
“Bagaimana?” Tanyaku dan ikut membantu apa yang dicari oleh Hans.
Sejenak Hans terdiam setelah dia membaca buku catatan yang diberi oleh Tetua Agamemnon. Entah apa yang dia dapatkan, hingga matanya melotot ke arahku, seakan ingin mengatakan hal yang sangat penting dan sangat gawat.
“Apa yang kau temukan, Hans?” Tanyaku lagi setelah melihat rauh wajahnya yang mulai memucat. Pasti ada yang tidak beres dari jalur yang sudah kami lalui dan telah disetujui bersama sebelum keberangkatan dimulai.
“Kita harus mengatur ulang jalur perjalanan ini, Tyaga.” Balas Hans sedikit panik.
“Baiklah Hans. Tapi terlebih dahulu kita harus secepatnya mengurus para «Tiny Wolf», mereka tampak sudah sangat kelaparan.” Ujarku malah ikutan ikutan panik.
Hans menghela napas panjang demi menenangkan pikirannya. Perlahan wajah serta keringat di dahi yang tadi sempat membasahi kini terlihat agak mendingan. Sesekali dia memejamkan mata dan berusaha untuk fokus kembali.
Dia kemudian membuka lagi buku catatan Tetua Agamemnon, setelahnya turun dari kereta kuda dan mengecek area sekitar. Sepertinya dia sedang memastikan kebenaran dari catatan Tetua.
“Tidak salah lagi!” Ucapnya serius.
“Apa yang tidak salah lagi?!” Timpalku penasaran.
“Kita seharusnya tidak mengambil jalan secara random, kita hanya memilih jalur asal keluar dari hutan. Tanpa mengetahui apakah jalur kita aman ataukah malah kita masuk ke dalam wilayah teritorial suatu koloni.” Ujarnya yang masih mengecek area sekitar.
Tanpa mempedulikan «Tiny Wolf» yang semakin meraung-raung kelaparan.
“Hey Hans! Cepat katakan apa yang telah terjadi, kenapa kau begitu panik.” Balasku menarik lengan baju, sebab lama-kelamaan dia kian masuk ke dalam rimbanya Hutan Laiquendi.
“Maaf... maaf...” Hans menghentikan langkahnya tepat sebelum dia terjatuh dalam tanah miring, tanpa sadar kita akan memasuki dataran tinggi.
Aku pun mengajaknya untuk mengurus terlebih dahulu para «Tiny Wolf», setelah baru membicarakan masalah yang ada di pikirannya bersama dengan semuanya dan terlebih pasukan Adellia.
Hans menyetujui ucapanku, dia lalu menyuruhku untuk kembali masuk ke dalam kereta kuda untuk menngambil buah apel sebanyak jumlah «Tiny Wolf» dan juga sebongkah daging domba.
“Daging domba?” Tanyaku. Apa dia benar lupa kalau kita hanya membawa buah-buah dan bahan pokok lainnya yang tak mudah basi.
__ADS_1
“Astaga aku lupa, kalau begitu ambil saja sembarang buah-buahan yang sekiranya cukup untuk mereka bawa.” Balasnya.
Aku sama sekali tidak dapat memahami perkataanya sepatah kata pun. Aku hanya menuruti perkataan dan mengambilkan apa yang dia suruh, yang aku tahu bahwa apel itu akan dia berikan ke monster-monster yang sedang kelaparan.
Selain itu aku tak mengerti, sementara yang aku bawa hanyalah sebatas beberapa makanan atau buah-buahan yang akan basi besok pagi atau yang berumur pendek.
Setelahnya dia membantuku membawakan beberapa buah makanan dan sekantong apel yang berisi sepuluh buah. Kami bersama-sama menuju ke Adelli dan teman-teman lainnya, mereka juga sedang terpojok karena tidak bisa menyerang ataupun lari dari monster-monster kecil «Tiny Wolf».
Kesatria masih terjaga dengan pedangnya di barisan paling depan, sedangkan penyihir tampak sedang menyiapkan sihir tipe bayangan, dari gelagat dan postur serta cahaya hitam nan pekat.
Tak salah lagi penyihir sedang menyiapkan sihir «Bivestiger», bersiap menghentikan pergerakan para monster dengan ikatan bayang.
“Apa yang kau bawa itu?” Tanya Aalisha yang pertama kali menyadari kedatangan kami.
Bercampur aduk antara perasaan waspada, heran, dan bingung. Semua orang malah memandangi kami secara seksama dan fokus pada kantong-kantong yang kami bawa, tiga buah kantong lebih tepatnya.
Satu berisi apel dan dua kantong sisanya berisi buah dan makanan yang hampir basi. Sebelum semua banyak tanya Hans langsung menjelaskannya jika kantong-kantong adalah seperti upeti yang akan diberikan kepada monster-monster itu. Ucapnya dengan seksama agar tidak ada salah paham.
“Upeti? Apa maksudmu, bukankah kau seharusnya menjelaskan lebih jelas lagi!” Tandas Adellia mendesak Hans untuk menceritakan semuanya.
Tak ada yang berani membantah. Sebab di kala Hans serius, dia dapat dengan mudah meyakinkan orang lain dan aura kepemimpinannya lah yang membuat semua akan menurutinya tanpa dapat membantahnya lagi.
Terkadang aku berpikir kalau ucapan Hans itu mutlak, sebab buah hasil dari pemikirannya bukanlah hal yang main-main.
Sebab itu dia menjabat menjadi ketua organisasi murid di Akademi Bunga Hijau sampai tiga kali berturut-turut dan itu adalah rekor terlama.
Guru Senjati saja sangat mempercayainya, hingga suatu hari Hans diijinkan oleh Guru Senjati untuk mengikuti perwakilan akademi saat ada acara di istana kerajaan, di undang oleh sang Raja Achille. Acara tahunan Kerajaan Laiquendi yang hanya dapat diikuti kalangan kelas atas.
“Biarlah aku dan Tyaga yang mengurusnya, tolong suruh kesatriamu untuk mundur.” Pinta Hans yang sedang berbicara dengan Adellia.
Namun Adellia membalasnya dengan tatapan tidak percaya dan malah diam membisu. Dia tetap mendesak Hans untuk mengatakan sejujurnya.
__ADS_1
“Tenang saja, kami ras Elf lebih mudah berinteraksi dengan hewan atau monster yang ada di Hutan Laiquendi, sebab kami sudah tinggal di sini berpuluh-puluh tahun lamanya. Jadi bau kami lebih mudah diterima oleh mereka dari pada kalian. Para pendatang dari luar.” Imbuh Hans.
Secara harfiah memang benar apa yang diucapkannya. Tak ada alasan bagi Adellia untuk menolaknya.
Kami tahu kalau kalian memang lebih kuat daripada kami, tapi tetap saja kalian adalah orang luar, dan kami lebih tahu dari kalian mengenai apa saja yang ada di dalam Hutan Laiquendi ini.
Semoga buah hasil pemikiran Hans kali ini tepat dan kita dapat melanjutkan perjalanan menuju ibukota, Kerajaan Dordrecth.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
__ADS_1
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id