Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 45 – Dual Sword


__ADS_3

“Senjata apa yang kau pilih?” Tanya Tetua Agamemnon.


“Saya memilih senjata dua buah pedang melengkung seperti bulan sabit menyerupai tanduk dari hewan itu.” Jawab Carsten.


“Jadi yang kau memilih Senjata Roh pertamamu dari tanduk [Kerbau Tanduk Sabit]. Baguslah, pilihanmu benar-benar cocok. Kau telah memilih Senjata Roh bertipe serangan.” Jelas Tetua Agamemnon.


“Kau telah memilih tipe senjata dual-sword, untuk sekarang kau tidak boleh hanya mengalirkan energi rohmu pada satu tangan saja. Melainkan kau harus bisa menyeimbangkan pengaliran energi roh untuk terpusat pada kedua tanganmu.” Imbuh Tetua Agamemnon.


“Kenapa harus seperti itu, Tetua? Bukannya tadi Tetua menyuruh saya untuk memusatkannya pada satu lengan saja?” Tanya Carsten.

__ADS_1


“Memang benar, namun itu kondisional. Aku kira kau akan mengambil senjata bertipe one-hand sword. Sebab dalam kehidupanmu sehari-hari, kau sering menggunakan senjata bertipe pedang yang dipegang dengan satu tangan. Tapi sekarang kenyataannya berbeda, kau tidak akan dapat membuat Senjata Rohmu jika hanya satu tangan saja yang kau alirkan energi roh.” Jelas Tetua Agamemnon.


“Selain itu kau masih belum dapat mengendalikan pembentukan Senjata Roh secara penuh, ranah jiwamu masih teramat lemah.” Imbuhnya.


“Lantas apa hubungannya antara energi roh serta ranah jiwa dengan pembentukan Senjata Roh?” Carsten berbalik tanya.


“Dalam pembentukan {Senjata Roh Binatang} membutuhkan energi roh dari hewan tersebut yang telah terserap dan menjadi satu karakteristik dengan ranah rohmu. Pada proses sebelumnya, kau telah melakukan penggambaran jiwa dari energi roh dengan bantuan ranah jiwa dan itu bertujuan untuk mengetahui jiwa serta inti roh makhluk apakah yang mendiaminya. Setelahnya bersama dengan energi roh dan ranah jiwamu, kau akan memasuki proses ritual pemanggilan {Senjata Roh Binatang}” Tetua Agamemnon menjelaskan panjang lebar mengenai hubungan antara semua proses yang telah dilalui.


“Terimakasih atas penjelasannya Tetua Agamemnon. Akan saya pusatkan energi roh untuk memenuhi kedua lenganku.” Tanda Carsten. Selang beberapa menit dia telah selesai dengan pemusatan energi roh tersebut. “Sudah selesai Tetua.”

__ADS_1


“Baiklah nanti kau coba ulangi perkataanku. «Tabiea», tolong pinjamkan kekuatanmu, rebutlah semua jiwa yang telah diselimuti oleh kegelisahan, kuatkanlah raga serta pikiran jiwa nan kosong, tunjukanlah «Qua»-mu pada tuanmu. Lalu sebutkan nama lengkapmu. Itu adalah rapalan mantra untuk memulai ritual pemanggilan {Senjata Roh Binatang}” Jelas Tetua Agamemnon.


“Ketika kau merapalkan mantra tersebut, hentakan energi roh yang sudah berkumpul pada kedua lenganmu untuk keluar dari tubuhmu dan memulai proses pembentukan Senjata Roh. Senjata Roh dapat dipanggil dan dibentuk menggunakan energi roh. Sebab itu semakin kuat energi roh kalian maka Senjata Roh yang kalian panggil akan semakin kuat.” Imbuh Tetua Agamemnon.


“Baiklah, bolehkah saya mencobanya sekarang?” Tanya Carsten tak sabar melihat Senjata Roh pertamanya. Apakah Senjata Roh tersebut benar-benar kuat atau hanya mitos belaka.


“Hahaha... silahkan, silahkan. Bahkan sebenarnya aku ingin kau mempraktekannya sekarang juga, agar kau bisa memberi contoh ke adik-adikmu.” Balas Tetua Agamemnon menyetujui permintaan dari Carsten.


“Tapi ingat dengan semua yang kuajarkan. Karena ritual pemanggilan {Senjata Roh Binatang} termasuk salah satu ritual yang sakral, jangan sesekali kau bercanda atau hilang konsentrasi dalam prosesnya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu jika kau tidak bersungguh-sungguh.” Tutur Tetua Agamemnon.

__ADS_1


Carsten mengangguk, tampaknya tak ada sedikit keraguan dalam jiwanya. Dia begitu yakin dan serius. Pikirannya sudah jauh melayang ke dalam ranah jiwa, tak lama lagi dia pasti akan merapalkan mantra yang sudah diberi tahu oleh Tetua sebelumnya. Energi roh tampak nyala membiru menyelimuti kedua tangan Carsten, begitu pula aura energi yang terpancar di sekiling Carsten membuat hawa udara meningkat serta mengangkat beberapa cuil debu lantai aula akademi yang tersisa.


“«Tabiea», tolong pinjamkan kekuatanmu, rebutlah semua jiwa yang telah diselimuti oleh kegelisahan, kuatkanlah raga serta pikiran jiwa nan kosong, tunjukanlah «Qua»-mu pada tuanmu. Carsten Badlion!” Ucap Carsten merapalkan mantra ritual pemanggilan Senjata Roh.


__ADS_2