Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 41 – Kekecewaan sang Raja


__ADS_3

"Lantas bagaimanakah cara untuk membentuk Senjata Roh, Tetua?” Tanya Carsten. Dia tidak sabar ingin segera dapat mendapatkan Senjata Roh pertamanya.


Begitu pula dengan murid-murid Akademi Bunga Hijau. Tujuan utama mereka datang dalam upacara pelapasan murid ini adalah untuk mendapatkan energi roh pertama serta mendapatkan Senjata Roh pertama pula dari Mutiara Roh.


Raja Achille juga terlihat bangkit dari singgasanya, tampak wajahnya dipenuhi oleh gambaran keingin tahuan tentang hal-hal yang baru didapatkannya dari dunia luar, atau lebih tepatnya Mutiara Roh tersebut adalah pemberian dari Kerajan Dordrecth. Bahkan dia sendiri sebagai Raja dari Kerajaan Laiquendi belum pernah sama sekali berurusan dengan bangsa-bangsa atau ras lain yang ada di benua nan luas ini.


“Ada yang bisa saya bantu yang mulia Raja Laiquendi, Raja Achille?” Hormat Guru Senjati ketika mengetahui Raja Achille beranjak dari singgasananya.


“Tidak ada apa-apa Guru Senjati, aku hanya tertarik dengan pembentukan Senjata Roh. Sebab menurut para tetua dan kitab kuno leluhur jika Senjata Roh tersebut telah mencapai tingkatan yang tinggi seperti {Senjata Roh Peringkat Emas Hitam}, maka kekuatannya akan dapat membelah hutan. Bahkan ada juga yang mengatakan jika tingkatannya yang lebih dari itu. Maka dengan satu tebasan,bulan pun dapat terbelah menjadi dua bagian.” Ucap Raja Achille menjelaskan sedikit pengetahuan tentang tingkatan dan kekuatan dari Senjata Roh kepada Guru Senjati.

__ADS_1


“Kekuatannya sungguh mengerikan sekali yang mulia.” Balas Guru Senjati, tampak seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Raja Achille. Mungkin dalam pikirannya akan bertanya-tanya tentang kebenaran hal tersebut, sekiranya dia membandingkan Senjata Roh dengan senjata pada umumnya dan hanya sedikit menaikkan perbedaan kekuatan dari kedua senjata tersebut.


“Apa kau meragukanku, Guru?” Ucap Raja Achille seraya menyisingkan senyum kecil.


“Tidak seperti yang mulia pikirkan.” Balas Guru Senjati terkekeh-kekeh melihat Raja Achille yang mungkin dapat membaca apa yang dia pikirkan. “Namun saya berpikir, apa mungkin kekuatan dari Senjata Roh semengerikan itu. Kekuatan tersebut bukanlah kekuatan yang normal yang mulia. Setidaknya kalau yang mulia mengatakan kalau Senjata Roh dapat memotong batu sebesar rumah, mungkin saya masih dapat menerimanya.” Tandasnya.


“Hahaha... apa ada keraguaan dibenakmu? Ini adalah ucapan yang keluar dari mulut rajamu, apa kau meragukannya?” Canda Raja Achille ramah. “Aku hanya menghormati petuah dari para leluhur, aku sendiri tidak dapat memastikan tentang kebenaran itu. Hanya saja aku sangat percaya bahwa di dunia ini tidak ada hal yang tidak mungkin. Apalagi dengan bakat dan kemampuan para Elf muda generasi sekarang. Mereka pasti akan segera mencapai tingkatan tersebut.” Lanjutnya sembari memandangi setiap murid.


"Tetapi aku sangat kecewa dengan Pasukan Bala Bantuan yang datang." Raja Achille melemparkan sedikit kekesalannya kepada Guru Senjati.

__ADS_1


Mendengar perkataan sang raja, Guru Senjati keheranan dan bertanya, "Kenapa bisa begitu yang mulia? Bukankah mereka telah membantu menyelesaikan pertempuran kita saat melawan Zardock?"


"Memang mereka membantu kita, tapi yang aku kecewakan adalah tak ada satupun dari mereka menghadapku atau setidaknya melaporkan sesuatu tentang keadaan di dunia luar secara langsung, bukan melalui surat-surat yang mereka titipkan kepada Tyaga. Bahkan surat sepenting surat undangan untuk mengemban ilmu di Akademi Teratai Ungu pun mereka tidak memberikannya langsung. Apa mereka terlalu sibuk, sehingga tak dapat mengirim satu pun utusan. Sungguh tidak diplomatik." Baru kali ini Raja Achille berbicara sebanyak itu.


Mendengar curhatan dari sang raja, Guru Senjati hanya mangut-mangut tak bisa berbuat apa-apa. Namun yang diucapkan Raja Achille itu sudah benar. Sebab secara resmi, surat undangan harus diberikan secara langsung atau mengutus seorang diplomatik untuk mengirimnya. itu juga menyangkut hubungan antar kerajaan, ajakan bergabung untuk menjadi satu kelompok Markas Pusat harus dilakukan secara formal. Bukan malah dititipkan kepada bocah sepertiku.


“Sekarang sekarang kita akan memasuki acara inti, inti dari segala inti setiap proses. Sudah waktunya bagi kita untuk memulai proses pembentukan Senjata Roh.” Ucap Tetua Agamemnon.


“Apa kau sudah siap, Carsten?” Tanya Tetua Agamemnon melirik Carsten serta mengulurkan tangannya.

__ADS_1


“Dari awal tujuan saya adalah membentuk Senjata Roh, saya sangat ingin tahu bagaimanakah kekuatan dari Senjata Roh. Dari setiap proses yang telah saya alami, saya sadar bahwa jika kita ingin menjadi lebih kuat, maka kita harus terus berlatih dan berlatih lebih. Agar kita dapat mengendalikan energi roh dengan leluasa dan terlebih lagi supaya kita dapat menyerap energi roh yang telah kita dapatkan secara maksimal.” Balas Carsten tidak ada keraguan sedikitpun di dalam hatinya.


“Bagus... bagus sekali Nak Carsten. Aku sangat mendukungmu dan teruslah berlatih. Sudah waktunya bagi kami, para orang tua tinggal menyaksikan perkembangan kaum muda dan tak lama lagi pasti kalian lah yang akan menggantikan kami.” Sabda Tetua Agamemnon.


__ADS_2