang keluar.
Sehingga membuatnya beberapa kali menampakkan getaran hebat yang menjalar ke seluruh tubuh.
“Entahlah,” jawabku singkat.
“Tapi aku akan berusaha sekuat tenaga, jadi pasrahkan urusan di sini padaku, kau tetaplah fokus pada tugasmu,” imbuhku seraya menanggalkan pedang dan memegangnya kuat-kuat dengan kedua tangan.
Kali ini aku tidak hanya terpaku pada kecepatan dan ketajaman saja, melainkan akan menggunakan kekuatan serta kemampuanku dalam berpedang.
Aku akan serius melawan mereka bertujuh, monster itu tampak garang menunjukkan gigi taringnya, seakan berpesan kepadaku untuk pergi menjauh dan segera menyerah.
__ADS_1
‘Apa kau bercanda?’ gumamku menatap tajam sepasang mata yang tepat berada di depan.
Sejenak ada pertarungan batin antara aku dan ketujuh monster.
Serentak mereka meluncur ke arahku. Aku tidak boleh terpancing dan meninggalkan posisiku.
Seperti yang aku ketahui sebelumnya, sekarang mereka tak hanya menuruti nafsu liarnya.
Melainkan lebih mencari cara agar bisa menghentikan proses pengaktifan sihir pelindung empat penjuru.
Ketika mereka berhasil memancingku, pasti satu di antara mereka akan langsung berlari menuju Aalisha.
Keenam monster lainnya akan berperan sebagai umpan dan menahan pergerakkanku. Licik sekali. Sayangnya aku sudah mengetahui strategi kalian dari awal.
Tidak cukup sulit bagiku untuk menghadang mereka, meskipun aku kalah jumlah dan pastinya monster-monster itu memiliki tubuh, kecepatan, dan serangan yang lebih kuat dibandingkan dengan monster yang telah aku bunuh sebelumnya.
Jarak kian mendekat. Tak ada waktu lagi untuk memikirkan strategi yang matang. Aku kemudian membalikkan badan lalu melompat ke belakang, jarak lompatanku sekitar dua meter.
Setelahnya aku menunggu kedatangan mereka. Dengan posisiku kali ini aku lebih mudah melindungi Aalisha, karena jarak di antara kami berdua hanya terpaut beberapa senti saja.
“Kau akan menggunakan cara itu?” tanya Aalisha tanpa memalingkan wajah sedikitpun.
“Iya,” jawabku singkat sembari mengayunkan pedang untuk menghilang sisa-sisa darah yang masih menenmpel.
“Dasar licik,” timpalnya sinis.
Aku tetap berdiam diri, menunggu mereka yang mendatangiku.
Usahaku ternyata berhasil dan membuat mereka jadi semakin geram.
Monster-monster itu langsung berlari ke arahku, sekencang-kencangnya, tanpa mempedulikan formasi lagi sehingga aku dapat melihat banyak celah untuk mengacaukannya.
Namun tujuanku menarik perhatian mereka bukanlah untuk mengacaukan formasinya, melainkan untuk membinasakan mereka.
“Apa yang kalian tunggu! Cepatlah kemari dan gigitlah aku!” teriakku semakin menyulut amarah mereka.
‘Hei, hei, hei boy, kau tidak tahu apa yang sedang menunggu kalian,’ batinku seraya memamerkan senyuman licik dengan salah satu ujung bibir yang menyimpul ke atas.
Jarak semakin dekat, tapi para monster itu tidak mengetahui apa yang tengah menunggu kedatangan mereka.
Semakin lama amarah mereka jadi tidak terkendali, bahkan mayat temannya pun diterjang begitu saja.
Insting binatang buas kembali menguasai para monster, sejatinya memang seperti itu. Monster tetaplah monster, biarpun mereka berjenis apapun.
BRUK!
Keempat monster yang posisinya paling depan masuk ke dalam perangkap yang telah kami buat sebelumnya.
Jadi sebenarnya sebelum aku meminta Aalisha untuk memanggil empat penyihir, aku terlebih dahulu memberitahukannya tentang sihir pelindung empat penjuru.
__ADS_1
Setelahnya aku meminta untuk dibuatkan sebuah parit yang diisi dengan pedang-pedang yang ujungnya menghadap langit.
Walaupun aku tahu jika Aalisha pasti lebih paham dariku mengenai sihir pelindung empat penjuru.
Setelahnya dia langsung memanggil beberapa kesatri untuk membantunya membuat parit dan sebagian ada yang mengumpulkan beberapa pedang yang sudah tidak terpakai.
Sementara lainnya ikut berjuang bersama Adellia guna menghalau monster yang tengah berusaha masuk ke dalam kamp perkemahan.
Ya, meskipun parit itu tidak terlalu dalam, tapi cukup untuk membunuh monster yang terjebak di dalamnya.
Tampak dari atas aku saksikan keempat mosnter itu mati secara perlahan karena kehabisan darah dan tidak bisa menggerakan tubuhnya karena sudah tertusuk oleh belasan pedang.
Darah kian menggenang dan mengalir bak sungai, menyelusuri tiap bilah pedang. Merah nan kecoklatan sebab bercampur dengan tanah.
Sementara ketiga monster yang ada di belakangnya terlihat masih bisa menghentikan langkahnya tepat sebelum memasuki parit yang dipenuhi oleh pedang.
Sorot matanya tampak kesal dan penuh aka rasa balas dendam. Mereka ingin sekali membunuhku.
Berkali-kali monster itu meraung-raung, mungkin menyesali kepergian temanya atau sedang meminta bala bantuan pada monster lainnya.
“Silahkan kau panggil semua temanmu, aku pasti akan membunuh mereka semua!” ucapku dengan keras.
“Aku tidak akan membiarkan kalian lewat begitu saja!” tandasku seraya mengancungkan pedang menantang monster-monster itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
" S T A Y - S A F E "
WA : 08973952193
__ADS_1
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id