Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 85 – Menggoda Adellia


__ADS_3

Malam berganti pagi, embun mengembang bulat bersembunyi di balik lipatan daun.


Beberapa meluncur deras dari ujung batang hingga jatuh membasahi tanah, terserap dalam akar.


Dari ufuk timur, sang surya tampak gagah membentang menyinari bentala, cerah nan hangat membangunkan para makhluk seraya membisikkan ‘pagi telah tiba’.


Tapi berbeda dengan hewan noktural, bagi mereka munculnya matahari adalah pertanda waktu tidur telah datang.


Hoaam... Son menguap karena masih tak kuasa menahan rasa kantuk padahal dia mendapat jadwal jaga di awal-awal.


Namun dia beralasan tidak dapat tidur karena saat jaga dia selalu mendapat gangguan dari makhluk-makhluk yang ada di hutan.


Sedangkan gangguan baru semakin terasa ketika malam semakin larut dan cahaya api unggun semakin redup karena api telah kehabisan ranting untuk dilahapnya.


Tetap saja Son tidak bisa tidur, meskipun dia sudah berusaha memejamkan matanya beberapa kali.


“Salah kau sendiri kenapa tidak tidur,” gumamku seraya membangunkan lainnya.


Untungnya aku mendapatkan sif jaga dini hari, jadi aku bisa tidur nyenyak di malam harinya.


Sebab ketika hari telah berganti gangguan itu mulai mereda dan energi yang aku rasakan pun tidak sebesar ketika malam hari.


Aku mengemasi beberapa hidangan yang disiapkan untuk berjaga, setelahnya aku meminta Son untuk membangunkan Hans dan mengemasi perkemahan.


Sudah waktunya untuk kembali melanjutkan perjalanan.


Aku pun menuju ke hilir sungai untuk mencuci piring sekalian membasahi wajahku. Sebab kemarin aku belum sempat mandi malam terasa begitu gelap.


Begitu Kakek Hork menjelaskan mengenai Majuu yang sedang mengawasi kita dari balik-balik bayang.


Tak ada satu pun dari kami yang berani keluar dari area yang terkena cahaya dari api unggun.


Bahkan Aalisha yang acuh tak acuh pun enggan untuk ke belakang kereta kuda guna mematikan api dan mengemasi peralatan memasak.


Ujung-ujungnya aku yang harus mengurusnya semua. Memang aku tak keberatan, tapi setidaknya berilah Saigiri untuk membantuku.


Biarpun Hans tidak melarangku mengajaknya, aku sendiri tak rela membangunkannya se pagi ini.


Setidaknya dia bisa beristirahat lebih lama agar dia tidak kecapean. Sekiranya hari ini akan menjadi perjalanan yang cukup panjang.


“Apa yang kau lakukan di sini,” ucapku berlagak dingin.


Aku terkejut ketika mendapati ada orang lain di belakang kereta kuda.


“Apa mungkin kau kelaparan dan sedang mencuri sisa-sisa makanan kemarin malam?” tanyaku sekali lagi.


“Enak saja!” bentaknya meleparkan sebuah sendok ke arahku.


“Aku sedang mengemasi peralatan masak...” gumamnya lirih.


“Hah?! Kau bahkan kemarin tidak ikut andil dalam memasak dan terlebih saat kau membawa mangkuk sup, itu sungguh berantakan. Banyak sup yang terbuang sia-sia,” ucapku seraya menangkap sendok itu dengan kedua tanganku.


Sendok itu melayang jauh di atas dan aku harus meraihnya sambil sedikit melompat.


“Itu... itu... itu adalah pertama kalinya aku memasak bersama teman-teman, jadi aku kemarin cukup bersamangat dan tanpa sadar langsung membawa sup yang masih panas,” gumamnya meminta maaf.

__ADS_1


“Aku tak tahu jika harus menunggu sup dingin terlebih dahulu baru boleh mengangkatnya." Dia bertingkah seakan sedang mereka ulang kejadian kemarin.


"Bahkan kemarin aku juga sempat dimarahi Saigiri karena melihat tanganku sedikit melepuh,” imbuhnya seraya memamerkan kedua telapak tangannya.


Aku malah penasaran dan ikut mengecek telapak tangannya. Sekilas memang terlihat ada beberapa kulit yang melepuh tapi itu bukan luka yang parah.


Aku bilang padanya jika luka itu mudah untuk disembuh, cukup dengan diludahi saja.


Lucunya Adellia menanggapi perkataanku dengan serius, dia lalu meludahi kedua telapak tangannya dan meratakannya hingga mengolesi seluruh bagian telapak tangan.


Aku pun dibuat terbahak-bahak melihat tingkahnya yang polos itu.


“Hei, kenapa kau malah tertawa! Bukankah aku melakukan sesuai omonganmu?” tanya Adellia menatapku curiga, berpikir ada yang aneh dari gerakannya.


“Ternyata kau lebih mudah dibodohi daripada membodohi seekor tupai. Hahaha....” tawaku terpingkal-pingkal.


“Sial! Kau membodohi.” Adellia tampak marah ketika dia tersadar kalau itu semua hanya tipuanku.


“Sudah-sudah.. jangan mempermasalahkannya,” ucapku menenangkannya seraya mengendalikan diri agar tidak larut candaan.


“Ayo kita sama-sama ke hilir, kita akan mencucinya terlebih dahulu sebelum mengemasnya,” ajakku memperlihatkan beberapa piring kotor.


“Baiklah...” balasnya tenang dan membawa beberapa peralatan masak.


Dia juga memintaku untuk membawa sisanya. Aku pun mengiyakannya, lalu mengambil sisanya.


Sebelumnya aku juga memintanya untuk menunggu sebentar, aku ingin menimbun sisa-sisa kayu bakar dengan pasir.


Aku pun mengajaknya bergegas menuju hilir sungai. Adellia tampak masih kesusahan membawa peralatan-peralatan yang ada di kedua tangannya.


Mungkin aku dapat membiarkannya, sepertinya dia merasa terhina sehabis aku mengatakan jika dia tidak pernah ikut membantu urusan memasak.


Adellia sungguh memiliki harga diri yang tinggi, tak hanya sebagai pemimpin pasukan melainkan juga sebagai wanita.


Sepertinya aku agak bisa memahaminya.


“Kalau tidak keberatan, kau boleh kok sekali-kali memasakan kami sebuah makanan,” ucapku santai yang berjalan di sampingnya.


Dia sejenak terdiam, lalu melanjutkan langkahnya.


“Walaupun nantinya aku juga tidak tahu...” lanjutku, namun menghentikannya di tengah-tengah kalimat.


“Tidak tahu apa?” tanya Adellia menoleh ke arahku.


“Ya, itu... apakah makanan yang kau masak layak dimakan atau tidak,” balasku seraya mempercepat langkah meninggalkannya.


“APA YANG KAU BILANG! DASAR SIAL!” Adellia terlihat sangat marah dan berusaha untuk mengejarku.


Sebentar lagi mungkin aku akan mati di tangannya. Selamat tinggal dunia.


***


“Dari mana saja kau Kak,” tanya Saigiri menghampiriku, lalu membantuku membawa satu per satu peralatan memasak.


Padahal dia sendiri sudah tahu jika aku habis dari mencunci di sungai bersama dengan Adellia.

__ADS_1


Aku dapat melihatnya dari kejauhan, dia menungguku di belakang kereta kuda.


Meskipun dia tidak sadar jika aku mengetahui dan mengamatinya tingkahnya cukup lama dari sela-sela pepohonan. Aku juga tahu dia sedang berpura-pura.


Jelas sekali dari postur tubuhnya yang tengah berdiri sambil menyilangkan kedua kaki dan menyenderkan tubuhnya di sebatang pohon.


“Kenapa wajahmu penuh memar Kak. Apa Kakak terjatuh di sungai,” ucap Saigiri memperhatikan luka di wajahku dengan seksama.


“Oh ini, mungkin kau bisa menanyakan sama orang yang ada di belakang kita,” balasku melirik ke arah Adellia.


Dia sepertinya sudah merasa puas memukuli tadi, jadi semua ucapanku tidak lagi terlalu berefek padanya.


Adellia pun melesat meninggalkanku dan Saigiri.


“Ada apa dengannya, kenapa wajahnya tampak cemberut,” ucap Saigiri melihatku, lalu berganti menoleh Adellia yang sudah hilang masuk ke dalam kereta kuda.


Terlihat di dalam Adelli lagi merapikan peralatan masak dengan bersusah payah dan beberapa kali mengganti posisinya.


“Kau bisa menanyakan sendiri padanya, ini ambil dan bicaralah dengannya,” balasku memberikan sisa piring yang ada di tanganku.


“Aku ingin menemui Hans,” lanjutku lalu meninggalkannya bersama Adellia.


Saigiri mengangguk dan masuk ke dalam kereta, dia cukup penasaran dengan yang baru terjadi.


Padahal aku hanya menggoda Adellia dan berujung dengan mendapatkan luka lebam sebanyak ini.


Entah apa yang ada di dalam pikiran Adellia hingga tega membuatku babak belur.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


WA : 08973952193


IG : bayusastra20


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id

__ADS_1


__ADS_2