Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 46 – Hidup dan Mati


__ADS_3

“«Tabiea», tolong pinjamkan kekuatanmu, rebutlah semua jiwa yang telah diselimuti oleh kegelisahan, kuatkanlah raga serta pikiran jiwa nan kosong, tunjukanlah «Qua»-mu pada tuanmu. Carsten Badlion!” Ucap Carsten merapalkan mantra ritual pemanggilan Senjata Roh.


Bersamaan dengan itu energi roh keluar dari tubuh Carsten membentuk suatu pola ukiran aura. Berwarna biru muda, cerah berkilauan, dan tampak menawan bagaikan birunya langit nan indah. Energi roh tesebut mengalir keluar dari kedua tangan Carsten. Begitu pula dengan energi roh yang tadinya terpusat pada kedua tanganya dan menampakan aura kebiruan, perlahan-lahan menghilang, seakan tersedot keluar dan membentuk pola ukiran tadi.


Tapi ritual ini berbeda dengan ritual pemanggilan {Senjata Roh Jiwa} yang dilakukan oleh Adellia. Waktu itu Adellia tampak sangat kesakitan dan terdapat sebuah pancaran cahaya yang menggila dan turun memasuki tubuh Adellia bagaikan sinar laser, lurus, cepat, dan berbekas.


Carsten terlihat begitu menikmati proses pembentukan dari {Senjata Roh Bintatang}, seperti tidak ada rasa sakit sedikitpun. Bahkan sekiranya yang dia rasakan sama seperti ketika sedang mengalirkan tenaga dalam, tak ada hambatan sedikitpun. Bagaikan air yang mengalir lepas di sungai, menuruni tiap undak-undakan bebatuan, hingga bermuara di laut lepas.


“Tetap pertahan pola pembentukan itu, Carsten.” Ucap Tetua Agamemnon.


Carsten mengangguk, hampir semua energi roh telah dia alirkan membentuk suatu pola ukiran aura. Paradigma itu berbentuk selayaknya bulan sabit kembar yang masing-masing berada di tangan kanan dan kiri Carsten dengan sebuah ganggan tabung kecil menyerupai sebuah gulungan kuno, mungkin itu digunakan sebagai pegangan dari {Senjata Roh Binatang} pertama miliknya.


(Tunggu! Itu bukanlah senjata tipe Dual-Sword. Melainkan bentuk sama seperti sebuah kipas, namun dengan ujung sebuah pedang melengkung...) Batinku.

__ADS_1


“Bentuk apa itu?” Tanya Son memecah keseriusan kami. “Bukankah tadi Tetua Agamemnon mengatakan kalau Alumni Carsten telah memilih bentuk Senjata Roh tipe Dual-Sword” Lanjutnya.


“Aku juga tidak tahu senjata apa itu.” Tuntas Hans juga terlihat sangat penasaran.


“Kalau dilihat-lihat dari bentuk pola dan bentuk dari aura yang ada di kedua tangannya, itu menyerupai sebuah kipas tangan. Tapi aku juga tidak begitu yakin, sebab...” Balas Aalisha, namun di tengah ucapannya dia berhenti berbicara.


Mendengar perbincangan dari mereka. Aku hanya mengangguk, tanpa mengeluarkan pendapat sedikit. Sementara itu Saigiri masih asyik dengan keseriusannya dalam memperhatikan setiap detail kejadian yang dilewatinya, tak lupa dia mencacatnya dalam sebuah buku catatan kecil dengan menggunakan pena mungil kesayangannya.


“Hey Saigiri.” Sapaku mencoba mengalihkan perhatiannya.


“Oh... aku dicampakan sekarang.” Gumamku sambil berupura-pura sedih.


“Sekarang bukan waktunya untuk bercanda, Kak. Seriuslah sedikit.” Melihat tingkahku Saigiri malah mengomeliku.

__ADS_1


“Hmmm... baiklah, baiklah. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Nanti jangan lupa untuk menyalin catatanmu untukku ya?” Tukasku seraya menyodorkan buku kecil.


“Apa?! Enak saja. Salinlah sendiri Kak, nanti aku pinjami catatanku. Ingatkan kata Tetua Agamemnon tadi, jangan bermalas-malasan di rumah.” Ucap Saigiri mengerucutkan bibir mungilnya.


Mendengar Saigiri mulai berceloteh, aku harus menghentikan pembicaraan ini. Aku tak mau menjadi korban ke dua setelah Hans dan Son dari kemarahan Guru Senjati. Kami kembali memperhatikan ke depan dan terlihat pancaran aura dari {Senjata Roh Binatang} Carten mulai memadat, sehingga tampak ukiran-ukiran aneh dari senjatanya.


“Bertahanlah, Carsten. Tetap jaga pembentukan {Senjata Roh Binatang} menggunakan ranah jiwamu serta tetap alirkan energi rohmu untuk memadatkan senjata itu.” Ucap Tetua Agamemnon yang tak jauh dari Carsten.


Perlahan namun pasti, Senjata Roh pertama Carsten memadat dan bentuknya semakin terlihat jelas. Ukiran-ukiran aneh tadi tampak sedang menggambarkan tulisan-tulisan yang sama seperti tulisan pada buku-buku kuno. Tampaknya itu adalah bahasa «Sansekerta», yakni bahasa kuno peninggalan para leluhur. Bahasa ini bagaikan bahasa langit yang tak mudah dipahami oleh kalangan rendahan semacam kami.


Keringat deras membasahi raut wajah Carsten, nafasnya pun mulai tidak teratur. Begitu pula warna mukanya memucat seakan jiwa dan kehidupannya tengah direbut oleh sesuatu.


"Tetua apakah ritual ini masih lama? Saya sudah hampir mencapai batas." Tanya Carsten sambil mencoba mengatur pernafasannya ulang agar bisa tetap dalam keadaan sadar.

__ADS_1


"Bersabarlah, sedikit lagi Senjata Rohmu akan segera jadi. Alirkan sedikit demi sedikit energi roh yang masih tersisa di dalam wadah rohmu. Namun sisakan sedikit di dalam wadahmu, agar kau tidak mati karena kehilangan ranah rohmu." Ujar Tetua Agamemnon.


(Mati? Kenapa ritual semacam ini bisa mengakibatkan kematian?) pikirku. Semua orang yang memadati aula berharap cemas dengan keadaan Carsten. Walaupun keadaan awal ritual seakan tidak akan terjadi apa-apa, namun sekarang Carsten tengah berada di antara hidup dan mati. Apa yang sedang terjadi, Tetua Agamemno masih terdiam dan tidak mengutarakan apapun. Tetua masih fokus dan membantu Carsten sebaik mungkin.


__ADS_2