
[ Not Edited ]
“Bagaimana keadaannya?” tanya Adellia.
Ketika waktu sudah berganti malam, kesunyian dan kengerian merambat di tiap penjuru hutan. Begitu sepi dan dipenuhi oleh aura para monster. Sementara kuda-kuda telah mencapai batasnya dan sulit diajak berkompromi. Beberapa pasukan juga mengeluh kecapekan menunggangi kuda terus-menerus.
“Mohon maaf Nona.”
“Tidak apa-apa, kita istrirahat terlebih dulu di sini, tetap waspada dan hati-hati. Suruh pasukanmu untuk berjaga sekaligus beristirahat, dan untuk tim konsumsi bagikan makanan untuk mengisi energi, tapi ingatlah untuk tetap berhemat.” Adellia memerintahkan para pemimpin tim.
“Hans dan Son, aku minta tolong kalian ikutlah berjaga,” imbuhnya.
“Baiklah,” jawab mereka berdua serentak.
“Untukmu Tyaga, tetaplah fokus mendeteksi pergerakan para monster. Aku harap ketika ada pergerakan yang berpotensi akan adanya serangan, langsung laporkan ke aku.” Kini giliranku kebagian tugas darinya.
Aku mengangguk, kemudian mengikatkan pedang di pinggangku. Untuk berjaga-jaga ketika tiba-tiba ada pertarungan mendadak. Sebab aku hanya bisa seni berpedang dan bertarung.
“Kalau kau perlu bantuan, kau bisa meminta tolong ke Kakek Hork untuk menjagamu.”
“Lagi-lagi aku dipasangkan dengan Kakek tua sialan itu?! Apa tidak ada pasangan lain yang cocok denganku?” tanyaku berbisik pada hembusan angin yang lewat.
“Kau keberatan jika aku menjadi partnermu, Nak Tyaga.” Tiba-tiba sosok itu muncul dari belakangku dan mencengkram erat pundakku, sepertinya dia mendengar gumamanku.
Mau tidak mau, aku harus berpasangan lagi dengan Kakek Hork. Untungnya dia memiliki kekuatan sihir yang kuat, dengan julukan ‘Penyihir Kehormatan’ sudah pasti dia bukan penyihir biasa, dan dengan status itu rasanya agak menjengkelkan jika mengetahui kemampuan bersihirnya.
Lagi-lagi, Adellia memposisikan kami berdua di barisan paling belakang. Padahal aku ingin sekali berada di barisan depan, dengan begitu aku bisa lebih mudah berbincang-bincang dengan Saigiri. Belakangan ini aku tidak banyak memiliki waktu untuk berbicara dengannya.
Kalau tahu begini mana mungkin aku menerima undangan untuk hidup di kerajaan pusat. Lebih baik aku dan Saigiri tetap menetap di Kerajaan Laiquendi dan hidup seperti biasanya. Menghabiskan waktu bersama, entah itu mencoba resep makanan baru, ataupun berlatih di bawah rindangnya pohon dan selaksa cahaya rembulan.
***
Tanpa aku sadari kabut perlahan kian memekat di sekitar kami. Betapa terkejutnya aku, padahal beberapa menit lalu aku rasa tidak ada pergerakan monster yang mendekati kami, dan semua terasa normal-normal saja. Lantas mengapa sekarang kabut ini muncul kembali.
“Kek, lihatlah!”
Kepanikan mulai menjalar ke seluruh tubuhku, aku langsung memberi tahu Kakek Hork, dan menyuruhnya untuk melaporkannya ke Adellia.
“Maksudmu?” balas Kakek Hork dengan memasang raut wajah bingung.
__ADS_1
“Lihatlah sekelilingmu Kek. Kabut. Kabutnya Kek!”
“Kabut apa yang kau maksud? Aku tidak melihat apapun di sini.”
“Apa yang kau bilang?!” timpalku terkejut mendengar ucapannya. Bagaimana mungkin Kakek Hork tidak bisa melihatnya. Kabut sepekat ini pastinya dengan mudah dilihat dengan mata telanjang.
“Apa kau benar-benar tidak bisa melihatnya, Kek?” tanyaku sekali lagi untuk memastikannya tidak berbohong.
“Jangan bercanda kau, Nak Tyaga! Tidak sepertimu, mana mungkin aku bercanda di saat-saat genting seperti ini.” Dengan santainya dia malah memarahiku.
“Aku tidak bercanda Kek!”
Sial aku tidak tahu cara memberi tahunya yang sebenarnya terjadi. Aku juga telah menanyakan hal yang serupa ke pasukan lainnya dan anehnya jawaban mereka sama dengan Kakek Hork. Beberapa di antara mereka bahkan menganggapku bercanda dan Kakek Hork malah memarahiku agar tidak mengatakan hal yang tidak perlu untuk saat ini.
“Mana mungkin aku berbohong!” tandasku lalu meninggalkan mereka semua dan memastikan sendiri apa yang telah dan akan terjadi selanjutnya.
“Hey mau ke mana kau?!” ucap Kakek Hork mencoba menghentikan langkahku yang semakin tenggelam dalam gelapnya Hutan Laiquendi.
“Aku ingin mengeceknya sendiri! Kalau kalian tidak percaya maka aku mengatasinya dengan caraku!” balasku menatap satu persatu mata mereka dengan serius, tanpa ada secuil keraguan yang aku tampakan.
“Setidaknya kau jangan meninggalkan tugas yang diberikan kepadamu.” Sialnya Kakek Hork malah membalasnya santai dan berpikir aku hanya ingin lari dari tugasku.
“Lagi-lagi kau menyebut kabut, kabut mana yang kau maksud, wahai anak muda.”
“Kau tahukan jika tidak ada secuil kabut pun di sini kan?” imbuh Kakek Hork menuntaskan ucapannya sebelumnya.
Dari sorot matanya, tidak ada sedikit pun kebohongan yang aku lihat. Begitu pula denganku, aku juga tidak sedang berbohong. Sudah aku putuskan untuk mengeceknya sendiri. Namun aku sendiri masih belum yakin dari mana kabut ini berasal, apakah dari Majuu yang ingin menyerang kami sebelumnnya, ataukah dari monster lainnya.
Aura dan energi sihir dari monster itu sama sekali tidak dapat aku rasakan, meskipun begitu aku masih bisa merasakan aura-aura para monster lainnya yang berada di area kemampuan pendeteksiku. Jika ini memang kabut alam pada umumnya, mengapa Kakek Hork beserta pasuka lainnya tidak dapat melihatnya. Sungguh aneh bukan.
“Ada yang aneh, Tyaga?” ucap Zonics.
Aku tatap serius wajahnya, “jawab dengan jujur, apa kau melihat kabut di sekitar sini?”
“Tidak.”
“Lagi-lagi tidak, apa hanya aku yang dapat melihatnya. Sial,” umpatku.
“Tunggu, kau bilang ada kabut di sekitar sini?”
__ADS_1
“Iya, kau bisa melihatnya?” tanyaku memastikan.
“Sudah aku bilang tidak. Kalau benar ada kabut, pasti kita sedang gawat?”
“Tentu,” jawabku pasti.
Sebenarnya aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladeninya. Aku pun memutuskan untuk mengajaknya mengecek dari mana kabut ini berasal. Sebelumnya aku ingin menemui Saigiri terlebih, sebab hanya dia yang memiliki kemampuan pendeteksi sepertiku.
Semoga saja dia tidak memberi jawaban ‘tidak’. Setidaknya dengan suaranya, aku bisa memastikannya bahwa aku sedang tidak bermimpi, dan bersiap akan semua kemungkinan yang akan terjadi ke depannya. Aku juga akan memberi tahu Adellia, jika aku dapat membuktikannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
" S T A Y - S A F E "
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id
__ADS_1