
“Ada apa?” Kakek Hork memulai pembicaran.
“Apa kau ingin melanjutkan pertarungan kita,” imbuhnya.
“Sial! Aku datang ke sini bukan untuk itu,” balasku seraya mengendorkan kepalan tangan.
Kakek Hork tersenyum melihatku salah tingkah. Dia kemudia menyuruhku untuk duduk di sampignya.
Kemudian memasukkan cincin ke dalam jubah yang dia kenakan sebagai tanda dia tidak akan menyerang ataupun menggunakan sihirnya.
Mana mungkin, tentu saja aku tahu kalau dia juga dapat mengeluarkan tanpa perlu menggunakan cincin sihir.
Sudahlah tak perlu terlalu memikirkannya, bukankah aku ke sini untuk meminta penjelasannya.
“Jadi? Kenapa kau memiliki kristal-kristal penghalang itu,” tanyaku setelah mengatur posisi duduk.
“Memang benar di Kerajaan Laiquendi ada banyak kristal berjejer di sepanjang pembatas, tapi aku tak mengambilnya satu pun," ucap Kakek Hork.
"Aku juga telah menolak pemberian dari Raja Achille, sebab aku tahu kalau kristal ini sangat penting bagi kerajaanmu,” Dia mengakhiri ucapannya dengan menjelaskan semua, tapi itu bukan jawaban dari pertanyaanku.
“Bukankah ada yang masih Kakek sembunyikan dariku?” tanyaku sekali lagi.
“Padahal kau sendiri masih memiliki rahasia yang kau sembunyikan.” Sorot mata Kakek Hork tajam melirikku.
GLEK... Ludah nan keluh aku telan mentah-mentah.
Mungkinkah dia ingin mengungkit pembahasan tadi, di saat aku mengambil ranting-ranting pohon.
“Iya.” Sepatah kata terucap dari bibirnya yang sudah keriput. Dia tahu apa yang sedang aku pikirkan.
“Kau pasti sudah tahu ke mana arah perbincangann ini. Bukankah aku memaksamu untuk bicara, hanya saja aku ingin tahu kenapa tingkahmu cukup aneh,” imbuh Kakek Hork mendesakku.
“Apa yang sedang kau bicarakan Kek. Aku malah berpikir lari dari pembahasan kita.” Aku tak ingin kalah dengannya, dia juga belum bicara sejujur-jujurnya.
“Kalau begitu mana mungkin aku memberi tahumu jika kau sendiri tak ingin memberi tahuku. Impas bukan?”
Dengan santainya Kakek Hork melontarkan kalimat itu.
Benar juga, kalau aku boleh penasaran pastinya dia juga boleh penasaran. Memang impas, tapi permasaalahn yang kami hadapi cukup berbeda.
Masalahku berhubungan dengan identitasku dan mungkin kelak aku akan dianggap aneh, jadi ingat masa lalu.
Namun masalahnya jelas berbeda denganku yang hanya seputar kristal penghalang.
Terlebih dia juga sudah jujur jika tidak mengambilnya dari Kerajaan Laiquendi.
Cukup lama kami saling membisu, tak ada percakapan lagi yang terucap dari mulut masing-masing.
__ADS_1
Kakek Hork terlihat asik memainkan kristal di tangannya, kenapa dia begitu santainya, padahal dia juga belum menguak kebenaran dariku.
Sementara aku malah masih terpaku pada pikiran yang dipenuhi oleh pertanyaan. Orang dewasa cukup menyeramkan.
“Tuan Tyaga!” Seorang kesatria menghampiriku.
Oh itu salah satu kestaria yang tadi aku suruh untuk membatalkan sihir penghalang.
Dia datang menemuiku dan memberi tahukan bahwa dia berhasil menyakinkan titik lainnya untuk membatalkan sihir tersebut serta mengambil kristal-kristal.
Dia lantas memberikannya kepadaku dan aku juga cukup berterima kasihnya padanya.
“Apa yang kau lakukan!” geram Kakek Hork.
Setelah mengetahui apa yang di bawah oleh kesatria adalah kristal-kristal penghalang yang sebelumya telah dia berikan ke penyihir.
“Mohon maaf Tuan Hork,” ucap kesatria itu seraya membungkukkan badannya.
“Tetapi Tuan Tyaga memintaku untuk membatalkan sihir itu dan disuruh menyerahkan seluruh kristal penghalan,” lanjutnya seraya memberikan kristal itu ke pemilik aslinya, Kakek Hork.
“Jadi yang membuat kita semua dalam bahaya adalah dirimu, Kakek Hork!” timpalku meninggikan suaraku.
“Bahaya?! Bukankah jelas-jelas aku ingin melindungi kalian semua dengan kristal-kristal ini,” balas Kakek Hork dengan napas tersendat-sendat.
Aku pun menjelaskan semua dari awal agar tidak menimbulkan keributan dan urusanku dengannya cepat selesai.
Awalnya aku mengira itu hal yang wajar, sebab sehari-hari aku juga merasakannya ketika berburu atau berlatih di area hutan.
Namun itu masih di sekitar kerajaan hutan dan kalaupun aku bertemu monster itu pasti monster dengan peringkat paling rendah. Jadi lebih mudah untuk mengalahkannya.
Disaat di area pegunungan, sebenarnya aku lagi-lagi merasakan energi yang tak enak.
Namun energi itu bukanlah energi membunuh, sekadar energi kewaspaan.
Mereka, kawanan monster yang ada di Hutan Laiquendi hanya menunjuk hawa keberadaannya saja dan tak ada maksud sedikitpun untuk menyerang kami.
Mereka hanya waspada akan kehadiran kami, bagi mereka kami mungkin seperti tamu yang tanpa ijin masuk ke rumahnya. Di pegunungan, hal itu sudah diatasi oleh Hans.
Sayangnya monster yang menguasai kawasan itu belum menyetujui kami untuk memasuki daerah kekuasaan.
Sebab itu pada saat perundingan mencari jalur baru aku sama sekali tidak mengusulkan untuk kembali mengambil jalur pegunungan dan lebih memilih jalur mengikuti aliran sungai.
Aku merasakan jika jalur ini aman dan banyak aura atau energi monster menyelimutinya. Ternyata dugaanku salah.
“Salah?” Sepatah kata diucapkan oleh Kakek Hork dan kesatria.
Mereka berdua tampak antusias mendengarkan ceritaku, tanpa bergeming sedikit pun.
__ADS_1
Biarlah, aku harus menceritakan semua, ini juga demi kebaikan bersama.
Iya. Salah. Semakin kita masuk ke kedalaman Hutan Laiquendi. Energi yang aku rasakan sebelumnya tumbuh semakin kuat dan menyeramkan.
Memang tetap energi yang aku maksud bukanlah energi membunuh, tapi kewaspadaan mereka terlalu berlebihan.
Hingga aku beberapa kali dapat merasakan tatapan mata merah menyala dari balik semak-semak atau di antara sela-sela pohon.
Cukup mengerikan bukan.
Ketika merasa diawasi oleh sesuatu, tapi saat kita menengok tak mendapati apa-apa. Hanya meninggalkan berkas bayangan gelap dan kilasan cahaya merah menyala.
Ya. Mungkin gerakannya cukup cepat sehingga kita tak dapat melihat sosoknya.
Selain itu jauh dalam hutan ada sosok monster yang cukup kuat sedang mengawasi kita dari kejauhan.
Tak hanya satu, tapi ada beberapa energi lainnya yang tak kalah kuat sehingga semua dapat aku rasakan.
“Intinya? Apa salahnya jika kita memasang penghalang?” tanya Kakek Hork.
Tampaknya dia belum mengetahui sebenarnya apa yang aku maksud. Di lain sisi si kesatria masih tampak fokus memandangiku seraya mencerna satu persatu perkataanku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
__ADS_1
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id