Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 91 – Sial! Beribu Sial!


__ADS_3

Sial, beribu sial. Aku tak kunjung menemukan mereka.


Walaupun aku terus mengikuti hilir sungai, tanpa berbelok sedikit pun.


Lebih-lebih aku juga tidak mendapati percabangan seperti tadi, aku cukup yakin aku masih di jalur yang benar.


Anenhnya sejam berlalu begitu cepat, secepat pacuan kudaku.


Sial, beribu sial. Kabut kian menebal, jarak pandang semakin pendek.


Akibatnya membuatku mengambil jalan yang benar-benar dekat dengan aliran sungai.


Bahkan tanah yang dipijak oleh kudaku adalah tanah becek, sehingga sedikit memperlambat laju.


Meskipun aku sudah berusaha mengambil jalan yang tampak lebih kering. Percuma.


Kalau aku kembali ke jalan lebih aman pasti tak lama aku akan kehilangan aliran sungai.


Sial, beribu sial. Kata-kata terus menggema di dalam pikiranku.


Aku tak ingin hal itu terjadi. Aku benar-benar takut jika semua malah terpisah akibat keadaan kabut yang kian menebal ini.


Semoga Hans dapat membaca situasi dan mengambil keputusan yang tepat. Semoga saja.


Tak habis pikir aku kenapa situasinya jadi seperti ini.


“Apa aku harus menggunakan sihir cahaya untuk menghilangkan kabut ini?” Kakek Hork menawarkan diri untuk membantuku.


Namun itu hal yang percuma. Meskipun Kakek berhasil mengaktifkan sihir cahaya, aku tak yakin sihir itu dapat bertahan dalam kabut setebal ini.


Perasaanku mengatakan jika kabut ini bukanlah kabut biasa.


Ya. Dari yang aku rasakan memang tak ada sedikit pun racun atau efek yang dapat membius seseorang.


Entah kabut ini murni seperti ini ataupun ada sangkut pautnya dengan makhluk lain atau bahkan ulah dari seekor monster.


“Itu tidak mungkin Kek,” balasku tetap memfokuskan diri menatap arah depan mencari secerca cahaya dari lentera kereta kuda kerajaan.


“lantas apa kita akan terus begini Nak Tyaga.” Baru kali ini Kakek Hork menyebut namaku dengan benar.


“Apakah kau akan terus bergerak mengikuti aliran sungai ini,” imbuhnya menarik-narik bajuku bagian belakang, beberapa kali dia tampak hampir jatuh dari kuda.


“Bisa jadi kita bukannya tertinggal, mungkin malah kita lah yang meninggalkan mereka,” tuntas Kakek Hork.


GLEK, aku menelan ludah.


Kalimat terakhir dari ucapan Kakek Hork memang tidak sepenuhnya salah.


Mungkinkah aku terlalu fokus sampai-sampai tak sadar jika kamilah yang malah meninggalkan mereka.


Tapi tak sepenuhnya juga benar, sebab dari keadaan sebelumnya Hans dan Son memacu kudanya dengan sangat cepat, dan diikuti lainnya yang tak kalah cepatnya.


Sial, beribu sial. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.


Otakku benar-benar buntu, tak ada mencerna sedikit pun situasi yang aku alami sekarang.

__ADS_1


Ini bukan lagi kawasan yang bisa aku tangani. Sangat berbeda dengan kondisi yang biasa aku alami ketika berekspedisi di dalam Hutan Laiquendi.


Aku merasa kami benar-benar telah memasuki area inti dari hutan nan mengerikan.


“SIAL! BERIBU SIAL!” Aku tak dapat lagi mengendalikan kepanikanku.


Tanpa aku sadari aku malah memecut kudaku dengan sangat keras hingga membuatnya berhenti mendadak dan melemparkan aku dan Kakek Hork ke depannya.


“AKH!” pekikku setelah menghantam batu besar.


“Aduh...” seru Kakek Hork yang hanya terbanting di tanah berlumpur.


“Apa yang kalau lakukan Tyaga.” Dia menghampiriku lalu memarahiku, tampak alis putihnya terangkat tinggi, dan semua gigi serinya menyatu geram akan kelakuanku.


“Maaf Kek... aku tak dapat berpikir jernih sedikitpun,” balasku seraya memegangi punggungku, sepertinya luka lama muncul kembali.


“Tenangkan pikiranmu dulu! Sementara kita akan beristirahat di sini,” timpal Kakek Hork membantuku untuk duduk.


Setelahnya dia menuju kudaku dan menenangkannya juga, dia lalu mengikatnya di sebuah pohon besar yang tak jauh dari kami.


Aku hanya bisa merenung dan menenangkan pikiranku.


Aku sangat tahu jika pikiranmu kacau maka tak ada hal lain yang dapat kalian lakukan.


Walaupun sudah berusaha sesusah apapun, ujung-ujungnya malah akan memperburuk suasana.


Jadi hal yang perlu kalian lakukan adalah menenagkan pikiran dan kembali mencoba berpikir secara rileks.


“Jadi apa yang akan kita lakukan selanjutnya Kek?” ucapku memecah keheningan.


“Sampai kapan?” tanyaku sekali lagi.


“Sampai kau benar-benar tenang dan dapat mengendalikan dirimu,” balasnya sinis.


Dia kemudian mengambil beberapa ranting di sekitar dan menyusunnya segitiga.


“Udaranya mulai dingin, mungkin di luar hari semakin sore,” imbuhnya seraya menyalakan api unggun dengan sihirnya.


Benar saja yang diucapkan oleh Kakek Hork. Aku tersadar ketika rasa dingin menjalar paksa kakiku.


Hembusan udara pun mulai terasa lebih sejuk. Sepertinya aku baru dapat merasakannya ketika pikiran nan kembali tenang.


Beberapa kali aku mengatur pernapasan, setiap hembusan napas sedikit demi sedikit mulai memahami sekitar.


Setiap jarak jangka langkah kaki, kucoba untuk merasakannya.


Hembusan angin kini tergantikan dengan hangatnya api unggun yang tengah menyala kecil di depanku.


Butiran-butiran sisa pembakaran melayang terhembus angin lalu menyentuh kulitku nan terasa perih, tapi rasa itu hanya datang sesaat.


“Apa kau sudah tenang?” tanya Kakek Hork duduk bersila di sampingku.


“Iya Kek, terimakasih telah mengingatkanku,” balasku seraya perlahan memejamkan mata.


“Kau tahukan apa yang seharusnya kau lakukan.” Kakek Hork lebih dahulu menyadari bagaimana cara keluar dari situasi ini.

__ADS_1


“Ya,” ucapku hanya memberikan jawaban sepatah kata.


“Lakukanlah... dan carilah teman-teman kita,” ucap Kakek Hork seakan benar-benar tahu akan apa yang seharusnya aku lakukan.


“Aku akan berjaga di sini selagi kau fokus mencari letak posisi dari energi mereka,” imbuh Kakek.


“Jika keadaan mereka sama dengan kita, aku harap mereka juga menyadarinya,” timpalku sambil memusatkan energi tenaga dalam ke seluruh tubuh.


Lebih tepatnya pada indera perasaku. Semoga saja salah satu di antara mereka mengeluarkan energi yang dapat aku lacak posisinya.


Ini memang cukup beresiko, tak hanya bergelut dengan waktu dan keberuntungan. Tapi ada hal lain yang patut aku waspadai.


Selain aku, para monster pastinya juga akan mengetahui posisi mereka dan posisiku.


Sebab pada dasarnya energi yang teman-teman keluarkan memang dapat aku temukan.


Tapi syaratnya adalah energi yang aku keluarkan harus menabrak atau berpapasan denganenerginya mereka.


Dari situlah aku akan tahu posisi mereka.


Untung saja aku bersama Kakek Hork yang merupakan penyihir kehormatan Kerajaan Dodrecth.


Jadi aku jadi lebih merasa aman karena dia berjaga di sekitarku.


Mungkin ini adalah kesempatanku untuk kembali berkumpul dengan Hans dan lainnya, aku tidak akan menyia-siakan kesempatan ini.


“Berjuanglah wahai anak muda, tangguhkan jiwa dan ragaku. Aku pasti akan menjagamu di sini.” Sebuah suara terdengar lirih di telingaku.


Aku tak dapat mendengarnya dengan jelas karena aku harus benar-benar fokus untuk mendapatkan posisi yang akurat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


WA : 08973952193


IG : bayusastra20

__ADS_1


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id


__ADS_2